
Sejujurnya Dinar sendiri pun merasa terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan ibunya kepada Al, Dinar sempat melototkan matanya sebelum kemudian tersenyum geli sebab melihat gelagat Al yang nampak kebingungan hingga ia mendapati lirikan dari Al. karena kedua nya sama sama terkejut dengan cepat Dinar membantu Al menjawab pertanyaan sang ibu.
"nanti lah bu, kan ibu juga baru kenal sama mas Al" jawab Dinar membantu Al yang tampak kebingungan.
"ya nanti nya itu kapan nak, kan ibu juga pengen cepet cepet gendong cucu, kamu itu umur sudah 25 tahun belum juga nikah, temen temen mu di kampung seusia kamu itu sudah punya anak semua" cecar sang ibu
"kita beda bu, Dinar masih ingin menikmati masa muda Dinar dulu, nanti kalau udah waktu nya pasti Dinar bakalan nikah kok, iya kan mas Al" Dinar menyenggol lengan Al supaya Al mengikuti ucapannya.
"a. aah iya iya benar kata Dinar bu, biarkan Dinar menikmati masa mudanya dulu... " ucap Al gelagapan
Dirasa suasana sudah mulai tidak kondusif Al memilih untuk pamit pergi ke belakang. untung saja ada pembeli yang baru datang hal itu di jadikan al sebagai alasan untuk menghindari pertanyaan konyol dari ibunya Dinar itu.
"bu saya pamit ke belakang dulu ya, itu ada pembeli" pamit Al dengan menunjuk pembeli yang baru saja datang.
"baiklah nak Al, nanti jangan lupa main main ke kampung halamannya Dinar ya nak, biar akrab sama orang orang disana" pesan Rahayu sembari menepuk pelan lengan Al
"iya bu" jawab Al singkat dan langsung pergi ke belakang.
di belakang Al menghembuskan nafasnya lega sebab bisa menghindari bu Rahayu, meskipun telah berhasil menghindar ia tetap saja menggerutu akan tindakan ceroboh Dinar.
'dasar gadis gila, bisa bisanya menyuruh ku berpura pura di hadapan orang tua nya' gerutu Al sebal. sampai ia tak menyadari bahwa Dani sedari tadi memperhatikan dirinya yang sibuk menggerutu.
"kenapa mas Al? " tanya Dani tanpa mengalihkan pandangannya, ia masih sibuk dengan penggorengannya.
"kamu tahu nggak Dan, tadi si Dinar kan kesini sama ibunya.. "
"terus? "
"dengan entengnya dia berkata jika aku pacarnya di hadapan ibunya" . ucapan Al sontak membuat mata Dani langsung melotot ke arahnya
"serius mas? " tanya Dani tak percaya.
"beneran Dan, awalnya aku pengen bilang kalau Dinar itu bohong, tapi waktu ngelihat ibunya yang langsung sumringah, aku jadi nggak tega Dan, akhirnya aku ngikutin perkataan Dinar" jawab Al lesu
"sebentar mas jeda dulu, aku nganterin pesanan ini dulu, nanti kita lanjut lagi" potong Dani sembari menenteng keresek pesanan pembeli.
dengan agar terburu buru Dani memberikan pesanannya setelah itu segera menghampiri Al yang kini tengah terduduk di sudut ruangan.
"wah.. mas Al dapat rejeki kalau begitu" Dani yang baru saja duduk di bangku seberang Al mulai berbicara.
"mas tahu nggak kalau mbak Dinar itu di kejar kejar banyak pria, meskipun dia hanya buruh pabrik tapi mbak Dinar itu orangnya baik dan mudah bergaul. lebih lagi kan mbak Dinar juga cantik, hidungnya kecil dan mancung, bulu matanya lentik bibirnya tipis dan kulitnya pun nampak putih bersih. siapa sih yang nggak bakalan ke goda, Aku aja juga kagum sama mbak Dinar"
"percaya deh sama Dani, seiring berjalannya waktu mas Al pasti juga akan merasa nyaman jika bersama mbak Dinar, meskipun mbak Dinar itu mudah bergaul dan banyak yang mendekati, tapi hal itu tak lantas membuat mbak Dinar memanfaatkan mereka. jadi nikmati saja mas jadi pacar pura puranya mbak Dinar, siapa tahu nanti jadi pacar beneran" jelas Dani panjang lebar diiringi kekehan di akhiran
Al menyugar rambutnya ke arah belakang, sungguh ia tak mudah untuk menjalani kebohongan ini terlebih ia berbohong dengan orang yang lebih tua darinya. untung saja bu Rahayu tidak menetap tinggal bersama anak gadis nya, itu berarti Al tidak akan menjalani kebohongan itu lagi.
"sudahlah Dan, lagipula tadi hanya spontan saja kok, toh ibunya juga nggak lama kan disini, jadi nggak ada lagi pura pura jadi pacar" ucap Al pada akhirnya
"ya sudah kalau begitu, Dani kira mas Al bakalan lanjut pura pura jadi pacarnya mbak Dinar, ya sudah mas nanti ngobrol lagi, itu pembelinya udah pada datang" ucap Dani kemudian segera beranjak.
Al pun mengangguk kemudian turut beranjak dari duduknya kemudian segera menyalakan kompornya sedangkan Dani menghampiri para pembeli.
sebenarnya Al ingin bertanya dimana Dinar bekerja namun karena Dani sudah lebih dulu beranjak, Al mengurungkan niatnya dan akan bertanya di lain waktu.
*****
kini Dinar bersama ibunya berada di pasar malam yang letaknya tak jauh dari kosannya. tadi setelah dari warung tenda, keduanya memilih untuk pulang dulu ke kost untuk makan terlebih dahulu sembari menunggu adzan maghrib.
setelahnya Dinar mengajak sang ibu pergi ke pasar malam. Dinar kini sedang duduk di sebuah kursi yang memang sudah di sediakan disana bersama sang ibu dengan di temani oleh jagung bakar yang masih hangat.
"sejak kapan kamu kenal sama nak Al Dinar? " tanya sang ibu
Dinar yang tengah menikmati jagung bakarnya pun langsung tersedak, ia jadi salah tingkah sebab karena kecerobohannya akan menimbulkan banyak kebohongan selanjutnya
uhukk
uhukk
uhukk
"makan pelan pelan nak" seru sang ibu kemudian menyodorkan sebotol minum kemasan untuk putrinya.
"terima kasih bu.." ucap Dinar selepas menenggak air minumnya.
"iyaa.. ya sudah di habiskan dulu baru nanti ngobrol lagi, kalau ngobrol sekarang takut kamu kesedak lagi" ucap sang ibu yang membuat Dinar mau tak mau harus diam. namun setelahnya ia bersyukur karena bisa terhindar dari pertanyaan sang ibu mengenai Al, dan ia berharap sang ibu lupa dengan pertanyaannya tadi.