
Siang hari sebelum jam makan siang, Aldrich telah menyelesaikan pekerjaan nya sehingga ia bisa pulang lebih cepat, ia segera menyimpan berkas berkasnya sebelum meninggal kan ruang kerjanya. hari ini tidak ada meeting lagi, jadi ia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah agar dapat segera bertemu dengan istri tercintanya. ah, istri tercinta. Sejak tinggal bersama sama, ia semakin jatuh hati kepada sang istri.
"Dela, nanti kalau ada yang mencari saya, bilang saja saya sudah pulang dan suruh menemui saya besok saja" pesan Al kepada sekretaris nya sebelum pergi
"baik pak... " jawab Dela mengangguk
setelah itu Al langsung meneruskan langkah nya untuk segera ke parkir an.
setelah sampai di parkir an dan masuk ke dalam mobil, Al segera melajukan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan sedang, di tengah tengah perjalanan menuju ke rumah ia melihat toko bunga kemudian menepikan mobilnya dan berhenti di depan toko bunga itu.
'sepertinya toko ini baru' Al melihat sekitar toko bunga itu, dan ternyata dugaannya benar bahwa toko bunga itu memang baru, karena beberapa kali ia melewati jalan itu, tapi toko itu belum ada.
'sekali kali ngasih bunga ke istri boleh lah' Al segera turun dari mobil kemudian menghampiri karyawan toko bunga itu.
"selamat datang... silahkan mau pesan bunga apa? " tanya seorang wanita dengan ramah.
"emm.. apa ya" Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung ingin membeli bunga seperti apa untuk Dinar karena ia tak tahu bunga kesukaan istrinya itu.
"bisa saya bantu, kalau boleh tahu bunganya untuk siapa ya tuan, nanti saya bantu pilihkan" pelayan toko itupun memberikan masukan karena melihat gelagat Al yang kebingungan
"tolong buatkan bucket bunga yang cocok di berikan untuk istri ya mbak, buat sebagus mungkin" ucap Al.
pelayan toko itupun mengangguk "baik tuan, mohon di tunggu sebentar " pelayan itupun menggiring Al untuk duduk di salah satu kursi yang memang di sediakan disana.
Al berulang kali mengecek ponselnya, barangkali sang istri kembali menghubungi dirinya, karena rindu, misalnya.
"mungkin dia masih sibuk, biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan, aku tahu dia pasti hampir ma ti kebosanan di rumah setiap hari tanpa melakukan apa apa" Al lantas memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas nya. ia menyapu pandangan melihat sekeliling yang banyak sekali macam macam bunga sembari menunggu pesanannya di buat.
Brukk
Al melihat seorang anak kecil berusia sekitar 2 tahunan yang tengah berlari lari kemudian terjatuh, tak berselang lama kemudian seorang wanita yang Al taksir adalah pengasuhnya karena pakaian yang ia kenakan datang dan langsung menenangkan bocah kecil itu.
Al hendak mendekat namun ia urungkan sebab pelayan toko tadi memanggil dan memberi tahu jika pesannya telah selesai di buat. sebelum ia menuju meja kasir, ia kembali melihat ke arah anak kecil tersebut, ia sedikit tertegun ketika melihat wajah anak lelaki yang barusan terjatuh, ia merasa sangat familiar dengan wajah itu, namun Al tak ingat ia mirip dengan siapa.
"Terima kasih mbak, bunganya sangat indah" ujar Al setelah selesai membayar tagihannya. Al menatap bunga yang ada ditangannya sembari tersenyum ia membayangkan ekspresi sang istri ketika mendapatkan bunga darinya.
"sama sama tuan, semoga istrinya suka" ucap pelayan itu ramah.
tak ingin berlama lama di jalan, Aldrich segera melajukan kembali kendaraannya menuju kediaman utama.
setelah beberapa menit berkendara, Al kini telah sampai di teras rumahnya. tak lupa ia membawa bunga yang tadi ia beli dan menggenggam nya kemudian menyembunyikan di balik punggungnya. Ia segera masuk kemudian mencari keberadaan sang istri yang ia perkirakan jika Dinar masih berada di dapur karena terdengar sayup sayup suara berisik dari arah dapur.
"assalamu'alaikum sayang... " salam Al dari arah belakang Dinar yang tengah menata makanan di atas meja.
"loh mas, kok disini? " tanya Dinar heran sebab ia kira sang suami masih bekerja di kantor.
"untukmu... " Al segera memberikan bucket bunga itu kepada sang istri.
"haahh... " mommy Citra dan Bella sontak melotot tak percaya dengan sikap manis yang di tunjukkan oleh Al kepada Dinar.
sementara Dinar mengembangkan senyumnya kemudian meraih bucket bunga itu "cantik banget mas, wangi lagi maksih ya" Dinar menci umi bunga yang di berikan oleh sang suami hingga membuat Al menganga tak percaya.
"apa tidak salah Din, bukannya kebalik ya. harusnya aku yang di ci um bukan bunganya, kan aku yang bawa itu bunga" Al sedikit kecewa karena sang istri nampaknya tidak peka akan dirinya.
"a aahh i-itu.. em, mas mending ke kamar deh, kalau nggak ke kantor lagi lebih baik segera berganti pakaian biar lebih santai" ucap Dinar nampak gugup. jujur selama pernikahan bersama Aldrich ia belum pernah sama sekali di sentuh oleh sang suami, Al hanya akan memberikan kecupan singkat di pipi ataupun keningnya sebagai tanda kasih sayang darinya, tidak lebih dari itu.
"cium dulu baru aku ke kamar" ucap Al frontal tanpa memperdulikan ibu serta saudarinya yang juga ada disana.
cup
Dinar segera mengecup pipi sang suami agar nanti ia tidak ngambek karena keinginannya di tolak.
"sudah kan, sudah sana ke kamar, aku lanjutin siapin ini dulu, kalau sudah selesai nanti aku panggil" seru Dinar sembari mendorong pelan suaminya itu.
"baiklah, aku ke kamar dulu, Terima kasih sayang" ucap Al memegangi pipinya yang di kecup oleh sang istri.
sedangkan Dinar bernafas lega, akhirnya ia terbebas dari sang suami, ia kemudian melihat ke arah mommy Citra dan kakak iparnya, Bella yang tengah senyum senyum ke arahnya.
"ciiee dapat bunga nih yee.... " goda Bella, membuat Dinar kembali bersemu.
"ehemm.. sudah jangan di lihatin terus, bunganya nggak akan lari kok" mommy Citra pun turut menggoda menantunya itu.
wajah Dinar semakin memanas mendengar godaan dari mertua serta iparnya itu
"kita lanjutin masaknya mom" ucap Dinar, ia bahkan sampai terlupa jika masakan semua telah selesai di masak, hanya tinggal menunggu yang lainnya berkumpul.
mommy Citra dan Bella saling lirik kemudian tertawa pelan. "gini nih kalau salting, masakan sudah siap semua, pake ngajakin masak lagi" seloroh Bella
"oh iya ya, ya sudah Dinar panggil mas Al dulu kalau begitu" Dinar menepuk jidatnya, ia segera berbalik kemudian sedikit berlari menuju tangga untuk menghampiri sang suami yang ada di kamar, sekaligus menghindar dari Bella yang terus terusan menggodanya. bahkan ia langsung berlari setelah mengatakan hal itu tanpa menunggu jawaban dari mertua ataupun iparnya dulu.
"yahh... salting dia.. " ujar Bella sembari tertawa melihat tingkah lucu Dinar.
"sudah, seneng banget godain adiknya" tegur mommy Citra. padahal ia juga sama, ikut menggoda Dinar, sang menantu.