
Aldrich baru saja kembali ke ruang kerjanya setelah menghadiri rapat bersama para petinggi lainnya untuk membahas beberapa masalah internal di dalam perusahaannya.
ia menyugar rambutnya ke belakang, hari ini sangat melelahkan setelah sekian lama ia tak terjun langsung menyelesaikan masalah yang ada sendiri, biasanya ia akan meminta bantuan Azzam untuk menyelesaikan masalah masalah kecil itu. tapi setelah ia menyerahkan Azzam kepada opa Bagas, kini dirinya harus mampu mengontrol sendiri perusahaannya agar tetap stabil.
disaat seperti ini ia sangat merindukan sang istri, ia jadi rindu akan usapan lembut di kepalanya yang di berikan sangat istri ketika ia hendak tidur, ia tak sabar ingin cepat cepat pulang agar dapat segera bertemu dengan sang istri kemudian bermanja kepadanya.
'haahh... dari kapan aku jadi sebucin ini dengan istriku' gumam Al tersenyum geli
ia segera menyelesaikan pekerjaan nya agar bisa cepat pulang.
tringg
ponselnya tiba tiba berdering, dilihatnya disana nama sang istri tengah memanggil dirinya.
"hallo sayang... " sapa Al setelah mengangkat panggilan sang istri
"mas sibuk? " tanya Dinar
"tidak terlalu, aku baru saja selesai meeting, ada apa memangnya, apa kau merindukan ku? " goda Aldrich
"ish, apaan sih, aku hanya ingin meminta izin mas. aku sama mommy rencananya nanti setelah makan siang mau ke panti sekalian jenguk nenek Fatma disana, boleh kan? " tanya Dinar
Al nampak berpikir, ia melirik jam tangannya, disana terlihat jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, itu berarti masih sekitar dua jam an lagi.
"apa kamu pergi hanya bersama mommy, bagaimana dengan kak Bella, Azura dan Cia, apa mereka tidak ikut? " tanya Al, ia belum ingin menjawab permintaan izin sang istri, justru kini ia malah balik bertanya.
pasalnya kemana pun mommy nya pergi, mereka bertiga akan mengikutinya, seperti anak itik yang selalu mengikuti induknya.
"sepertinya nanti kak Bella akan ikut, kalau Azura dan Cia tidak ikut karena masih ada urusan yang nggak bisa ditinggal. jadi gimana, apa aku boleh ke panti? " tanya Dinar.
"baiklah, kamu boleh pergi ke panti, tapi setelah dari sana kamu langsung pulang ya, jangan mampir mampir dulu, ingat, kamu baru saja sembuh dan bisa berjalan normal, aku nggak mau nanti kamu jadi sakit lagi" tegas Al yang membuat Dinar yang ada diseberang sana menjadi tersipu malu.
"a aahh iya mas, baiklah. Terima kasih sudah mengizinkan. ya sudah aku hanya ingin meminta izin saja, mas semangat kerjanya. teleponnya aku matikan ya, assalamu'alaikum.. " pamit Dinar.
"ya, wa'alaikumussallam.. hati hati nanti dijalan" pesannya sebelum mematikan sambungan teleponnya.
"iya mas... "
***
sementara di rumah utama, pipi Dinar nampak memerah setelah menelepon sang suami, ia tak menyangka jika suaminya akan se perhatian itu kepada dirinya. ia ingin sekali terbang melayang menembus lapisan awan, akan tetapi ia sadar jika ia bukan burung ataupun pesawat terbang. akhirnya ia hanya mengulum senyum sembari mengibas ibaskan wajahnya yang terasa panas.
'aahh... aku pasti sudah gilaa.. bisa bisanya aku baper hanya karena perhatian kecil darinya' gumam Dinar
ia tak tahu jika tingkah lakunya sedari tadi di perhatikan oleh mama mertuanya dari belakang, hingga ia kemudian berbalik dan mendapati mertuanya juga tengah menahan senyum melihat ke arahnya.
ia tadi hanya meminta izin sebentar untuk menghubungi Al untuk meminta izin akan berkunjung ke panti. mungkin karena ia terlalu lama meninggalkan dapur, akhirnya mertuanya mencari dirinya. itulah pikir Dinar. padahal sebenarnya bukan seperti itu, tadi mommy Citra tak sengaja mencuri pandang ke arah Dinar yang tengah bersemu merah, hingga mommy Citra menjadi penasaran kemudian menghampiri Dinar.
"lama juga nggak apa apa.. oh iya, itu pipi kamu kenapa merah begitu, kamu demam? " pancing mommy Citra hendak meng goda menantu nya
"emm, enggak kok mom, ini tadi kan habis, habis dari dapur, iya dari dapur jadinya terasa panas, sampai merah kayak gini, ya sudah kita kembali ke dapur saja mom, kan masak masaknya belum selesai. " ajak Dina mencoba mengalihkan pembicaraan
mommy Citra menahan senyumnya, ia tahu jika menantu kesayangan nya itu tengah berbohong untuk menutupi kegugupan nya, alhasil ia hanya mengangguk kemudian kembali ke dapur bersama Dinar.
keduanya kembali berkutat dengan bermacam macam bahan makanan untuk membuat kue dengan di bantu bibi disana.
Dinar tengah membuat adonan di dalam wadah sementara mommy Citra tengah melihat over yang sudah menyala sedari tadi untuk memanggang kue.
"Din... " panggil mommy Citra
"iya mom, ada apa? " tanya Dinar
"kamu sudah tahu masa lalu Al kan, bagaimana ia menjalani hidup dari beberapa tahun belakangan hingga ia sampai di titik ini? " tanya mommy Citra
"tentang kejadian tiga tahun yang lalu, yang sempat membuat mas Al menjadi drop itu mom? " tanya Dinar memastikan.
"iya Din."
"namanya siapa mom, Dinar masih belum paham mengenai masalalu mas Al dengan jelas, yang Dina rtahu hanyalah soal mas Al yang gagal nikah karena pacarnya meninggal dunia"
mommy Citra menghembus kan nafasnya pelan. "namanya Luna, dia gadis pertama yang dikenalkan Al kepada keluarga, ia di kabarkan tewas 2 minggu setelah Al melamarnya, hal itulah yang membuat Al menjadi menutup diri serapat mungkin dari yang namanya wanita. tapi setelah ia bertemu kamu, ia sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih hangat, sifatnya yang dulu kini perlahan lahan mulai kembali seperti semula. Terima kasih ya, karena sudah bertahan menahan sabar menghadapi sikap Al " ucap mommy Citra
"mas Al seperti nya sangat mencintai gadis itu ya mom? " hatinya berdenyut ketika ia mengatakan mencintai gadis itu
"itu dulu, sekarang mommy lihat, Al justru semakin bucin sama kamu, mommy rasa Al benar benar sudah menaruh hati kepada kamu Din."
'ah, semoga saja mas Al benar benar sudah mencintai ku, aku tak ingin hanya dijadikan pelampiasan asmara nya saja' dalam hati Dinar tersenyum pedih
"semoga itu semua benar ya mom" lirih Dinar
"sudah, lagipula itu hanyalah masa lalu nya saja, yang terpenting adalah kamu, kamu masa depan Al, mommy yakin suatu saat nanti kalian akan benar benar saling mencintai.. " ucap mommy Citra
mereka kemudian melanjutkan memasaknya, beberapa saat kemudian terdengar dari arah ruang tengah seorang tengah berjalan ke arah mereka.
"waahh, kalian masaknya banyak banget" celutuk Bella yang sudah berada di dapur.
"iya dong, sekarang kan menantu mommy sudah sembuh, jadi bisalah diajak masak masak begini, jadi kalau mau masak nggak perlu lagi tuh nungguin kamu yang lama sekali datengnga" ucap mommy Citra
Bella mencebik kemudian turut membantu memasak di dapur, padahal niat hati ia datang agak siang agar tak ikut masak memasak di dapur, tapi begitu ia sampai, ternyata sama saja, ia tetap harus memasak karena jika ia berdiam diri saja, ia akan kena omel sang mommy karena tak ikut membantu.