
Di atas pembaringan, Al mencoba memejamkan matanya namun tetap saja tak bisa terpejam karena rasa bersalahnya yang kian menggunung terhadap sang istri.
tadi, ketika ia kembali ke kamar dengan menaiki anak tangga, ia seolah tersadar akan tindakan bodohnya yang masih mengingat masalalunya, hingga ia melupakan masa depan yang seharusnya ia bahagiakan. ia merutuki dirinya yang dengan gampangnya melupakan sang istri ketika sudah berhadapan dengan bayang bayang masalalunya.
'maafkan aku istriku' lirih Al dalam hati kemudian mencoba kembali memejamkan matanya.
keesokan harinya Dinar bangun lebih pagi dari biasanya, ia ingin segera menyegarkan badannya dengan cara berendam air hangat.
"apa yang harus aku lakukan, kenapa aku sangat cemburu karena mas Al yang masih memikirkan masalalunya, bukankah dari awal aku juga tahu jika sebelumnya memang mas Al susah sekali move on dari tunangannya, harusnya aku tak perlu cemburu apalagi dengan orang yang sudah tiada, tapi kenapa aku tak bisa, aku tetap saja cemburu, seolah olah wanita itu masih ada di sekitar mas Al"
"baiklah Dinar, untuk sekarang kamu hanya perlu menjadi istri yang patuh dan menurut kepada suamimu, sampai nanti kamu bisa memutuskan kedepannya akan seperti apa. semangat"
Ditengah rasa gundah gulananya, Dinar mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.
entah sudah berapa lama Dinar berendam, tapi ia yakin jika hampir 30 menit ia berada di dalam air sampai tangannya keriput.
ia terkejut mendengar suara ketukan pintu dan teriakan sang suami dari luar, nampak terdengar Al sangat khawatir hingga berulang kali memanggil namanya.
"Din... "
tok
tok
tok
"Dinar kamu di dalam kan, buka pintunya" kembali lagi Al mengetuk pintu kamar mandi, ia tampak gusar sebab sang istri tak kunjung memberi jawaban ia khawatir terjadi sesuatu kepada istrinya mengingat ia baru saja sembuh.
tak selang lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Al yang melihat itupun langsung menghampiri sang istri kemudian memeluknya dengan erat hingga membuat Dinar kelabakan karena kekurangan oksigen.
"ma-mas... " Dinar menepuk nepuk pundak sang suami memintanya untuk segera melepaskannya.
"a aku nggak bisa nafass.. " ucap Dinar terbata bata.
Al segera melepaskan sang istri kemudian meneliti keadaan sang istri.
"kamu baik baik saja kan, ada yang sakit, mana, mana yang sakit" cerca Al kepada sang istri.
"apaan sih mas, aku baik baik saja kok, maaf tadi aku lagi berendam sampai ketiduran jadi nggak tahu kalau mas nyariin aku" jawab Dinar jujur.
memang benar, tadi sewaktu berendam, Dinar sempat tertidur sebentar karena lelah hati dan pikiran. ia kembali terbangun ketika mendengar ketukan bahkan gedoran pintu dari suaminya.
sementara Dinar kini hatinya sedang berperang, andai ia belum mengetahui jika sang suami masih begitu menyayangi mantan tunangannya, ia pasti akan merasa tersanjung dan bahagia mendapatkan perhatian lebih dari sang suami. namun kini dirinya telah mengetahui semuanya, ia tak yakin jika ia bisa memenangkan hati dang suami, sementara di dalam hatinya masih ada kekasih masalalunya yang masih bertahta disana.
"andai aku belum tahu tentang perasaan mu yang sebenarnya mas, aku pasti akan menjadi wanita terbahagia di dunia ini" lirih Dinar dalam hati sembari tersenyum miris.
tak berselang lama kemudian Aldrich datang dengan membawa kan secangkir teh hangat kemudian menyodorkan kearah sang istri.
"minumlah, aku akan membalur kakimu dengan minyak angin" ucapnya
"makasih mas" Dinar segera menyeruput teh hangat yang di berikan ssng suami, rasa hangat kini menjalar dari tenggorokannya menuju ke perut hingga ia benar benar merasa nyaman, terlebih baluran minyak serta pijatan lembut dari Al yang begitu menenangkan.
"Adzan sudah selesai, ayo ambil wudhu kita sholat berjamaah, nanti setelah itu aku akan membaluri kaki mu lagi dengan minyak angin" ajak Al .
Dinar hanya mengangguk memberikan jawaban setuju akan ajakan Al.
setelah melakukan ibadah dua rakaat, Dinar memutuskan untuk turun ke bawah setelah menyiapkan setelan kerja sang suami, sedangkan Al memilih untuk segera mandi agar dapat menyusul sang istri yang katanya hendak membuatkan sarapan untuk nya.
Al segera membasuh dan membersihkan tu buhnya, setelah beberapa saat akhirnya ia telah menyelesaikan acara ritual mandi paginya, bibirnya melengkung kan senyum senang mendapati setelan kerjanya yang sudah disiapkan oleh sang istri.
"baiknya istriku... " Al segera mengambil setelan itu kemudian memakainya dengan cepat, ia tak ingin menyia nyiakan waktunya untuk berlama lama di dalam kamar sebab ia ingin sekali melihat sang istri berkutat menyiapkan sarapan pagi untuknya.
sudah sejak lama ia ingin sekali mencicipi kembali masakan sang istri, namun tidak bisa karena mengingat kondisi Dinar kala itu sedang tidak memungkinkan untuk memasak, dan kini untuk pertama kalinya setelah kejadian naas yang menimpa sang istri, kini dirinya dapat kembali merasakan nikmatnya masakan sang istri.
"aku harus cepat sampai kebawah sebelum Dinar selesai memasak" Saat itu Al hanya memakai celana kerjanya, kemudian kaos putih polos ketat sebagai atasannya. untuk kemeja serta jas nya akan ia kenakan nanti karena hari juga masih terlalu pagi untuknya bersiap ke kantor.
"hmm, harumnya.. " Dari kejauhan Al sudah bisa mencium aroma wangi masakan sang istri, ia segera menghampiri Dinar yang masih berada di dapur bersama art nya disana.
"masa apa sayang? " tanya Al begitu ia sampai di dapur.
sementara Dinar yang masih sibuk berhadapan dengan kompor pun menoleh sebentar "aku bikin nasi goreng mas, sama goreng ayam dan telur, mas mau dibikinin sesuatu? " tanya Dinar, ia mencoba untuk bersikap biasa saja di hadapan sang suami.
"tidak tidak, itu sudah cukup, sepertinya akan sangat enak, nggak sabar aku pengen segera mencicipi nya, iya nggak bi? " tanya Al kepada art nya.
"iya Den benar. bibi nggak nyangka kalau nona muda pandai memasak" jawabnya.
"aku memang nggak pandai memasak lo bi, ini hanya coba coba saja" jawab Dinar.
"coba coba aja aromanya seenak ini, apalagi kalau beneran jago masak, pasti akan sangat sangat nikmat" ucap Al.
mereka bertiga akhirnya tertawa bersama, kemudian setelah itu kembali melanjutkan aktivitas memasaknya sembari diselingi dengan canda tawa dari ketiganya.