OH MY WIFE

OH MY WIFE
109



Aldrich dan Dinar saling berpandangan seolah mengatakan jika dugaan mereka benar adanya, namun hal itu hanya mereka pendam sendiri sebab masih ada tante Tia dan om Irfan disana.


sepeninggalnya Abian, Aldrich mendekati pasangan paruh baya itu untuk berpamitan pulang sebab hari sudah sore.


"om, tante saya izin pulang dulu ya sebab hari sudah sangat sore. semoga setelah ini Luna dan Leo segera sadar dan pulih seperti sedia kala"


"aamiin, terima kasih nak Al, meskipun putri kami pernah membuat mu kecewa tetapi kamu masih peduli dengan dia, sekali lagi terima kasih, maaf selalu merepotkan kamu" ucap tante Tia tulus


"tidak apa apa tan, sekarang ini saya sudah menganggap Luna seperti adik saya sendiri jadi tidak merepotkan sama sekali, saya pamit dulu, om, tante... "


"ya sudah, kalian hati hati di jalan, sekali lagi terima kasih Al, Dinar... "


Aldrich dan Dinar mengangguk kemudian langsung undur diri.


Di perjalanan pulang pun keduanya masih sama sama terdiam, mencerna setiap kejadian kejadian yang mereka lihat hari ini.


"mas... " panggil Dinar membuat Aldrich menoleh sesaat setelah itu krmbali fokus pada kemudinya.


"ya sayang? "


"jadi mas Abian itu rekan bisnis nya mas? "


"ya sayang. dulu waktu kamu kecelakaan sebenarnya aku akan mengadakan meeting dengan dia"


"lalu? "


"setelah jadwal meeting di reschedule, akhirnya kami meeting bersama dan melakukan kerja sama. dan sejauh ini aku tak menemukan hal janggal tentang dirinya, maka dari itulah aku percaya dan bersedia menjalin kerjasama dengan perusahaan nya"


Dinar mengangguk, meski ia sudah mengetahui cerita aslinya namun ia tak berani menyimpulkan apapun sebab masalah ini bermula karena dendam masalalu dan ini juga menyangkut mertua laki lakinya.


"sudah jangan di pikirin lagi sayang, semua yang ada di pikiran mu kurasa benar. sudahlah tidak perlu di pikirkan lagi, toh semua sudah selesai. jika tidak ada masalah ini, belum tentu kita bisa dekat dan akhirnya menikah, bukan begitu?" tanya Aldrich


"ya, kamu benar mas. tapi, kalau aku boleh saran. lebih baik mas katakan hal ini pada daddy, walau bagaimana pun juga hal ini juga menyangkut masalalu beliau, aku berharap jika masalah ini berhenti sampai disini dan tidak ada lagi dendam dendam yang lainnya"


"setelah ini aku akan bicarakan hal ini sama daddy" Aldrich pun menyetujui permintaan sang istri.


kini mobil yang di kendarai Aldrich pun telah sampai di depan rumah, ia segera keluar kemudian mengitari mobil dan membukakan pintu untuk sang istri. "silahkan istri ku"


"makasih mas... "


keduanya sampai di kediaman utama disaat adzan maghrib berkumandang, Aldrich dan Dinar segera masuk ke dalam rumah, disana rumah dalam keadaan sepi, hanya ada bibi yang masih berlalu lalang sekedar menutup pintu dan jendela.


"pada kemana semuanya bi? " tanya Aldrich pada asisten rumah tangga nya


"semua lagi di mushola samping tuan muda, ada yang bisa bibi bantu? "


"oh tidak ada bi, saya hanya bertanya hal itu saja. terima kasih ya kalau begitu saya ke atas dulu"


"makasih ya sayang" ucap Aldrich setelah selesai sholat dan ia mengecup kening sang istri.


"untuk? "


"semuanya... besok pagi kamu ada acara? " tanya Aldrich


"aku kan pengangguran kalau kamu lupa, jadi aku di rumah saja" Dinar memanyunkan bi birnya seolah olah tengah merajuk


"haish, bisa bisanya orang disuruh diem di rumah malah kayak gini, jadi pengen aku makan sekarang deh kalau kayak gini"


"besok pagi kamu bersiap siap ya, setelah sarapan kamu ikut aku! "


"kemana, ke kantor? " tanya Dinar.


"bukan, pokoknya kamu siap siap saja dan ikuti semua yang aku katakan, oke! "


"hm, baiklah, tapi jangan terlalu pagi ya mas, kan disini masih ada bapak ibu dan para sesepuh, nggak enak juga kalau kita tinggal tinggal terus"


"iya sayang. ya sudah aku kita turun ke bawah, kalau kita nggak segera turun, pasti mereka akan berpikir yang tidak tidak" Aldrich segera berdiri kemudian membantu sang istri berdiri. ia juga nerapikan sejadah sedangkan Dinar melipat mukenanya kemudian beralih menyambar jilbabnya yang ia letakkan di atas kasur.


"ayo mas"


Di lantai dasar, semuanya masih berbincang, sepertinya mereka baru saja masuk ke dalam rumah melihat oma dan nenek yang masih belum duduk. Aldrich dan Dinar segera mendekati keluarga nya dan ikut bergabung disana.


"katanya sebenar kak, kenapa sampai malam? " tanya mommy Citra


"tapi dijalan ada kecelakaan mom, jadi kita terjebak macet disana" jawab Aldrich berbohong.


Dari arah dapur, bibi datang menghampiri mommy Citra, ia menunduk dan mengatakan jika makan malam sudah siap.


"baik bi, makasih ya, kami akan segera kesana" ujar mommy Citra


"pa, ma, ibu... ayo kita makan malam dulu. besan ayo kita makan malam mumpung pengantin baru kadaluwarsa kita sudah ada disini juga" ajak mommy Citra


semuanya mengangguk kemudian beranjak dari duduknya menuju ruang makan.


20 menit berlalu, setelah makan malam, Aldrich mendekati daddy Marcello kemudian mengajaknya ke ruang kerjanya.


"ada apa Al, apa ada masalah di kantor? " tanya Daddy Marcello ketika Aldrich mengajak ke ruangannya.


"sudah nanti aku akan katakan, sekarang ke ruang kerja ku dulu dad! "


dan setelah itu keduanya masuk ke dalam ruang kerja Aldrich yang letakknya tak jauh dari ruang keluarga.