OH MY WIFE

OH MY WIFE
85



Terdengar Adzan shubuh berkumandang, Dinar yang tengah tertidur pun kini mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya berulang kali, ia menoleh ke arah samping untuk melihat saudari saudarinya yang dia pikir masih tertidur, namun begitu ia menoleh ke arah kiri, alangkah terkejutnya ketika mendapati sang suami yang tengah tidur dengan posisi tengkurap, memunggunginya, ia lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah.


'ini bukan kamar tidurku' Dinar yakin jika hal ini adalah kerjaan sang suami.


ia mengguncang pelan tu buh sang suami untuk membangunkannya, ia ingin protes saja kepada suaminya yang dengan gampangnya memindahkan tidurnya bahkan ketika ia tengah bersama dengan saudari saudarinya.


"mas, bangun mas..." karena guncangan pelan tidak berefek apapun pada sang suami, Dinar lantas kembali mengguncang sang suami dengan sedikit keras.


"eengghh.. " lengguhan terdengar ketika Aldrich mulai menggeliat, ia kemudian merubah posisi tidurnya yang semula membelakangi sang istri kini ia berbalik dan menatap sang istri yang tengah cemberut.


"pagi sayang, kamu sudah bangun ya" sapa Aldrich dengan tenang.


Dinar mendengus "bukannya semalam mas sudah mengizinkan aku untuk tidur dengan kak Bella dan yang lainnya ya, kenapa sekarang aku jadi berpisah dengan mereka, ini pasti semua ulang mas Al kan! " seru Dinar.


Aldrich lantas terduduk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "salah sendiri mereka nyulik kamu dari aku, jadi aku balas saja gantian nyulik kamu dari mereka" jawaban Al membuat Dinar melotot hingga matanya nyaris keluar.


"astaga mas... kamu itu kayak anak kecil aja deh, kan juga cuma satu malam ini"


"aku nggak bisa tidur sayang, aku udah coba buat tidur tanpa kamu, tapi tetap saja nggak bisa. ya udah, dari pada aku nggak tidur dan besokannya jadi ngantuk, kan lebih baik aku nyulik kamu dari mereka"


Dinar tak lagi mendebat sang suami, karena percuma juga ia mendebat, karena akan ada banyak sekali alasan yang dapat dijadikan jawaban oleh suaminya itu.


Dinar lantas meminta sang suami untuk melihat ke kamarnya untuk memastikan apakah Bella dan yang lainnya sudah keluar dari kamar atau belum.


setelah mengecek di kamar pribadinya dan ternyata sudah kosong, Dinar dan Aldrich kini kembali ke kamarnya sendiri.


Setelah menyelesaikan ibadah sholat shubuh berjamaah dengan sang suami, Dinar kini tengah sibuk menyiapkan beberapa perlengkapan untuk ia bawa ke hotel. tak banyak memang, ia hanya butuh beberapa pakaian santai untuk ia kenakan sebelum berganti dengan gaunnya.


sementara Al kini tengah memainkan ponselnya sedang mengecek beberapa pekerjaanny


ketika keduanya tengah fokus dengan aktivitas masing masing, tiba tiba terdengar suara pintu kamarnya yang di ketuk dari luar.


Dinar yang baru saja merapikan kopernya pun segera berjalan ke arah pintu untuk segera membukanya.


"siapa sayang? " tanya Al dari dalam, ia masih fokus pada ponselnya sehingga ia sendiri tak mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


Sementara Dinar tak menghiraukan pertanyaan sang suami, ia justru kerlihat tampak mengernyitkan keningnya, menatap seseorang yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya sembari tersenyum lebar.


ia memandang lekat ke arah lelaki di hadapannya, namun berulang kali ia mencoba mengingat ingat, akan tetapi ia tak kunjung menemukan jawabannya.


sepertinya ini adalah kali pertama Dinar bertemu dengan lelaki itu.


"hai tante" sapanya senang sembari melambalikan tangannya ke arah Dinar.


"tan, tante baik baik saja kan? " tanya Pria itu yang tak kunjung mendapat respon dari Dinar.


"eh, em apa tadi, em kamu siapa? " tanya Dinar.


Belum sempat pria itu menjawab, Aldrich lebih dahulu mendekat ke arah Dinar dan melihat siapa yang datang.


"loh Edo, kapan kamu sampai? " tanya Al begitu ia melihat siapa yang datang


"om. aku baru satu jam yang lalu sampai disini, om apa kabar? " tanya Edo, ia lantas mencium punggung tangan Aldrich kemudian bergantian dengan tangan Dinar.


Edo adalah anak kedua Bella dan Gilang, dirinya kini tengah menempuh pendidikannya di luar negeri dan baru bisa pulang ketika Aldrich akan melangsungkan pesta pernikahannya. jadi bisa di bilang ini adalah kali pertama Dinar bertemu dengan Edo. pantas saja Dinar tak mengetahui tentang pria itu.


"baik, kabar om baik, sangat baik malah. hehe... "


"sayang, kenalin dia ini anaknya kak Bella yang kuliah di luar negeri, namanya Edo"


"a ah iya, maaf ya Ed aku tidak tahu kalau kamu keponakannya mas Al, lagipula ini juga kan kali pertama aku bertemu dengan kamu, jadi harap maklum ya"


Edo mengangguk "biasa saja tan, nggak masalah buat Edo. selamat ya buat pernikahan kalian, semoga langgeng dan segera dapat momongan, sebenarnya aku kesini hanya ingin menyapa tante baru ku saja, maaf kalau aku menganggu waktu kalian, dan ini kado buat tante" ucap Edo seraya memberika bingkisan kepada Dinar.


"apa ini? " tanya Dinar


"buka saja setelah selesai acara nanti malam, jangan lupa di bawa ke hotel ya tan"


"jangan lupa di bawa ya om! " serunya kepada pasutri di hadapannya itu.


setelah selesai menyapa dan memberikan hadiahnya, Edo lantas pamit, ia juga ingin segera istirahat mengingat ia belum tidur dari semalam, dan nanti siang ia juga akan turut ikut ke hotel untuk menghadiri pesta pernikahan om dan tantenya, karena tak ingin merusak acara bahagia itulah akhirnya ia memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.


sementara Aldrich dan Dinar menatap kepergian Edo dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


"ada ada saja ponakan kamu itu mas! " seru Dinar, seraya memasukkan kado pemberian Edo ke dalam kopernya.


meskipun ia merasa aneh, tetapi tetap saja Dinar menuruti perintah Edo, padahal bisa saja ia membukanya setelah Edo pergi, tapi balik lagi, ia menghargai usaha Edo yang dengan semangat memberikan hadiah kepada dirinya di pagi buta seperti ini.


"dia memang seperti itu sayang, selalu bersemangat bahkan dengan orang yang baru dia kenal, dia bahkan sangat royal kepada semua orang, tapi kamu juga harus hati hati, dia itu kadang kadang suka usil kalau lagi kumat" seru Aldrich


"apa iya mas? " tanya Dinar seperti tak percaya.


"kita lihat nanti saja untuk membuktikannya sayang" jawab Aldrich yang membuat Dinar kini merasa sangat penasaran.