
Di tempat lain, di sebuah restoran yang berada di pusat kota Luna tengah duduk satu meja berseberangan dengan seorang pria muda nan tampan.
Luna melengos ketika pria itu menatapnya dengan lekat, bahkan tak sedetik pun pria itu mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
Abian, ya laki laki itu ialah Abian, setelah berminggu minggu ia selalu mengawasi dan mengintai Luna, kini dengan leluasa dirinya dapat bertatap muka secara langsung dengan wanita yang selama ini membayangi hidupnya.
teringat beberapa waktu setelah pertemuan pertamanya dengan Luna di toko bunga, akhirnya dengan terang terangan Abian menceritakan masalalunya kepada ibunya dengan wanita itu.
"apa yang sekarang ini kamu ingin kan? " tanya Luna datar. ia tak ingin berbasa basi dengan pria yang sudah menoreh luka di hatinya.
"Leo. Dia anak ku kan? " tanya Abian, sontak saja pandangan Luna langsung tertuju ke arah Abian, ia sedikit terkejut ketika Abian menyebut nama putranya dengan lugas, bahkan mempertanyakan sesuatu yang sensitif kepada dirinya.
"heehh... " Luna sedikit terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mu lut Abian demi menyembunyikan rasa gugupnya.
"pertanyaan apa itu tuan, apakah anda sedang bergurau? "
"ck, Aku serius Lun, jadi benar kan, Leo, pria cilik itu anak ku kan? "
"anda jangan mengaku ngaku begitu tuan Abian yang terhormat, Leo itu anak saya bukan anak anda! " seru Luna sedikit meninggikan suaranya.
untung saja mereka berada di ruangan privat, jadi tak ada yang mendengar suara Luna yang meninggi selain Abian
Abian dapat melihat dari mata Luna yang berkaca kaca, ia lantas meraih dan menggenggam dengan erat tangan wanita itu.
"Luna... " lirih Abian menatap sayu wanita di hadapannya
sedangkan Luna hanya terdiam, lidahnya seolah kelu menanggapi panggilan dari Abian
"maaf, maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu, maaf karena aku telah menoreh luka di dalam hati mu, maaf atas tindakan ku, aku mohon maafkan aku, aku akan bertanggung jawab kepada mu dan juga Leo"
Luna melepas genggaman tangan Abian, ia yak lagi menanggapi pria itu, dengan segera ia beranjak pergi tanpa berpamitan kepada Abian.
padahal rencananya malam ini ia ingin menyelesaikan sekaligus menegaskan kepada pria itu untuk tidak lagi mengganggu hidupnya, namun nyatanya setelah kembali bertemu, ia tak bisa meluapkan emosinya, justru lidahnya seakan terasa kelu untuk sekedar memaki pria yang pernah masuk ke dalam hidupnya di masa lalu.
wajah itu, wajah yang sangat mirip dengan sang putra, membuat Luna tak bisa memaki pria itu karena ia akan teringat putranya di saat yang bersamaan.
Luna berjalan cepat meninggalkan restoran dengan Abian yang masih menatap sendu kepergiannya.
"tidak tidak, lebih baik mereka tak bertemu, aku takut Leo akan di bawa paksa oleh Abian jika aku mempertemukan mereka berdua" lirih Luna sembari menunggu taksi.
sementara di dalam restoran Abian menatap sendu ke arah Luna yang berjalan semakin menjauh, niat hati ia ingin meminta maaf secara langsung kepada Luna, tapi belum sempat ia membicarakan intinya, Luna sudah lebih dahulu pergi meninggalkan dirinya sendiri.
ia kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Flashback on
Abian datang ke sebuah restoran untuk bertemu dengan temannya, namun ketika dirinya hendak masuk ke dalam, ia melihat siluet dari lantai atas, disana ada sebuah pesta kecil dengan sepasang pria dan wanita tengah saling berpandang pandangan di bawah cahaya rembulan.
ia menoleh sekilas ke atas kemudian melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam restoran.
ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan temannya itu, namun ia tak menjumpai.
'kemana dia! '
akhirnya Abian menelepon temannya, dan ternyata teman yang di cari tengah menunggu di lantai 2.
mau tak mau Abian harus naik ke lantai 2 untuk menemui temannya itu.
ketika sampai di lantai 2 restoran, Abian semakin jelas melihat seorang wanita bersama seorang pria yang sempat ia lihat dari bawah, ia sedikit terkejut melihat wanita itu.
"Luna... jadi dia sudah memiliki kekasih lagi.. " Abian tersenyum hambar melihat ke arah Luna dan Aldrich.
tak ingin melihat kemesraan wanita dari masalalunya, Abian segera mendatangi temannya untuk membicarakan suatu hal.
hampir 1 jam mereka bertemu kemudian teman Abian pun pamit untuk pulang lebih dahulu karena ada kepentingan lain, Abian duduk termenung di kursinya, menatap wanita yang masih duduk bersama kekasihnya.
"bagaimana bisa dia mencari pengganti ku secepat itu" gumam Abian.
'Bukankah itu Aldrich, jadi sekarang dia bersama lelaki itu. tak akan ku biarkan kalian bersama lagi"
kemudian muncul niat jahat di kepalanya, tanpa menunggu waktu lama, setelah Luna di antarkan pulang oleh kekasihnya, Abian mengikuti mereka dari kejauhan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan diantara mereka.
setelah Abian tahu alamat Luna yang baru, ia segera menyusun rencana.
keesokan harinya, setelah satu harian ia mengikuti Luna, hingga wanita itu keluar dari mall dan menuju parkiran. ia memiliki kesempatan yang bagus untuk mendekati wanita itu, di saat Luna baru akan masuk ke dalam mobilnya, dengan cepat Abian membekap mu lut Luna dengan sapu tangan yang sudah di beri obat tidur. kemudian langsung menggendong dan menidurkan Luna ke dalam mobilnya.
kini Abian telah duduk di kursi kemudi, ia menoleh sebentar ke arah Luna yang sudah tak sadarkan diri di kursi belakang, bibirnya tersungging sinis menatap ke arah Luna.
'bagus, karuan saja sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, aku akan membalas sakit yang di rasakan ibu ku dengan mengorbankan kekasihmu'