
"lalu apa rencana mu setelah ini Al? " tanya opa Bagas yang sedari tadi hanya diam menyimak
Al tahu apa maksud dari pertanyaan opa Bagas, yaitu mengenai janjinya dulu ketika ia dan saudara saudarinya di berikan tugas untuk mengelola perusahaan kakeknya, ia berjanji akan menerimanya setelah ia menikah, dan kini sepertinya opa Bagas menagih janji itu pada Al.
Al bingung, meskipun semua harta kekayaan milik opanya telah di bagi rata dengan saudara saudarinya, akan tetapi ia merasa tak pantas memimpin perusahaan milik opanya, ia berpikir, Azzam lebih cocok memimpin perusahaan opanya itu.
"biarkan Azzam saja yang meneruskan perusahaan milik opa. bukankah Azzam lebih sering membantu opa ketimbang Al sendiri, jadi Al rasa Azzam saja yang memimpin perusahaan milik opa. untuk Azura dan kak Bella, kurasa mereka berdua juga tidak keberatan, sebab mereka berdua terlalu fokus dengan keluarga masing masing" jawab Al mantap. ia merasa sudah cukup satu perusahaan saja yang ia pimpin, ia merasa tak sanggup jika harus memimpin dua perusahaan sekaligus meskipun kedua perusahaan itu memiliki beberapa kesamaan.
Bella, meskipun dirinya bukan cucu kandung opa Bagas, akan tetapi beliau tetap memberikan harta kekayaannya untuk Bella sesuai porsi yang telah di bagi sama rata.
opa Bagas mengangguk, ia sepertinya juga sudah bisa menebak jawaban yang akan diberikan oleh cucunya itu, sebab dari pengamatan nya selama ini, Al memang sering kali melempar tugas yang diberikan opa Bagas untuknya pada Azzam sang adik ketika beliau memberikan tugas padanya.
"kamu yakin Azzam mau menjadi CEO di perusahaan opa, bukankah kamu tahu sendiri jika adik kamu itu hanya senang membantu tapi tidak untuk menjadi pemimpin. di perusahaan milik daddy mu saja dia menolak mentah mentah apalagi di perusahaan opa" tanya opa
"yakin opa, nanti biar Al sendiri yang berbicara masalah ini dengan Azzam" seru Al
"baiklah, opa tunggu kabar baik dari kamu Al" ucap opa Bagas
Al mengangguk, ia lantas menoleh ke arah mommy Citra "oh iya mom, untuk masalah pesta pernikahannya Al minta... "
"kamu tenang saja Al, mommy sudah mengatur semuanya, nanti mommy akan minta pendapat sama Dinar maunya seperti apa, jadi nanti kamu tinggal Terima beres saja" sahut mommy cepat, seolah ia tahu apa yang akan di bicarakan oleh putranya itu.
senyum merekah terpancar dari wajah Al, entah sejak kapan ia begitu mengagumi istrinya. ia begitu bahagia karena sebentar lagi ia bisa segera mengumumkan pernikahannya.
"bagaimana bisa mommy tahu tentang apa yang akan Al bicarakan, jangan bilang mommy cenayang" ucap Al
tuk
mommy Citra langsung memu kul kepala Al menggunakan kipas lipat milik oma Sonya.
"sembarangan bocah ini, kamu itu sudah tigapuluh tahun sama mommy, jadi mommy bisa tahu tentang apa yang ingin kamu bicarakan. pakai ngatain mommy cenayang segala. udah pokoknya kamu tenang saja, kamu fokus sama pekerjaan kamu, biar mantu mommy dan persiapan pesta kalian mommy yang atur. oke! " seru mommy Citra
"ya lagian Al belum ada bilang apa apa, mommy udah main serobot aja, mana bener lagi.
ya sudah kalau begitu, makasih ya mom. Al percayakan semuanya sama mommy"
"iya iya, sudah sana kembali ke kamar, kasihan mantu mommy ditinggal sendirian di kamar" seru mommy mengusir putranya secara halus.
"baik mom" Al yang memang sudah merindukan istrinya pun dengan semangat menyetujui perintah mommy nya tanpa ada rasa curiga sama sekali. Al langsung berdiri kemudian berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui sang istri yang masih tertidur di kamar.
"syukurlah Al benar benar bisa melupakan masa lalunya" ucap mama Sonya
mommy Citra mengangguk membenarkan ucapan mamanya itu. "alhamdulillah ma, tanpa kita berusaha apapun, nyatanya Al dapat berubah secepat ini"
"ya kamu benar, nyatanya rencana Allah jauh lebih baik dari apa yang selama ini kita rencana kan"
***
sementara Al yang hendak masuk kamar, ia membuka pintu kamarnya dengan sangat hati hati sebab tak ingin mengganggu tidur sang istri.
ia perlahan mulai membuka pintu, begitu pintunya terbuka, ia bisa melihat pemandangan yang ada di depannya. rupanya disana, di atas kasur, Dinar tengah bersandar pada sandaran kasur sembari memainkan ponselnya.
Dinar memainkan ponselnya dengan sangat serius hingga ia tak menyadari jika sang suami telah masuk ke dalam kamar dan sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"kenapa belum tidur, katanya tadi mengantuk? " tanya Al, kini dirinya sudah berdiri di samping kanan Dinar.
Dinar mendongak setelah mendengar suara Al yang sangat dekat darinya, ia lantas tersenyum kemudian menggaruk kepala nya
"ah iya, aku tidak bisa tidur mas, tadi udah coba buat merem tapi tetep sama aja, nggak bisa tidur" jawab Dinar. ia tak sepenuhnya berbohong, karena memang ia akan sulit tidur jika berada di tempat yang baru, sama seperti pertama kali ia tinggal di apartemen. namun untuk alasan mengantuk, sebenarnya ia hanya ingin menghindari sang suami saja karena ia merasa sangat canggung setelah kejadian beberapa saat yang lalu sebelum Al meninggalkan kamarnya.
"mau aku temani? " tanya Al, ia tahu jika sang istri tak bisa tidur jika berada di tempat baru.
"aku sudah tak mengantuk mas, bisa tidak kita jalan jalan berkeliling rumah, rumah ini terlalu luas aku takut nanti nyasar" ajaknya sembari tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"boleh, sebentar aku ambilkan kursi roda buat kamu dulu" Al hendak berbalik, namun Dinar segera menahannya
"nggak usah mas, aku pakai tongkat saja, nggak enak sama semuanya kalau aku harus pakai kursi roda segala" ucap Dinar.
"hei, kenapa harus malu, kamu sedang sakit dan semuanya memaklumi hal itu, lagipula mommy sangat menyayangi kamu, mana mungkin ia mampu melihat kamu kesulitan seperti ini, kamu disini dulu aku mau ambil kursi nya dulu ya" Al hendak melepas pegangan tangan sangat istri, namun Dinar menolak.
"aku jalan aja, itung itung buat latihan jalan biar nggak malas nanti kakinya "
"baiklah kalau kamu ingin jalan sendiri, ayo kita turun" ajak Al
Dinar turun dari ran jang dengan di bantu Al, ia sedikit kesulitan sebab kakinya masih sedikit nyeri, namun Dinar mencoba bersikap biasa saja.
setelah berhasil turun, Al dan Dinar segera berjalan keluar kamar hendak berjalan jalan di dalam rumah sesuai keinginan Dinar.