
Hari demi hari pun berlalu, Pagi pagi sekali Al telah siap berkemas, ia memasukkan beberapa setel pakaian santai sebab rencananya ia akan menginap dua hari di kampung halaman Dinar, ya, sesuai rencana awal bahwa sabtu ini Al akan ikut pulang bersama Dinar.
atasan hoodie serta celana jeans menjadi pilihannya saat ini, Al kembali mematut dirinya di depan cermin, dirasa sudah cukup ia bergegas untuk turun ke bawah untuk sarapan sebelum berangkat.
"pagi mom, dad... " sapa Al kepada kedua orang tuanya begitu sampai di ruang makan
"pagi.. "
"pagi sayang, jadi berangkat hari ini? " tanya Citra sembari mengoleskan selai di atas roti untuk suaminya
"jadilah mom, nih Al sudah siap setelah ini berangkat" jawab Al kemudian duduk berseberangan dengan sang mommy
"kamu yakin nih nggak bawa mobil sendiri, nggak biasanya loh Al kamu kalau pergi pergi nggak bawa mobil sendiri?" tanya sang mommy
"yakin lah mom, kan nanti aku berangkat bareng temen jadi nggak perlu mobil segala" jawab Al kemudian memulai sarapannya.
pagi itu Al sarapan dengan terburu buru karena sebelumnya ia telah merencanakan dengan Dinar agar nanti berangkat pagi agar bisa menghindari macet apalagi hari libur seperti ini.
sementara di kosan Dinar, tak begitu jauh dengan Al kini Dinar tengah berkemas, tak banyak yang ia bawa sebab jika pakaian pun di rumahnya masih ada untuk ia kenakan disana.
setelah selesai Dinar pun langsung keluar dan mengunci pintu kamar kos nya kemudian menghampiri kamar kos di sebelahnya.
tok
tok
tok
ceklek
"loh Din beneran kamu mau pulang kampung? " tanya Mia terkejut ketika melihat Dinar sudah rapi dengan tas di punggungnya
"ya beneran lah Mi, masak aku bohong sih, kamu kan kemaren juga lihat sendiri kalau aku ngajuin cuti " jawab Dinar. ya, hari pertama dirinya masuk kerja, Dinar langsung mengajukan Cuti di waktu jam istirahat agar bisa segera di acc sebab jika terlalu mepet waktu izin, Dinar pasti akan di larang sebab izin mendadak.
"kirain boongan Din, trus mau langsung ke terminal nih, sudah sarapan? " tanya Mia
"sudah kok, ya sudah aku berangkat dulu ke terminal ya Mi, takut kesiangan nanti malah macet, assalamualaikum "
"ya sudah hati hati ya, salam buat bapak ibu di rumah, wa'alaikumsalam" jawab Mia kemudian melambaikan tangannya kepada Dinar
Dengan cepat Dinar menghentikan angkot menuju ke terminal, sesampainya di terminal ia langsung mencari keberadaan Al yang katanya di telepon tadi sudah berada di terminal dan sekarang sedang menunggunya di kantin
"mas Al.. " panggil Dinar di depan Al
sedangkan Al yang di panggil pun mendongakkan kepalanya kemudian tersenyum masam, sembari berkata "telat lima menit" ucapnya datar
"baru juga lima menit mas Al, tadi di angkotnya kejebak macet jadinya lama, maaf ya jadi nunggu" ucap Dinar tak enak hati sebab dirinya yang ingin pulang tetapi Al yang harus menunggu
"ya sudah mana nih bis nya kita berangkat sekarang aja biar nggak kesiangan" ajak Al kemudian beranjak. sedangkan Dinar mengikuti langkah Al sembari menunjuk salah satu bis yang nanti akan mereka naiki.
"itu loh mas, bis warna biru" tunjuk Dinar kepada salah satu bisa yang sedang berhenti
"oke kita langsung aja kesana.. " ucap Al dengan terus berjalan menuju ke arah bis berwarna biru.
setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, mereka kini telah sampai di kampung halaman Dinar, perjalanan menuju ke kampung Dinar memang membutuhkan waktu yang lama, sebab berada di luar kota. Al yang tidak pernah menaiki bis dalam waktu yang lama pun menjadi mabuk setelah sesampainya mereka di terminal.
"hoek.. "
"hoek.. "
di dalam kamar mandi Al mengeluarkan semua sarapan yang ia makan tadi pagi, ia nampak begitu pucat setelah keluar dari kamar mandi, Dinar yang melihat Al yang nampak pucat pun langsung menuntun Al menuju kursi tunggu kemudian memberikan minyak angin untuk Al tak lupa memberikan teh hangat dalam plastik agar dapat mengembalikan tenaganya.
"gimana sekarang keadaan mas Al, apa sudah enakan? " tanya Dinar dengan raut wajah cemasnya
"sudah lebih baik, huh nggak nyangka aku bakalan mabuk begini, biasanya nggak pernah kayak gini" keluh Al mengelus perutnya, setelah itu ia meminum teh nya, bahkan ia tak peduli jika teh yang di berikan Dinar di bungkus plastik dengan sedotan berwarna merah
"kok bisa ya, apa gara gara tadi berdesak desakan jadi mas Al mabuk? " pikir Dinar
"bisa jadi sih.. ya sudah kita lanjut aja lagi perjalanannya" ajak Al setelah merasa badannya kembali normal
"mas Al yakin, sudah nggak pengen muntah lagi? " tanya Dinar memastikan
"sudah yakin, makasih ya untuk teh nya" ucap Al sembari memperlihatkan plastik berisikan teh yang sudah tinggal sedikit.
"sama sama mas, ya sudah ayo kita jalan lagi" ajak Dinar kemudian beranjak berjalan menuju perkiran angkot yang sedang menunggu penumpang.
kini angkot sudah berhenti di sebuah perempatan jalan utama kampung Dinar, keduanya turun dari angkot kemudian segera mencari tukang ojek yang biasanya mangkal disana, biasanya Dinar akan berjalan kaki sembari menikmati pemandangan yang ada di sekitarnya karena jarak antara rumah dan pangkalan ojek memang tidak terlalu jauh, tetapi karena Al yang baru saja mabuk alhasil Dinar memutuskan untuk naik ojek agar segera sampai di rumah.