OH MY WIFE

OH MY WIFE
65



Di sebuah rumah mewah bertingkat, seorang wanita paruh baya tengah menatap kosong pemandangan di depannya hingga tak menyadari seseorang yang berdiri di ambang pintu tengah memandangnya dengan tatapan sayu.


lama orang itu memperhatikan wanita paruh baya itu berdiam diri, hingga ia lantas mengambil tempat duduk di samping wanita itu.


"ibu sedang memikirkan apa? " tanyanya lembut ia juga meraih kedua tangan wanita paruh baya yang di panggil ibu itu.


"kau sudah pulang Ardi, maaf ibu melamun hingga tak mengetahui kalau kamu sudah pulang nak" wanita itu lantas tersenyum ke arah sang putra


"iya Ardi sudah pulang karena sudah sangat merindukan ibu, apa yang ibu pikirkan hingga melamun seperti tadi, jangan terlalu banyak berpikir dan nikmati saja masa tua ibu dengan bahagia" Ardi atau Abian Ardianto tak ingin membuat sang ibu kembali teringat masa lalu nya yang sangat buruk, ia telah berusaha keras selama beberapa tahun ini untuk menyembuhkan sang ibu, dan sekarang setelah sembuh, ia tak ingin jika sang ibu kembali seperti dulu lagi.


"Ardi, putra ibu sangat sayang sekali dengan ibu, ibu hanya sedikit bosan berada di rumah sebesar ini tanpa adanya teman, hingga ibu bingung harus melakukan apa dirumah ini" jawab ibu tenang sambil terus menatap sang putra.


Ardi terkekeh mendengar kata kata manis yang terucap dari bi bir sang ibu, ia merasa lega karena sang ibu tidak memikirkan masa lalunya.


"bagaimana Ardi tak sayang, jika ibu selalu ada untuk Ardi. bagaimana kalau kita jalan jalan saja bu, sekalian kita berbelanja, siapa tahu ibu menginginkan sesuatu untuk di beli" tawar Abian atau Ardi.


Biasanya orang akan memanggil nama seseorang dengan nama depannya, tapi tidak dengan ibunda Abian, sejak Abian lahir, sang ibu membiasakan dirinya memanggil sang putra dengan nama tengah yaitu Ardi. sementara nama Abian yang di berikan oleh seseorang tidak ia pakai sama sekali walaupun dalam kartu kependudukan nama Abian selalu ada disana.


"baiklah ibu setuju, bagaimana jika kita membeli beberapa bunga, ibu ingin sekali menanam beberapa bunga di taman belakang ini" ucap sang ibu.


Ardi mengangguk setuju. ia lantas menggandeng lengan sang ibu dan membawanya masuk ke dalam rumah. "semua untuk ibu... " ucap Ardi kemudian


***


Di panti Asuhan anak anak telah berbaris rapi menunggu kedatangan keluarga Al hang katanya sebentar lagi mereka akan segera sampai.


Dinar melirik ke arah sang suami yang tengah menyetir di sampingnya, ia butuh dukungan saat ini. walaupun bu Fatma orang baik, namun Dinar merasa sangat tegang karena untuk yang kedua kalinya ia akan bertemu dengan ibu asuh ibunya.


Al menyadari hal itu, ia lantas menaruh tangan kirinya di atas tangan Dinar kemudian menggeggamnya. sontak Dinar langsung menoleh ke arah sang suami, Dilihatnya ternyata sang suami tengah memberikan dirinya senyuman yang sangat manis.


"jangan gugup atau aku akan memakan mu" bisik Al di telinga kanan sang istri.


Dinar langsung merinding mendengar bisikan dari sang suami. ia langsung melepas pegangan tangannya dari Al kemudian mengalihkan pandangannya menatap jalanan yang ada di sebelah kirinya untuk menutupi pipinya yang terasa panas, ia yakin jika pipinya kini tengah memerah.


sementara Bella dan mommy Citra hanya mengulum senyum melihat kejahilan Al dari belakang. tentu mereka tahu apa yang di maksud oleh ucapan Al yang terdengar ambigu itu.


"makanya jangan aneh aneh Al" ujar Bella datar kepada sang adik.


mendengar itu baik Al maupun Dinar langsung melirik ke belakang, mereka bahkan lupa jika mereka tidak hanya berdua, melainkan berempat.


"apaan sih kak" ucap Al ketus.


tak berselang lama kemudian rombongan Al pun tiba di halaman panti yang terlihat sangat luas itu.


mereka berempat keluar dari dalam mobil kemudian berjalan menuju teras dimana anak anak tengah menunggu kedatangan mereka.


Bu Fatma tersenyum menyambut putri serta cucu cucunya datang, sementara anak anak semua tengah berebut mencium takzim tangan tamunya itu.


'ya ampun ternyata dugaan ku salah, ternyata baik pengurus maupun anak anak disini sangat ramah sekali' gumam Dinar dalam hati sambil terus menatap satu persatu anak anak yang gengah mencium punggung tangannya secara bergantian itu.


"ayo masuk dulu, kalian pasti capek" ajak bu Fatma, Mommy Citra, Bella dan juga Dinar rmengangguk kemudian mengikuti langkah kaki bu Fatma, sementara Al dan pengurus panti lainnya mengambil barang bawaan mereka yang masih di dalam mobil.


"banyak sekali barang bawaannya mas? " tanya salah satu pengurus panti itu.


"iya tadi mommy sekalian beli bahan keperluan dapur, makanya banyak. itu nanti kue kuenya di kasih ke anak anak langsung ya mbak, mereka sudah makan siang kan? " tanya Al memastikan, karena disana, anak anak di larang makan camilan sebelum makan berat karena di khawatirkan nanti anak anak akan mudah kenyang hingga tak ingin makan nasi lagi.


"sudah baru saja, setelah itu mereka menunggu rombongan kalian datang" jawab pengurus psnti itu.


"ya sudah, bagus itu.. " Al dan pengurus panti itupun kemudian membawa barang barang mereka masuk ke dalam panti.


sementara di dalam, Dinar tengah duduk diam mendengar pembicaraan antara mertuanya dengan bu Fatma, ia sedikit paham kemana arah pembicaraan mereka, yaitu membahas kesiapan rencana pesta pernikahan mereka yang akan di gelar di hotel bintang lima.


"percakapan orang tua pasti membosankan kan, kamu kalau mau melihat anak anak, kesanalah ajak suami mu, nanti setelah ini kami akan menyusul" ucap bu Fatma kepada Dinar yang sedari tadi hanya diam saja. ia paham jika cucunya itu sedang merasa canggung berada di antara wanita tua seperti mereka jni.


"bolehkah nek? " tanya Dinar berbinar, ia sedari tadi ingin sekali bermain bersama anak anak yang menyambutnya tadi, tapi ia masih canggung untuk bilang kepada mertuanya karena mereka langsung di ajak ke ruangan bu Fatma.


"boleh, itu suami mu sepertinya sudah selesai menurunkan bawaannya, jadi sana pergilah ajak anak anak bermain, mereka pasti senang karena mendapat teman baru yang cantik"


"Dinar biasa aja kok nek, baiklah Dinar ke tempat anak anak dulu ya nek. permisi" pamit Dinar kemudian menghampiri Al yang baru saja muncul dari arah dapur.


"sudah selesai mas? " tanya Dinar kepada Aldrich


"sudah baru saja. ada apa? " tanya Al


"ayo kita ke tempat anak anak, tadi nenek sudah memberi izin kita untuk kesana" ajak Dinar


"oke, tapi tunggu dulu, itu mbak Ida masih di dapur lagi nyiapin kue yang kamu buat tadi buat anak anak, lebih baik kita ke dapur dulu baru setelah itu ke tempat anak anak sekalian ngasih kue kuenya ke mereka, gimana? " tanya Al


"boleh deh, ayo kita kesana... " Dinar menyetujui kemudian mengikuti Al berjalan menuju arah dapur.


Al tentu sudah paham tentang seluk beluk bangunan itu sebab sedari kecil ia sering sekali berkunjung kesana, dari yang bangunan biasa hingga menjadi bangunan yang lebih besar seperti saat ini.