
Pagi telah tiba, matahari mulai menyapa dengan cahayanya yang sangat terang. Aldrich mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kamarnya melalui celah gorden yang tak tertutup dengan sempurna.
'enghh' ia menggeliat kemudian terduduk sembari memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.
"apa yang terjadi pada ku? " ia menoleh ke sebelah tempat tidurnya, namun yang di cari tidak ada disana
"tunggu dulu, dimana istri ku"
"pasti dia akan marah jika mengetahui kalau semalam aku mabuk"
meski kepalanya masih terasa sangat pening, Aldrich berusaha untuk mengingat ingat kejadian kejadian dari mulai sebelum ia mabuk hingga ia ssmpai terbangun di atas ranjang nya.
sedikit demi sedikit ingatannya pun kembali, ia membekap mulutnya sendiri seolah teringat jika ia baru saja melakukan kesalahan.
"astaga, apa yang aku lakukan kemarin"
"Dinar, Dinar istri ku kemana, apa dia marah dengan ku! " seru Aldrich kalang kabut, ia lantas segera turun dari ranjang kemudian keluar kamar dengan terburu buru.
"sayang kamu dimana? " teriak Aldrich memanggil sang istri
namun lagi lagi, ia mendapati keadaan rumah yang terasa sangat kosong, ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya, biasanya akan ada mommy atau paling tidak sang adik, Azzam, yang masih berlalu lalang di dalam rumah, namun kali ini rumah benar benar kosong, Aldrich kini menyusuri dapur kemudian halaman belakang, namun yang ia lihat adalah para ART nya yang menyirami tanaman sang mommy.
"mbak Lili, tahu istri ku tidak? " tanya Aldrich dengan sedikit berteriak kepada ART yang bernama Lili.
mbak Lili pun menolah, dilihatnya tuan muda pertamanya telah sadar setelah semalam mabuk mabukan. ia segera meletakkan selang yang ia pegang kemudian berjalan cepat menuju ke arah Aldrich
"tuan muda sudah bangun, saya sudah menyiapkan sup hangat untuk tuan, sebentar saya siapkan di meja makan terlebih dahulu" ucap mbak Lili ia hendak pergi ke dapur namun tangan nya di cekal oleh Aldrich
"itu nanti dulu mbak Lili, jawab pertanyaan ku dulu, dimana istri ku, kenapa rumah sangat kosong" seru Aldrich
"nona muda kembali ke kampung halamannya bersama dengan kedua orang tuanya dengan di antar tuan dan nyonya besar tuan muda"
"apa? " pekik Aldrich terkaget
"bagaimana bisa istri ku pulang ke kampung tanpa mengatakan apapun pada ku, kapan mereka berangkatnya mbak Lili? "
"siang menjelang sore kemarin tuan muda, Setelah mereka pulang dari hotel tak lama dari itu mereka kembali keluar untuk mengantar nona muda pulang ke kampung"
"lalu Azzam? "
Aldrich meraup wajahnya kasar, ada banyak pikiran pikiran buruk yang bergelut di kepalanya, ia yakin jika sang istri tak ingin kembali ke kediaman utama setelah ia meninggalkan nya di pelaminan.
"bagaimana ini... " lirih Aldrich, ia kemudian berjalan mrnuju ruang makan dengan di ikuti mbak Lili yang mengekor di belakangnya.
"tolong siapkan sarapannya nya mbak, aku ingin segera makan dan menjemput istri ku di kampung"
"baik tuan muda.. " mbak Lili bergegas menghidangan makanan untuk Aldrich tak lupa ia juga membuatkan wedang jahe hangat untuk tuan mudanya itu.
Aldrich segera menyantap makanan yang telah di hidangan oleh mbak Lili. meskipun kini suasana hatinya sedang gelisah, gundah, gulana tak menentu, namun ia tetap harus memulihkan tu buhnya agar dengan mudah menyusul sang istri yang katanya kembali ke kampung.
setelah menyelesaikan sarapan paginya Aldrich kembali ke kamarnya untuk sekedar mengganti pakaiannya.
"ck, pasti si Bima yang sudah bawa aku pulang tapi, kenapa dia bisa tahu kalau aku ada di bar ya, atau jangan jangan, kemarin dia ngikutin aku karena aku buru buru pergi ninggalin acara" sembari mengenakan pakaiannya kembali, Aldrich mencoba menerka nerka tentang kedatangan Bima yang tiba tiba ketika ia sudah hampir tak sadarkan diri.
"bagaimana bisa, aku meninggalkan istri ku sendiri di pelaminan demi mengejar wanita lain, bahkan aku mabuk mabukan sampai tak mengetahui jika istri ku telah meninggalkan rumah utama, pasti dia teramat kecewa karena sikap ku kemarin" hatinya kembali berdenyut nyeri mengingat sikapnya kemarin.
"aku harus menyusul Dinar dan menjelaskan semuanya, aku tak ingin istri ku marah terlalu lama pada ku "
setelah selesai Aldrich bergegas menghampiri mobilnya yang kebetulan telah di siapkan oleh bawahannya di teras rumah.
***
Mommy Citra, daddy Marcello dan juga Azzam dan Edo tengah bersiap siap karena siang ini mereka akan kembali ke kota untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, terlebih Azzam, ia yang mempunyai tanggung jawab mengurus perusahaan opanya pun harus segera kembali agar asistennya disana tidak kerepotan mengerjakan pekerjaan miliknya.
sementara Edo sebenarnya ingin tinggal, mengingat kampung halaman Dinar sangat sejuk dan asri, ia menjadi betah berlama lama disana, akan tetapi karena tidak ada keluarga yang lain yang menginap lebih lama, akhirnya Edo memutuskan untuk ikut pulang ke kota. ingin tinggal lama di rumah Dinar pun rasanya tak pantas meskipun dalam keluarga ia adalah keponakannya.
"kamu jaga diri baik baik disini ya sayang, segera kembali ke rumah utama, mommy pasti akan sangat merindukan kamu"
"iya mom, Dinar janji akan segera kembali ke rumah, mommy juga jaga diri baik baik ya, jaga kesehatan, dan jangan terlambat makan"
"maaf daddy tidak bisa tinggal lebih lama disini, bukan karena tak betah tetapi daddy masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. kamu jaga diri baik baik ya, nanti kalau kamu ingin pulang ke rumah utama hubungi daddy, nanti biar daddy kirim supir untuk menjemput kamu disini"
"terima kasih dad... "
setelah itu satu persatu mulai keluar rumah. ketika mereka sudah berdiri di teras rumah, mereka di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang sangat tidak asing di mata mereka.
mommy Citra dan Daddy Marcello menatap tajam mobil yang berhenti di pelataran rumah Dinar, sementara Dinar sendiri tak banyak bereaksi, ia hanya diam menatap mobil yang telah berhentu di pelataran rumahnya dengan datar.