OH MY WIFE

OH MY WIFE
75



Keesokan paginya, tante Starla bersama dua asistennya datang ke kediaman utama untuk mengantarkan gaun, setelan jas serta beberapa pesanan mommy Citra lainnya.


Dinar yang kebetulan pagi itu sedang mandi pun segera menyelesaikan mandinya setelah mendapat kabar jika orang yang membuatkan gaun untuknya telah tiba serta dengan gaunnya.


"haduh, mommy bilang tadi katanya tante Starla bakalan kesini siang, ini masih jam sembilan tapi kok udah sampai aja sih" gerutu Dinar sembari merapikan rambutnya yang baru saja di sisir. ia seolah di buru waktu karena tidak enak jika harus membiarkan tamunya menunggu terlalu lama, padahal bibi meminta Dinar untuk tidak terburu buru karena memang tante Starla tidak di buru waktu.


setelah beres Dinar bergegas menuruni anak tangga yang lumayan panjang itu, padahal jika ia tak buru buru, ia pasti tak melupakan keberadaan lift yang sudah di sediakan disana.


"selamat pagi tante Starla.. " sapa Dinar mendekat kearah Starla.


"pagi juga cantik, wah kamu semakin hari semakin cantik aja sekarang" sapanya dengan anggun kemudian cipika cikipi bersama Dinar


"tante bisa aja, padahal aku nggak ada apa apanya dari pada tante yang paripurna ini" ucap Dinar merendah, namun sejujurnya ia sangat senang di puji seperti itu, itu berarti perawatan yang di berikan oleh mertuanya memang membuahkan hasil.


"ya bedalah, tante sudah berumur sedangkan kamu masih muda, pengantin baru lagi.. " selorohnya.


"ini tante anterin kebaya serta gaun pesanan kamu, kamu coba dulu siapa tahu ada perubahan dari ukuran dua bulan yang lalu biar nanti bisa segera di benahi" sambungnya memperlihatkan kebaya putih kepada Dinar


"baik tante, sebentar ya Dinar gantu dulu" tak membantah, Dinar segera meraih kebaya yang di berikan oleh tante Starla dan membawanya ke arah kamar tamu yang ada di lantai satu.


setelah beberapa saat di dalam kamar Dinar kemudian keluar bersama tante Starla, kebetulan disana sudah ada sang suami dan juga ibu bapak serta mertuanya yang tengah menunggu dirinya.


"bagaimana? " tante Starla langsung menanyakan pendapat semua orang yang ada di ruang tengah itu.


"bagus"


"cocok"


"pas sekali" beberapa jawaban terdengar di telinga Dinar, namun ia tak mendengar jawaban dari sang suami, kemudian ia menatap sang suami, ternyata Al sedang terbengong hingga tak menyadari pertanyaan dari tante Starla tadi.


"mas... " panggil Dinar kepada sang suami.


"eh, apa, iya sayang ada apa? " Al terkejut hingga gelagapan sendiri.


tingkah konyol yang Al tunjukkan justru mengundang tawa seisi rumah yang menyaksikan Al tampak terpesona oleh sang istri.


"Al, kau ini kenapa, terpesona ya? " goda tante Starla


pipi Al langsung memerah mendengar godaan dari tantenya itu.


"istri ku cantik sekali tante" seru Al bersemangat


"lah... baru tahu kau rupanya" sahut mommy Citra


setelah mencoba kebaya serta gaunnya, Dinar kemudian ikut berkumpul dengan anggota keluarga yang lain.


tante Starla sudah pulang 30 menit yang lalu, dan kini para ipar Dinar justru baru datang, mereka baru saja di kabari mommy Citra bahwa pakaian mereka telah siap di rumah utama, dan mommy Citra meminta anak anaknya untuk berkumpul disana.


Pernikahan Dinar akan di laksanakan 2 hari kedepan, dan rencananya nanti para tetangga Dinar akan di jemput pihak Al ke kampung halamannya untuk di antar ke tempat pesta pernikahannya.


"jangan melamun, buang beban mu itu dan mari sambut hari yang baru" ujar mommy Citra kepada Dinar yang hanya diam saja selepas kepulangan tante Starla tadi.


"em, iya mom, maaf" lirihnya


entah apa yang di rasakan Dinar tapi yang pasti dirinya tengah merasakan perasaan yang campur aduk, antara senang, sedih dan bimbang.


senang karena sebentar lagi pesta yang di nantinya akan segera terlaksana, sedih karena ia ternyata belum bisa sepenuhnya mengambil hati dang duami, bimbang akan perasaannya yang mungkin bertepuk sebelah tangan. ia takut jika ternyata mantan kekasih sang suami tidak benar benar meninggal dan akan kembali disaat hari bahagianya itu.


***


"kamu kenapa? " seorang wanita paruh baya menghampiri Luna yang tengah duduk termenung di taman samping rumahnya.


"ma... " Luna menoleh, di lihatnya sang mama tengah berjalan ke arahnya


"Leo dimana ma, kok nggak sama mama? " tanya Luna kepada mamanya


"Leo sedang bermain bersama papa, kamu kenapa, sedari tadi datang diam saja, apa ada masalah? " tanya mama


"ma, bagaimana nanti aku menghadapi Al ketika ia tahu bahwa aku masih hidup ma, ia pasti akan marah besar kepada ku juga pada mama dan papa" ucap Luna.


"semua sudah takdirnya sayang, kamu tidak bisa menyalahkan diri kamu sendiri, semua sudah ada garisnya masing masing, mungkin memang kamu dengan Al tidak di takdirkan untuk menua bersama, percaya sama mama, semarah apapun Al sama kamu dan keluarga kita, Al tak akan tega menyakiti kita, Al anak yang baik, ia pasti akan memaafkan kita semua setelah kita mengatakan yang sebenarnya kepadanya" mama Tia mencoba menenangkan sang putri.


hati ibu mana yang tidak hancur mendapati nasib buruk menimpa sang anak, hingga ia harus berpiaah dengan tunangannya, namun ia tak menyesali hal itu sebab ada Leo yang hadir di tengah tengah mereka.


Luna memainkan cincin bermata satu di tangannya


"apa aku kembali saja ke Surabaya ya ma, aku tak sanggup menghadapi Al, bukan hanya Al. tetapi lelaki itu muncul lagi dan dia sudah menemukan aku ma" ucap Luna.


terlihat dari raut wajahnya jika ia memendam kesedihan yang teramat dalam.


"jangan, kamu harus menyelesaikan hal ini dulu sayang, bukankah kamu bilang jika Al sudah pernah melihat kamu, jadi mungkin ini saatnya kamu mengungkap semuanya" tutur mama Tia.


"akan aku pikirkan hal itu lagi ma" sahut Luna pada akhirnya.