
Menempuh perjalanan jauh sendirian setelah pulih dari mabuk bukan hal mudah di lakukan oleh Aldrich. pria itu beberapa kali terlihat melipir ke pinggir jalan guna memijit kepalanya yang sedikit pusing meskipun tak sepusing tadi pagi.
ia begitu gegabah tak memikirkan keadaannya sehingga dengan santainya berangkat menyusul sang istri tanpa membawa supir, kini ia baru merasakan pusing ketika sudah berangkat menuju kampung halaman sang istri.
"ck, harusnya tadi aku bawa supir saja kalau tahu begini. ayo semangat Al, sebentar lagi sampai" ucapnya menyemangati diri sendiri
Aldrich kembali menjalankan mobilnya yang baru saja melewati terminal, itu berarti sebentar lagi dirinya akan segera tiba di rumah sang istri.
kini Aldrich telah sampai di halaman teras rumah sang istri, dapat ia lihat jika keluarganya baru saja keluar dari rumah, sepertinya mereka akan kembali ke kota setelah ini.
"mommy dan yang lainnya sudah rapi, tapi kenapa istri ku masih santai saja, bukankah mereka akan kembali ke kota? " tanya Aldrich pada dirinya sendiri.
ia kembali melihat ke arah teras rumah sang istri, disana sang mommy menatap ke arah mobilnya dengan tatapan tajam seolah akan memakan nya hidup hidup.
tak ingin berlama lama di dalam mobil, setelah selesai memarkirkan mobilnya dengan benar Aldrich bergegas turun kemudian menghampiri keluarganya yang masih berdiri di teras.
"sayang, kamu pilang kenapa tidak mengabari aku? " tanya Aldrich semakin mendekat ke arah Dinar yang sontak membuat Dinar langsung mundur.
tak taukah Aldrich jika sang istri kini tengah dalam mode kecewa kepada dirinya, tapi dengan tak tahu malunya dirinya memberikan pertanyaan seperti itu, seolah tak pernah terjadi sesuatu terhadap keduanya.
sebelum Aldrich berhasil meraih sang istri untuk ia peluk, mommy Citra segera menepis tangan sang putra, sembari mendelik ke arahnya.
"mau apa kamu kesini? " tanya mommy Citra ketus, tak biasanya mommy Citra bersikap dingin terhadap putra putrinya, dan ini bisa di bilang kali pertama Aldrich mendapati sang mommy sepertinya tak bersahabat dengan dirinya.
"jelas Al kesini mau jemput istri Al lah mom, mau apa lagi"
"baru ingat kalau kamu punya istri! kemarin kamu kemana saja hah, kamu membiarkan menantu mommy sendirian di atas pelaminan sedangkan kamu kabur entah kemana, kamu nggak mikir gimana perasaan menantu mommy kemarin dan sekarang dengan seenak nya kamu mau jemput Dia? " cecar sang mommy dengan suara tegas, mommy Citra yang biasa nya lembut kini dengan lantang memarahi snag putra di depan besannya.
Aldrich menunduk, ia mengakui jika tindakan yang ia ambil kemarin adalah sebuah tindakan yang salah, akan tetapi hari ini dirinya ingin meminta maaf secara langsung kepada sang istri.
"Al minta maaf mom, semua itu di luar kendali Al" lirih Aldrich
"kenapa meminta maaf sama mommy, seharusnya kamu meminta maaf kepada menantu mommy, dan selesaikan masalah kamu secepatnya"
iya iya mom.. "
"maafin mas ya, kemarin mas langsung pergi tanpa mengatakan apapun pada mu, maaf karena kemarin meninggalkan kamu sendirian di atas pelaminan, sekarang mas datang ingin meminta maaf sekaligus menjemput kamu untuk pulang ke rumah kita. kamu mau kan? " tanya Aldrich harap harap cemas dengan jawaban sang istri, karena ia melihat ada keraguan yang tergambar jelas di mata dang istri
Dinar menatap sang ibu, kemudian beralih menatap sang mertua, melalui isyarat mata, mereka seolah menyerahkan semua nya kepada Dinar.
"lebih baik mas Al pulang saja, biarkan aku di sini lebih dulu"
Aldrich menggeleng tanda tak setuju "tidak sayang, kamu istri mas, jadi kemana pun mas pergi kamu juga harus ikut! " seru Aldrich egois.
"biarkan Dinar tinggal sementara disini mas, Dinar ingin menenangkan diri dulu, setelah itu Dinar akan pulang, lebih baik mas Al pulang saja, tak usah membujukku untuk pulang sekarang, dan Dinar mohon keridhoan mas Al untuk mengizinkan tinggal disini bersama ibu dan bapak"
"kalau kamu disini, mas juga harus disini menemani kamu, mas tak akan membiarkan kamu sendirian lagi"
Dinar menggeleng, "aku bersama ibu dan bapak, jadi lebih baik mas pupang dulu, setelah aku merasa tenang, baru kita bicara lagi, maaf sekali lagi mas, aku hanya ingin menenangkan diri ku terlebih dahulu"
"nak Al, bapak sebenarnya kecewa dengan kelakuan nak Al kemarin, tapi meski begitu, bapak tidak bisa membenci nak Al sebab nak Al adalah menantu bapak, bapak selaku orang tua dari Dinar meminta nak Al untuk pulang lebih dulu, biarkan putri bapak disini untuk sementara waktu, sembari menunggu kesiapan hatinya untuk membicarakan permasalahan kalian.
jangan, jangan berusaha menyelesaikan sekarang jika Dinar tak ingin mengatakan apapun karena bapak khawatir jika kalian berdua perang mulut itu tak baik untuk rumah tangga kalian, hal ini juga guna untuk menghindari sesuatu yang buruk yang bisa saja terjadi" jelas pak Beni panjang lebar setelah ia sedari tadi diam saja.
Al bungkam, ia terasa tertampar oleh perkataan mertuanya, padahal tadi ia sudah berekspetasi tinggi jika mertuanya mampu membujuk Dinar untuk pulang bersamanya, tapi kini justru ia kalah telak, sang mertua justru mengusir secara tak langsung dengan kata kata yang barusan ia ucapkan.
Aldrich menatap sendu sang istri yang tak ingin menatap kearahnya, ia mencoba untuk meraih tangan sang istri, namun dengan cepat Dinar menjauh darinya.
"baiklah, mas akan pulang lebih dulu, kamu jaga diri baik baik ya disini, kalau ingin apa apa tinggal telpon mas saja, mas usahakan agar segera sampai disini dengan cepat" pada akhirnya Aldrich pun memilih untuk mundur, ia harus menghargai keputusan sang istri yang meminta untuk tinggal sementara di rumah ibunya.
"kalau begitu mas pamit pulang dulu ya, jika ada apa apa segera hubungi mas" Aldrich kini berpamitan kepada kedua mertuanya.
meski kedua orang tua Dinar masih sangat kecewa akan sikap Al yang meninggalkan putri semata wayangnya berdiri sendiri di atas pelaminan, namun mereka tak lantas mengabaikan Al, apalagi pria itu barus saja berpamitan kepada dirinya.
Dinar mengangguk "hati hati dan terima kasih sudah mengizinkan Dinar tinggal sementara disini"
meski berat melepas sang suami kembali pulang ke kota, namun Dinar tetap melakukannya, sebab ia tak ingin nantinya jika Aldrich tetap tinggal, maka dirinya akan lebih sulit untuk menenangkan hati dan pikirannya. ia juga tak ingin mengedepankan emosinya ketika memaksakan untuk langsung berbicara mengenai hal kemarin. maka dari itu Dinar memilih untuk sedikit berjarak dengan ssng suami.