
Di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang tidak terlalu luas terdapat sebuah warung bertuliskan mie ayam di sebelah kanan rumah itu, disana juga ada pasangan yang tak lagi muda sedang duduk berdua di teras seperti sedang menunggu seseorang, mereka adalah Rahayu dan Beni orang tua Dinar di kampung, keduanya tampak bahagia setelah mendengar kabar bahwa putrinya akan datang setelah beberapa bulan tidak pulang.
setelah menunggu beberapa saat terlihat dua motor berhenti di halaman rumahnya kemudian turunlah putri semata wayangnya dari atas motor, melihat hal itu ibu serta bapak Dinar pun lantas berdiri dan menghampiri Dinar yang sedang membayar ongkos ojek.
"syukurlah nak kamu sudah pulang, bapak kangen... " ucap pab Beni memeluk putrinya,
"Dinar juga kangen banget sama bapak" balas Dinar memeluk erat sang bapak.
sedangkan Al sendiri pun merasa canggung sebab ini kali pertama bertemu dengan bapaknya Dinar, namun meski begitu Al tetap menyapa kedua orang tua Dinar.
"assalamualaikum bu, " salam Al kemudian mencium punggung tangan bu Rahayu
"wa'alaikumsalam nak Al, ibu nggak nyangka kalau nak Al juga ikut pulang loh" jawab bu Rahayu, kemudian menjawil suaminya yang masih memeluk putri semata wayangnya
"pak ini loh ada nak Al, juga ikut kesini ternyata" ucap bu Rahayu, sontak membuat pak Beni melepas pelukannya dari sang anak kemudian beralih memandangi Al
"loh ternyata nak Al ikut juga toh, saya kira tadi cuma orang yang ngojek saja, nggak tahunya pacar nya si Dinar, ya sudah ayo masuk rumah dulu, ayo Dinar ajak nak Al masuk" ajaknya menggiring Dinar dan Al masuk ke dalam rumah.
"iya pak, kenalkan saya Al" ucap Al sembari mencium tangan kanan pak Beni, setelahnya mereka masuk ke dalam rumah, dan di persilahkan untuk duduk di sofa sementara sang ibu menuju dapur untuk membuatkan minuman
"bagaimana kondisi bapak? " tanya Dinar
"alhamdulillah bapak baik baik saja nak, ini kaki bapak juga sudah pulih, hanya cidera ringan saja kok, padahal bapak itu sudah melarang ibu kamu agar tidak memberi tahu kamu, takut nanti kamu malah nggak fokus kerja, tapi tahu sendiri ibu mu seperti apa. hmm.. " jawab Pak Beni
"ya itu wajar lah pak, kan aku anak bapak jadi sudah sewajarnya aku di kabari"
sementara Al hanya menyimak percakapan bapak dan anak itu tanpa berniat ingin menyela, ia hanya menatap sekeliling yang terlihat bersih dan rapi meskipun sederhana.
"ini di minum dulu teh nya nak Al" ibu datang dari arah dapur sembari membawa baki berisikan teh hangat kemudian meletakkan di atas meja
"terima kasih bu.." ucap Al mengangguk kemudian meraih gelas tersebut dan meminumnya.
"bapak jualan mie ayam juga ternyata, kata Dinar bapak hanya bertani di rumah" tanya Al basa basi
"iya nak Al, kalau pagi ke sawah sampai siang, terus sore nya jualan mie ayam,tapi biasanya sabtu minggu seperti ini bapak sudah akan mulai jualan dari siang, kalau nak Al mau nanti bapak buatkan atau minta di buatkan Dinar, dia juga pandai meracik bumbunya " jawab pak Beni
setelah sedikit berbasa basi kemudian Al di minta untuk beristirahat di kamar Dinar, sementara dinar akan beristirahat di kamar orang tuanya karena disana hanya memiliki dua kamar tidur sehingga mau tidak mau Al harus menempati kamar Dinar.
Sementara Al di dalam kamar, Dinar memutuskan untuk keluar membantu sang bapak yang tengah melayani pembeli yang sedang mengantre.
"eh Din kapan nyampe" tiba tiba datang wanita seusianya menghampiri dan menyapa Dinar yang tengah merebus mie
"baru saja sampai Mil" jawab Dinar santai "mau pesen berapa? " tanyanya
"pesen dua di bungkus ya Din" jawabnya
"oke tunggu sebentar ya," Dinar segera menyiapkan pesanan Mila, sedangkan Mila sendiri memilih untuk duduk di depan warung yang memang terdapat kursi panjang disana.
"Tadi aku lihat kamu pulang sama cowok, siapa dia Din, pacar mu ya? " tanya Mila kepo, sebenarnya tujuan dirinya datang ke warung Dinar hanya ingin tahu siapa pria yang bersama Dinar tadi.
Dinar yang sedang merebus Mie pun sejenak menghentikan tangannya yang sedang mengaduk mie dengan sumpit kemudian mendongak ke arah Mila. "bukan siapa siapa kok, cuma temen" jawab Dinar datar
"yakin Din, bukan pacar kamu yang katanya karyawan warung tenda itu?" tanya Mila menyelidik.
Mila teringat beberapa waktu yang lalu dirinya sedang berkunjung ke rumah Dinar untuk membesuk pak Beni yang baru saja kecelakaan ketika hendak mengunjungi Dinar dan pacarnya di kota, Mila sempat mendengar cerita kasak kusuk tetangga bahwa pacar Dinar di kota hanyalah karyawan di warung tenda.
mendengar hal itu Dinar tak menjawab, bukan karena malu mengakui, lebih pada kenyataannya jika memang Al bukan kekasihnya.
"diam berarti benar, ya ampun Din, kenapa dari dulu selera kamu rendahan sekali sih" cibir Mila ketika Dinar hanya diam saja, cibiran itu hanya dia dan Dinar saja yang mendengar sebab pak Beni baru saja keluar hendak ke kamar mandi sesaat sebelum dirinya mencibir Dinar.
"ini pesanannya dua puluh ribu" ucap Dinar menyerahkan keresek berisikan mie pesanan Mila, Dinar bahkan tak menanggapi cibiran dari teman sekolahnya itu, sebab ia tahu jika dari dulu Mila memang tak menyukai dirinya.
selain tetangga, Mila juga teman sekolah Dinar semasa sekolah dasar hingga menengah keatas, namun meski begitu keduanya tak saling akrab sebab Mila terlalu pemilih untuk berteman, ia hanya akan berteman dengan orang orang yang sepadan dengan dirinya, tidak seperti Dinar yang hanya anak seorang petani miskin.
"nih... " ucap Mila sembari meletakkan uang dua puluh ribu di atas meja dengan kasar, bahkan ia enggan memberikan secara langsung kepada Dinar. kemudian ia segera berlalu.
sedangkan Dinar yang sudah paham dengan sifat Mila pun hanya tersenyum dan menggeleng.
"masih belum berubah.. " Gumam Dinar