
Aldrich menggenggam jari jemari sang istri, menuntunnya menuju pintu keluar dimana mobilnya berada.
"silahkan... " ia membukakan pintu mobil kemudian meminta sang istri untuk segera masuk ke dalam mobil.
"makasih mas" ucap Dinar sembari tersenyum manis.
Aldrich segera memutari mobil kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi, sengaja memang untuk kali ini dirinya ingin pergi hanya berdua dengan sang istri.
"sayang, kamu mau makan apa? " lagi dan lagi, Aldrich menanyakan hal yang sama sebelum mereka memutuskan untuk keluar.
"terserah aja mas, apa aja aku makan kok"
"baiklah, tapi kalau nggak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, jangan ngambek"
"enggak lah mas"
hanya dengan menempuh perjalanan kurang dari 30 menit lamanya, keduanya kini telah sampai di restoran yang Aldrich tuju.
seperti sebelumnya, Aldrich akan membukakan pintu kemudian mempersilahkan sang istri untuk segera turun dari mobil.
Dinar menatap bangunan yang berada di hadapannya, terlihat sangat cantik apalagi desainnya ada ruang semi outdoor.
"restorannya unik mas"
"kamu suka? "
Dinar mengangguk antusias, ia segera mengajak sang suami untuk masuk ke dalam.
Aldrich kemudian membimbing sang istri untuk masuk dan memilih tempat yang di inginkannya.
Seorang waitress datang kemudian menyerahkan buku menu kepada pasangan muda itu.
"silahkan, mau pesan apa? " tanyanya ramah.
kemudian waitress tersebut menoleh ke arah Aldrich, ia sedikit terkejut namun Aldrich segera meletakkan jari telunjuknya di depan bi birnya yang seolah mengatakan untuk diam saja.
waitress itupun mengangguk, kemudian kembali pada mode tenang dan tersenyum ramah
"ayam betutu satu ekor tambah sambal matah, minumnya jus stroberi sama air mineral aja"
untung saja sang istri tak mengetahui gelagat anehnya, bisa bisa dirinya akan di cerca banyak pertanyaan sebelum makanan mereka tiba.
"saya nasi goreng saja, minumnya samain" ucap Aldrich
kebetulan di restoran itu selain menyediakan masakan Western ada juga masakan nusantara, jadi Dinar tak terlalu repot memilihnya.
setelah beberapa saat menunggu, kini pesanan Aldrich dan Dinar pun datang, Dinar menyambutnya dengan mata berbinar seolah mendapatkan jakpot besar besaran.
"selamat makan.. " ucapan Aldrich terpotong ketika dirinya melihat sang istri yang sudah menyantap makanannya terlebih dahulu.
ia tersenyum senang, "eh, maaf mas, aku langsung makan aja. selamat makan mas" ucap Dinar menghentikan suapannya kemudian menatap sang suami.
Aldrich hanya mengangguk, pria itu memaklumi keadaan sang istri yang saat ini tengah berbadsn dua, sejak tahu dirinya hamil, memang Dinar sangat sering sekali makan makanan berat atau hanya sekedar ngemil ringan, padahal sebelum itu ia hanya makan sedikit dan itupun jarang.
"lanjutkan makanmu" titahnya
"baik" Dinar segera kembali fokus pada piring di hadapannya, tanpa menunggu waktu yang lama, wanita itu segera menyantap makanannya dengan senang hati.
setelah selesai makan, Aldrich mengajak sang istri untuk beranjak, bahkan Dinar sampai terheran sebab suaminya belum meminta tagihannya.
"loh mas, mau kemana, kita belum bayar itu" ucap Dinar tetapi tak di gubris sang suami.
Aldrich berjalan menuju pintu keluar yang membuat Dinar menjadi kurang nyaman, takut takut di sangka mereka penipu kemudian di laporkan ke polisi, bisa tambah masalah nantinya.
"udah ikut aja, nanti kamu akan tahu sendiri" ucap Aldrich, belum sampai pintu keluar Aldrich membelokkan langkahnya menuju sebuah ruangan tertutup yang Dinar tebak adalah ruang kerja.
"ngapain kita kesini, mau ngutang? " tanyanya polos.
"iya"
jawaban Aldrich membuat mata Dinar membola, ia tak percaya sang suami akan melakukan hal itu.
Aldrich membuka pintu ruangan itu kemudian meminta Dinar untuk duduk di sofa, setelah itu ia menghubungi seseorang dari ponsel nya.
namun karena Dinar tak yakin akan hal ini, ia memilih untuk tetap berdiri, ia tak ingin menyentuh barang barang yang ada disana.
selesai menelepon Aldrich menghampiri ssng istri yang masih mematung "duduklah nanti kamu lelah"
"nggak usah mas, aku berdiri aja"
*tok
tok
tok*
"masuk" sahut Aldrich sedikit berteriak.
Dinar yang masih bergelut dengan pikirannya langsung menoleh ke arah sang suami.
"tuan" sapa seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"bagaimana? " tanya Aldrich setelah pria itu mempersilahkan orang itu untuk duduk
"semuanya aman tuan, penjualan kita semakin hari semakin meningkat, itu semua berkat ide anda yang mencetuskan untuk menambah menu nusantara di restoran ini, sehingga baik turis maupun wisatawan lokal dapat memilih sesuai dengan keinginannya"
"untuk masalah internal? " tanya Aldrich.
"semua sesuai dengan apa yang kita harapkan tuan"
"baiklah pak Marko, itu saja, nanti jika ada sesuatu yang mendesak, tolong kabari saya"
"baik tuan, kalau begitu saya permisi, mari nyonya" sapanya pada Dinar.
Dinar yang sedari tadi menyimak pembicaraan dua pria itupun mulai paham. ia menganggukkan kepalanya pada pria yang bernama Marco itu.
ia teringat dulu suaminya pernah bercerita jika dirinya memang memiliki aset lain berupa restoran, selain di Jakarta ada juga di beberapa wilayah Jawa-Bali.
"mas jadi ini? "
"iya, ini milik mas, dan sekarang milik kamu juga" potong Aldrich, pria itu mengembangkan senyumnya menatap sang istri.
"sebenarnya aku ingin memberitahu mu sejak awal, tapi karena melihat kamu yang sepertinya tengah kelaparan, jadi aku urungkan niatku, karena bingung mau memulai dari mana, ya sudah lebih baik aku ajak kamu masuk ke ruangan ku aja"
"jadi dulu mas sering keluar kota itu juga salah satunya untuk mengunjungi restoran mas? " tanya Dinar, ia sudah duduk di samping sang suami dan mulai menyimak pembicaraannya.
Aldrich mengangguk "maaf ya aku tak memberitahu mu, tapi jika aku keluar kota memang untuk perjalanan bisnis, sedangkan ke restoran, aku hanya mampir sebentar untuk mengecek dan mengontrol semuanya agar tetap stabil, jadi sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui"
"aku sampai lupa kalau kamu punya restoran di Bali mas"
"maaf ya, next time deh, aku ajak kamu berkunjung ke restoran ku yang lainnya"
"beneran ya, janji! " seru Dinar sembari menyodorkan jari kelingking nya
"janji sayang" Aldrich segera menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking sang istri