
menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit dari kantor, kini Aldrich telah tiba di depan butik milik sang istri.
meski raut wajahnya masih terlihat pucat, akan tetapi pria itu tak ingin membuat sang istri kecewa sebab ajakannya tak di penuhi. apalagi mengingat hal ini jarang sekali di lakukan oleh sang istri ia dengan begitu semangat akan mengantarkan langsung ke kedai mas Dani.
Aldrich masuk ke dalam butik hendak menuju ruangan sang iatri, namun langkahnya di hentikan oleh seseorang.
"maaf pak Al, apa bapak akan menunggu bu Dinar kembali? " tanya salah satu karyawannya.
"maksudnya? " tanya Aldrich yang tak paham maksud dari pertanyaan pegawai istrinya itu
"bu Dinar baru saja keluar pak dan beliau tidak ada bilang apa apa untuk di katakan kepada bapak, saya pikir bapak mengetahuinya"
"oh begitu, mungkin dia sedang ada urusan mendesak, ya sudah saya kembali saja" Aldrich memutar tu buhnya dan berjalan menuju pintu keluar.
di dalam mobil Aldrich mencoba menghubungi sang istri, namun nihil, panggilannya tak di angkat sekali pun.
"sayang kamu dimana? " lirih Aldrich dengan masih mencoba menghubungi sang istri.
dirinya takut jika saja sang istri marah padanya sebab tak kunjung membalas pesan yang di kirim sang istri tadi siang.
sementara itu Dinar tengah duduk manis bersama dengan sahabatnya, Mia di dalam kamar kosnya.
Siang tadi setelah ia selesai membantu karyawan nya, Dinar kembali mengecek ponselnya barangkali sang suami membalas pesannya namun ternyata nihil, sang suami tak membalas ataupun meneleponnya.
Dinar mengira jika sang suami saat ini tengah sibuk dan dirinya tak ingin mengganggu dan menghambat pekerjaan sang suami.
Dinar lantas mengirimkan pesan kepada sahabatnya untuk menemaninya ke kedai mas Dani sore nanti selepas sahabatnya itu pulang bekerja.
namun pesan yang dikirim Dinar langsung di balas saat itu juga, rupanya sahabatnya itu tengah sakit dan cuti dari pekerjaan nya.
Dinar yang mendapat kabar jika sahabatnya tengah sakit pun dengan buru buru pergi keluar butik untuk segera menghampiri sahabatnya di rumah kosnya.
dan disinilah Dinar berada. ia sedang duduk manis bersama Mia dengan menonton tv tak lupa mereka juga di temani beberapa kantong keresek berisikan makanan dlberat dan juga camilan.
"lain kali kalau sakit bilang napa Mi, kan aku juga nganggur, jadi bisa lah nemenin kamu disini" ucap Dinar dengan mulut yang penuh dengan camilan.
"sudah saatnya ada yang menafkahi kamu Mi. oh iya, gimana nih kelanjutan kisah mu dengan pangeran? " tanya Dinar.
Mia sering kali menceritakan kisah kisah asmaranya kepada Dinar meskipun wanita itu juga minim pengalaman, akan tetapi Dinar adalah sosok pendengar yang baik, maka dari itu ia senang sekali ketika bercerita dengan Dinar.
"aku nggak tahu Din. aku udah mencoba menjauh, tapi dia gencar sekali mendekat, bahkan sekarang lebih sering dari pada dulu"
"kenapa kamu nggak coba aja buat buka hati buat dia, siapa tahu memang kalian berjodoh"
Mia menatap Dinar dengan tatapan yang sulit di artikan. ia kemudian menghembuskan nafasnya pelan. "kita beda kasta Din, ibarat dia pangeran aku upik abu nya, jauh sekali Din... " lirih Mia.
"jangan pesimis dulu dong, lihat aku, aku sama mas Al juga beda kasta loh Mia, aku gadis desa biasa sedangkan dia bos muda. tapi balik lagi, bahwa setiap jalan cerita kita itu sudah di gariskan. meskipun kamu mencoba buat menolak dan menghindar, jika dia memang jodoh mu, maka akan ada banyak macam cara untuk kalian bersatu.
sekarang lebih baik kamu mencoba untuk membuka sedikit hati mu agar bisa menilai dia dengan benar" jelas Dinar panjang lebar.
Mia masih mencoba menelaah perkataan sahabatnya itu, ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Dinar. bukankah kita semua sama di mata Tuhan, lantas mengapa kita selalu pesimis dan Insecure akan perbedaan. bukankah setiap kekurangan ada kelebihan lainnya.
Mia mengangguk "kamu benar Din, tapi apa tidak apa apa, maksud ku, jika aku membuka hati buat dia, lalu bagaimana nanti jika dia hanya sekedar penasaran saja dan setelah itu aku di buang karena dia merasa bosan. jujur aku masih trauma jika harus mengulang kenangan yang sama"
"buka hati mu, kamu akan bisa menilainya sendiri nanti" setelah mengatakan hak itu, Dinar meraih ponselnya yang ia letakkan di dalam tas. wanita itu sedari tadi tak mengeluarkan ponselnya sebab tengah sibuk dengan makanan makanannya.
"astaga... " pekik Dinar ketika ponselnya menyala.
Mia yang awalnya sedih pun ikut kaget dan penasaran setelah mendengar pekikan dari Dinar.
"ada apa? " tanyanya
"eh maaf maaf, ini aku lupa aktifin data ku, nggak nyangka kalau suami aku bakalan spam chat kayak begini" Dinar menggulir ponselnya dan membaca satu persatu pesan dari Aldrich, ia lantas mengirimkan pesan tak lupa juga alamat kosan Mia.
"pasti kalang kabut tuh si tuan muda" celutuk Mia
"mending kamu siap siap, siapa tahu nanti diajakin jalan jalan sebagai permintaan maaf karena mengabaikan pesan mu" ucap Mia memberi saran.
Dinar mengangguk, ia segera berdiri dan menyambar tas nya menuju ke arah kamar mandi untuk membenahi riasannya.