OH MY WIFE

OH MY WIFE
110



waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib. Dinar telah kembali ke kamarnya namun dirinya belum bisa memejamkan matanya sebab sang suami masih berada di ruang kerjanya dan belum ada keluar ruangan itu sama sekali.


ia khawatir akan terjadi huru hara disana, akan tetapi ia mencoba menepisnya, pikirannya terlalu jauh hingga ia bisa berpikiran sampai kesana.


di tengah pikiran yang berkecamuk di kepalanya, Aldrich tiba tiba masuk dan langsung menubruk tu buh sang istri yang masih berdiri di balkon kamar. ia memeluk dari belakang dan juga menelusupkan wajahnya pada ceruk leher sang istri.


"mas... " lirih Dinar.


"biarkan seperti ini dulu sayang! " Dinar mencoba memahami sang suami. ia pun turut merasakan kegelisahan serta kekecewaan yang dirasakan sang suami.


"sudah tenang? " tanya Dinar kala Aldrich melepas pelukannya kemudian membalikkan Dinar hingga keduanya saling berhadap hadapan.


"lebih baik kita masuk dan bicarakan hal ini di dalam! " sebelum Aldrich menjawab, Dinar menarik sang suami untuk masuk ke dalam kamar.


kini keduanya telah duduk di atas kasur dengan punggung yang menempel pada kepala ranjang. Dinar menggenggam jari jemari sang suami dengan kepala yang menyender pada pundaknya.


"aku kecewa sama daddy" setelah sekian lama akhirnya Aldrich mulai bicara


"ku pikir daddy orang yang sangat lembut, tapi ternyata aku salah. dulu dia sangat menakutkan sekali. aku nggak bisa bayangin jika dulu mommy melakukan kesalahan terus daddy akan melakukan hal yang sama, apakah aku bisa memaafkan daddy"


"sayang, aku seperti ini bukan karena aku masih menginginkan Luna jadi jangan berpikiran hingga kesana. aku hanya merasa kasihan pada nya sebab hal ini terjadi juga karena kesalahan dari keluarga ku"


Dinar tersenyum, kata itu sedikit menenangkan dirinya kala Aldrich terlihat gusar dan frustasi. ia pikir suaminya masih terjebak akan masa lalunya, namun ia salah, suaminya hanya terlampaui kecewa dengan daddynya hingga mengorbankan orang lain.


"iya mas, aku percaya sama kamu kok"


"mas, cobalah mas pikir, jika mas berada di posisi daddy, apa yang akan mas lakuin, ku rasa mas pasti juga akan melakukan hal yang sama, atau mungkin lebih. karena ini juga menyangkut harga diri daddy dan bentuk pertahanan diri dari perbuatan jahat orang lain, ya meskipun cara itu tidak di benarkan juga tapi cobalah memahami posisi daddy.


dan bukankah mbak Luna juga sudah menerima semuanya, bahkan dia tak menyesali kejadian itu sebab dengan kejadian itu, Leo ada di kehidupannya, tumbuhnya Leo di dalam rahimnya yang menjadi penguatnya"


lalu malam itu keduanya hanyut dalam cerita masalalu keluarga Aldrich. Aldrich juga menceritakan pertemuan nya dengan Luna, pembahasan yang mereka bicarakan sampai pada Luna mengalami kecelakaan pada daddy Marcello.


***


setelah sarapan bersama kini oma dan opa berpamitan untuk pulang begitu juga dengan nenek Fatma, beliau juga berpamitan pulang dengan di antar supir kediaman utama.


Dinar melepas kepergian sesepuh keluarga Smith dengan senyuman, sembari melambaikan tangannya ke udara.


"kak aku ke pabrik sekarang ya" ucap Azzam.


tadi pagi sebelum sarapan Aldrich meminta Azzam untuk mengecek pabrik miliknya sebelum Azzam ke kantornya sendiri. sebenarnya bukan masalah serius, sebab ini memang agenda rutinan Aldrich yang selalu menyambangi pabrik. namun entah mengapa Azzam begitu bersemangat jika di minta untuk ke pabrik, hal itu menjadi tanda tanya besar di kepala Aldrich.


"seneng bener di minta untuk ke pabrik. lain lagi kalau di mintai tolong buat meeting dengan klien"


"seneng dong, kan disana ada cem-.... " Azzam membekap mu lutnya yang hampir kelepasan bicara, ia lantas berlari menuju mobilnya dan segera menjalankannya.


Dinar terkekeh geli melihat dua bersaudara itu, ia lantas mendekati sang suami "ayo kita berangkat mas"


"oh iya ayo sayang"


sesuai dengan permintaan Aldrich yang akan membawa Dinar pergi, kini keduanya telah berada di dalam mobil kemudian Aldrich melajukannya dengan kecepatan sedang.


"memangnya kita mau kemana sih mas? "


"nanti kamu akan tahu sendiri sayang, sebenar lagi kita sampai"


kurang dari sepuluh menit keduanya memasuki perumahan elit di kawasan Jakarta pusat, Aldrich menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah mewah yang di halamannya terdapat taman bunga yang luas. Aldrich keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk sang istri.


"ini rumah siapa mas, temen mas? " tanya Dinar, wanita itu mengedarkan pandangannya, menyapu bersih semua pandangan yang ada disana. rumah dengan gaya minimalis dengan 3 lantai yang terlihat begitu elegant.


Aldrich tak mrnjawab, pria itu langsung mengajak Dinar menuju pintu kemudian menyerahkan sebuah kunci padanya. "bukalah... "


tak banyak bertanya, Dinar segera membuka kunci pintu kemudian mulai mendorong pelan agar pintu itu terbuka.


"SURPRISE..... " Teriak orang yang berada di dalam rumah.


Dinar terjingkat kaget hingga mengelus da da nya. bagaimana tidak, jika di dalam rumah itu ada keluarga besarnya, padahal ia ingat jika tadi setelah para tetua itu berpamitan pulang, orang tua serta mertuanya itu kembali masuk ke dalam rumah, akan tetapi saat ini mereka semua berada di rumah itu, bukan hanya itu, bahkan disana juga ada opa oma dan neneknya yang tadi katanya akan pulang ke rumah.


Dinar menoleh ke arah Aldrich, ia bingung dengan semua ini "mas... "


"kejutan untuk kamu sayang, selamat datang di rumah kecil kita" ucap Aldrich begitu menghangatkan kan.


"ma-maksud mas, ini rumah kita, kita akan tinggal disini? " Dinar mencoba memastikan jika pendengarnya tak bermasalah


"iya sayang, ayo kita masuk.. " Aldrich langsung menarik tangan sang istri untuk di bawa masuk menghampiri keluarganya, dan ia akan menceritakan semua hal yang membuat sang istri bertanya tanya.


rupanya ketika keduanya berangkat, mommy dan yang lainnya pun ikut menyusul mereka. namun bedanya rombongan mommy Citra mrnggunakan jalan terdekat sementara Aldrich sengaja mengambil jalan yang sedikit jauh agar rombongan mommy nya datang lebih dulu.


sebenarnya rumah baru Aldrich dan Dinar hanya berjarak kurang lebih 5km dari kediaman utama, namun karena Aldrich ingin memberikan kejutan untuk sang istri, maka dari itu dirinya membuat jalan yang mereka tempuh menjadi sedikit lebih lama dari waktu normalnya.


Dinar yang mendengar penjelasan sang suami pun hanya menganggukkan kepalanya, ia sangat bahagia mendapat kejutan dari sang suami hingga tak dapat berkata apa apa lagi.


"makasih ya mas, aku nggak nyangka kamu udah nyiapin ini semua buat aku, padahal kita baru dua hari bertemu" Dinar segera memeluk sang suami di hadapan keluarganya.


"sama sama sayang" Aldrich pun juga turut membalas pelukan sang istri hingga sebuah suara membuat mereka tersadar.


"waduh, kalau mau romantis romantisan jangan disini dong, aku masih di bawah umur ini loh" celutuk Azura yang membuat gelak tawa terdengar disana.


Dinar segera melepas pelukannya dengan pipi bersemu merah, ia malu, sangat sangat malu. bagaimana ia bisa lupa jika mereka saat ini tengah bersama keluarga besarnya.