OH MY WIFE

OH MY WIFE
11



Setelah selesai sarapan Citra memutuskan untuk langsung pulang, ia segera berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya makan tadi, untung saja semua bahan masakan sudah selesai ia beli jadi Citra tidak perlu lagi kembali ke dalam pasar.


ia segera menyalakan mobilnya kemudian bergegas untuk pulang, hari ini Azura beserta keluarga kecilnya akan pulang ke kediamannya sendiri setelah hampir dua minggu berada di rumah kedua orang tuanya. maka dari itu Citra pagi ini memutuskan untuk pergi berbelanja di pasar sendiri, karena rencananya malam nanti sekeluarga besarnya akan mengadakan acara bakar bakar di taman belakang rumah.


berbicara soal pergi ke pasar sendiri, sepertinya ada yang mengganjal di hati Citra, namun ia tidak tahu itu apa, setelah lama berfikir ia pun tersentak laget hingga dengan sengaja ia berhenti mendadak


ciittt


untung saja di belakang tidak ada kendaraan yang mengekor sehingga dirinya dirinya bisa bernafas lega.


'untung saja... ' gumamnya kemudian ia terdiam menoleh ke arah spion yang berada tengah.


"astaga, Bella ketinggalan di pasar" pekik Citra yang baru teringat jika putri sekaligus sahabatnya masih ada di pasar. gegas ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tas kemudian mengecek ponselnya, dan benar saja puluhan panggilan telepon masuk dari Bella, bahkan Bella juga mengirim banyak pesan.


dengan cepat ia menghubungi kembali Bella untuk menanyakan keberadaannya


tut


tut


"hallo mommy kamu dimana sekarang, masak ninggalin aku disini sendirian sih? " pekik Bella di seberang sana


"ya ampun Bella maaf, tadi aku bener bener lupa kalau aku ke pasarnya sama kamu, sekarang katakan kamu dimana, apa masih di pasar? " tanya Citra


"masih di pasar aku mom, ini lagi pesen makanan, laper tauk nyariin mommy yang ternyata udah pulang duluan" Bella mendengus sebal


"ya sudah kalau begitu aku putar balik, kamu di sana saja jangan pergi kemana mana" pesan Citra kemudian memutuskan sambungan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Bella terlebih dahulu, ia yakin Bella akan makan di tempat yang ia ia kunjungi sewaktu makan bersama Dinar, sebab warung itu adalah warung langganan Citra dan Bella dari dulu ketika berbelanja di pasar.


setelah memutuskan sambungan teleponnya, ponsel Citra pun kembali mendapatkan notifikasi pesan, dilihatnya dengan seksama sebelum membukanya, terlihat disana nomor asing mengirimi sebuah pesan melalui aplikasi hijau, setelah di buka ternyata Dinar lah yang mengirim pesan tersebut, dengan semangat Citra membalas pesan dari Dinar, setelah beberapa saat ia menghentikan membalas pesan Dinar kemudian bergegas kembali ke pasar untuk menjemput Bella yang masih tertinggal disana.


"Bella ayok... " ajak Citra yang baru saja sampai di parkiran pasar kemudian menghampiri Bella yang tengah duduk di depan warung makan dengan beberapa belanjaan ia letakkan di sampingnya.


"sungguh tega, kau meninggalkan aku mommy... " ucap Bella dramatis


"lebay, ayo ke mobil sekarang" ajak Citra, Bella pun dengan pasrah segera berdiri dan menaruh barang belanjaannya ke dalam bagasi.


"maaf ya Bell, tadi ada sedikit insiden, sampai sampai aku lupa kalau aku bawa kamu tadi ke pasar" jelas Citra. kini keduanya sudah berada di dalam mobil


Bella pun menoleh "insiden apa? " tanyanya mengernyitkan dahinya


"tadi aku hampir kecopetan, untung saja aku ketemu seorang gadis baik, akhirnya dompet aku bisa kembali" "tadi setelah ia mengembalikan dompet aku mengajak nya untuk sarapan di warung tadi sebagai ucapan terima kasih, setelah selesai sarapan aku langsung menuju mobil dan bergegas pulang, ah benar, bahkan aku sampai lupa jika aku harus membeli ikan" terang Citra


Bella juga jika dirinya berada di posisi Citra ia akan melakukan yang sama, Bella juga bersyukur mommynya bertemu dengan orang baik dan terhindar dari marabahaya.


di dalam mobil keduanya mulai berceloteh kembali, hingga mobil yang mereka naiki sampai berada di teras rumahnya, Bella pun segera masuk dan memanggil ART nya untuk membantu mengambil barang berlanjaannya yang masih berada di dalam bagasi.


"tumben lama sekali ke pasarnya mom? " tanya Al ketika melihat Citra dan Bella masuk ke dalam rumah


"tadi ada insiden kecil, jadi pulang terlambat" jawab Citra


"insiden apa sayang? " kini giliran Marcello, suami Citra yang bertanya


"aku tadi hampir kecopetan mas, untung saja di bantuin seorang gadis baik, jadi dompetnya masih aman" jawab Citra setelah duduk di sofa ruang keluarga


"syukurlah, ya sudah lebih baik kalian berdua bersih bersih dulu baru ikut gabung disini " ucap Marcello


Citra dan Bella pun mengangguk kemudian bergegas untuk ke kamar masing masing.


Di ruang keluarga, Al kini tengah bersama Azzam dan para lelaki lainnya menemani sang keponakan, keisya yang sedang tidur pulas di kasurnya, sedangkan para wanita sibuk di dapur. percakapan mereka tak lepas dari masalah perusahaan meskipun saat ini mereka sedang berada di kantor.


setelah beberapa saat Al mengajak Azzam untuk berbicara berdua, tentu agar yang lain tidak curiga, Al sengaja mengirimi pesan kepada sang adik agar Azzam pergi ke teras setelah itu dirinya akan menyusul


"ada apa kak? " tanya Azzam, kini keduanya tengah duduk di kursi teras menghadap ke jalanan.


sebelum menjawab, Al menyempatkan melihat situasi, dirasa sudah aman baru ia mulai berbicara


"Zam, kakak minta tolong ya, minggu depan selama Beberapa hari kedepannya kamu urus perusahaan sendiri, kakak ada keperluan beberapa hari jadi kakak harap kamu bisa menggantikan kakak sementara waktu di kantor" ucap Al


"memangnya mau kemana? " tanya Azzam, sebenarnya Azzam mengerti arah tujuan sang kakak berbicara empat mata dengannya ini, itu karena sang kakak tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari banyak orang maka dari itu sang kakak ingin berbicara berdua dengannya.


"kakak mau mengunjungi teman lama kakak, sudah lama tidak bertemu karena dulu dia tinggal di luar negeri" alibi Al, padahal bukan seperti itu aslinya.


"lalu nanti mommy dan daddy gimana kalau tanya? "


"ya nanti aku akan bicara sama mereka, tapi sebelum itu kan aku harus bicara dulu sama kamu, agar nanti kamu tidak kaget" ucap Al


"ahh begitu rupaya.."


"jadi gimana, mau kan? " tanya Al, entah sejak kapan ia mulai berbohong, hanya karena melihat raut menyedihkan yang di perlihatkan Dinar terakhir kali membuat dirinya tak kuasa untuk tidak membantunya.


"eemm, gimana ya... " Azzam nampak berpikir lama membuat Al mendengus sebal, karena jika tidak menginginkan bantuan sang adik, tentu dirinya tidak akan menunggu lama seperti ini.