OH MY WIFE

OH MY WIFE
107



Dengan langkah pasti Aldrich dan juga Dinar masuk ke dalam restoran. kedatangan mereka langsung di sambut senyuman oleh salah satu pelayan disana.


"selamat datang tuan, nona... " ucapnya sembari tersenyum


keduanya mengangguk " bisa tunjukkan meja atas nama Luna mbak? " tanya Dinar


"tuan Aldrich dan nona Dinar? baik, mari saya antar"


ketiga orang itupun kemudian berjalan masuk menuju ruangan vip yang sebelumnya telah di pesan oleh Luna.


"ini ruangannya tuan, anda bisa langsung masuk ke dalam" ucapnya kemudian undur diri.


Dinar dan Aldrich lantas berpandangan, setelah Dinar mengangguk barulah Aldrich mengetuk sebentar kemudian langsung membukanya.


Dilihatnya disana Luna telah menunggu keduanya, namun bukan itu fokus Aldrich dan Luna, melainkan anak kecil yang bersama dengan Luna.


"kalian sudah datang" Luna beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Dinar, tak lupa ia cipika cipiki layaknya seorang teman.


"istri mu sangat cantik Al, kamu beruntung bisa dapatkan dia" puji Luna membuat Dinar tampak malu malu


"maaf menunggu lama mbak" ucap Dinar.


"tidak, aku juga baru saja sampai, ayo silahkan duduk" ajak Luna. ia mempersilahkan Aldrich dan Dinar untuk duduk.


sedari tadi Aldrich tak mengeluarkan kata kata apapun, ia hanya fokus pada anak kecil yang tengah duduk di kursi bayi sembari tangannya memegang camilan bayi.


Luna yang menyadari arah pandang Aldrich pun tersenyum. "dia Leo" ucapnya memecah keheningan.


Keningnya semakin mengkerut setelah mendengar ucapan Luna, anak kecil yang pernah di jumpai Aldrich bernama Leo, lantas apa hubungan keduanya, pikir Al


"dia putra ku! " serunya memperjelas.


Dinar nampak kaget, ia pikir Leo adalah keponakan Luna. tetapi, setelah ia mengetahui faktanya, ia sedikit terkejut kemudian otaknya berpikir jauh, mencoba menerka merka segala sesuatu yang pernah terjadi.


"bagaimana bisa? " tanya Aldrich. pasalnya keduanya hilang kontak selama 3 tahun, dan pria kecil di hadapannya kini ia perkirakan berusia 2 tahunan, tudak mungkin bukan?... Aldrich menggeleng ketika teringat akan sesuatu.


"inilah yang ingin aku katakan kepada kalian berdua, Al, yang ada di pikiran mu itu benar, dan inilah hasilnya" ucap Luna sembari tersenyum dan menatap putranya, senyumnya begitu tulus ketika mengatakan hal itu


"jadi mbak Luna sudah menikah? " tanya Dinar, ia tahu jika Luna adalah tunangan suaminya dulu, tapi untuk saat ini ia tak begitu mengetahui semua yang telah terjadi.


Luna menggeleng sebagai jawaban. "aku belum menikah"


"jadi? "


"dulu aku pernah di perk*sa, dan hingga mengandung Leo"


"astaghfirullah.... " Dinar sampai membekap mu lutnya sendiri, ia sungguh tak menyangka jika Luna mengalami musibah sebesar itu.


Aldrich pun juga turut merasakan perih di dadanya manakala Luna mengatakan hal itu meskipun dirinya telah mengetahui kebenarannya


"baiklah, akan menceritakan kepada kalian berdua tentang apa yang telah terjadi hingga aku memutuskan untuk menjauh dari Al, bahkan harus membuat berita bohong itu. sebelumnya maaf ya Din, jika nanti apa yang aku katakan membuat kamu cemburu, aku hanya ingin mengatakan kebenarannya sehingga aku bisa tenang ketika meninggalkan kota ini"


Dinar mengangguk, ia mencoba memahami keadaan Luna, dapat Dinar lihat dari sorot mata Luna yang terlihat begitu banyak kesedihan.


"Dulu ketika aku masih sekolah aku sempat dekat seorang pria, ia bernama Abian Ardianto, namun suatu ketika aku membuat dirinya malu hingga ia mendendam terhadap ku"


"paginya aku mendapati tu buh ku yang terasa begitu sakit, dan aku melihat ada dia di sebelah ku, disaat itulah aku menjerit histeris."


"sebelum aku pergi meninggalkan dia, dia berkata jika dia tengah menuntaskan balas dendamnya kepada calon suami ku sekaligus pada ku"


Luna terisak ketika menceritakan kenangan pahitnya, namun itu harus ia lakukan agar tidak ada yang mengganjal di hatinya. Dinar lantas mendekati Luna, ia mengelus lengan Luna mencoba untuk menengan kan dirinya.


"maaf Al, jika aku sempat membuat mu frustasi akibat berita bohong yang sudah aku buat, seharusnya dulu aku berkata jujur pada mu, agar kamu tak perlu merasakan frustasi dan hanya membuat Abian menjadi bertambah senang sebab tujuannya terwujud begitu sempurna"


"sebentar mbak, untuk apa Abian membalas dendam pada mas Al, dan menginginkan mas Al frustasi? " Dinar begitu tak mengerti jalan cerita yang sebenarnya terjadi.


"inilah inti yang ingin aku sampaikan, terutama untuk mu Al, jaga istri mu baik baik. sebenarnya aku juga baru mengetahui kebenaran apa yang mendasari pria itu melakukan semua ini.


Al, dulu di masalalu sesaat setelah om Marcello menikahi tante Citra, seorang wanita bernama Clara mencoba mendekati daddy mu namun daddy mu menolaknya, hingga pada suatu ketika wanita itu berniat mencoba menjebak daddy mu, namun rencana wanita itu gagal dan daddy mu sangat murka hingga sampai membuat wanita itu depresi di buatnya.


setelah itu wanita itu di buang entah kemana, yang pasti jauh dari keluarganya hingga ia di perk*sa oleh orang di jalanan hingga ia melahirkan seorang putra yang di beri nama Abian Ardianto. dan ketika dewasa, putranya ingin membalas dendam pada keturunan daddy mu, yaitu membuatmu depresi melihat kekasih mu di tiduri oleh orang lain. namun setelah hal itu terjadi, ia baru mengetahui fakta aslinya jika ibunya adalah penyebab utama, bukannya korban. hal itu membuat Abian merasa bersalah, namun semua sudah terlanjut terjadi"


"Al, aku hanya ingin menyampaikan, jika ini bukan sepenuhnya salah daddy mu, jadi aku harap hubungan mu dengan daddy mu akan baik baik saja setelah ini, aku memberitahu kamu agar nanti jika kamu mengetahui dari daddy mu, kamu tak akan terkejut. dan juga jaga istri mu agar tidak ada yang mengusiknya, pikirkan baik baik tidakan yang ingin kamu lakukan agar semua yang telah terjadi tidak terulang kembali.


bahagia ya kalian berdua, aku pun sekarang sudah bahagia setelah mencoba mengikhlaskan semuanya, pertemuan ku hari ini juga karena aku ingin berpamitan dengan kalian berdua, sekali lagi, aku minta maaf atas semua perbuatan burukku yang pernah aku lakukan apda mu Al, selamat berbahagia di kehidupan masing masing"


"mbak... " Lirih Dinar, wanita itu sedari tadi pun sudah menangis ketika Luna mulai membicarakan masalalunya.


"kamu gadis baik, langgeng terus dengan Al ya, semoga segera dapat momongan nanti biar bisa main sama Leo" hibur Luna, padahal hati wanita itu juga sangat rapuh.


Dinar langsung menghambur kepelukan wanita itu, Dinar kira Luna akan meminta dirinya untuk meninggalkan Aldrich namun wanita itu justru mendoakan agar rumah tangganya langgeng bersama sang suami.


"mbak, makasih ya sudah mengikhlaskan mas Al untuk Dinar, sungguh Dinar sebelumnya sempat berpikir buruk kepada mbak Luna, maafin Dinar ya mbak"


"wajar kamu mempunyai pikiran seperti itu, namun yang harus kamu tahu bahwa suami kamu itu hanya akan memiliki satu wanita di hatinya, jadi kamu nggak perlu khawatir... "


setelah menjelaskan smeuanya kepada Aldrich dan Dinar, Luna lantas pamit, ia segera berdiri di susul oleh Aldrich dan Dinar.


"Al, bolehkan aku memelukmu, hanya sekali ini saja sebagai tanda perpisahan? " tanya Luna.


Aldrich menatap sang istri, Dinar mengangguk sebagai jawaban.


Aldrich lantas mengangguk atas pertanyaan Luna, hingga tanpa menunggu apapun, Luna langsung menubruk tu buh Aldrich dan menangis disana.


pelukan hangat dan harum wangi khas Aldrich setelah ini tak akan pernah bisa ia rasakan. sekuat apapun dirinya mencoba tegar, namun hatinya masih terasa sakit ketika harus merelakan orang terkasihnya bersama wanita lain. namun Luna sadar diri jika dirinya sekarang bukan siapa siap lagi bagi Aldrich.


"terima kasih Al" ucap Luna setelah mengurai pelukannya.


"jaga diri baik baik. maaf atas semua yang sempat menimpa mu, maaf karena masalalu keluarga ku, kamu turut menjadi korbannya. aku harap kamu selalu bahagia dimanapun kamu berada Luna" ucap Aldrich tulus.


Luna mengangguk kemudian meraih cincin yang masih tersemat di jari manisnya "aku kembalikan cincin ini pada pemiliknya"


"aku ikhlas memberikan itu dulu pada mu Lun"


"ambillah, jika aku terus menyimpannya, itu hanya akan mengingatkan ku pada mu Al, dan aku tak ingin hal itu terjadi. lagipula jika hal itu tak terjadi, belum tentu sekarang aku memiliki Leo, penguat ku"


"baiklah, jika kamu tak ingin menerimanya, aku akan mengambilnya kembali" Aldrich menerima cincin itu kemudian memasukkan nya ke dalam saku celananya.


"ya sudah aku pamit pulang dulu ya... " Luna meraih Leo kemudian menggendongnya dan berjalan keluar.