OH MY WIFE

OH MY WIFE
112



Aldrich memasuki ruang meeting bersama sekretaris nya. agenda hari ini adalah rapat rutin bulanan yang biasanya di laksanakan di akhir tanggal yang akan membahas mengensi kinerja karyawan dan juga beberapa masalah internal yang sempat merugikan perusahaan.


Aldrich duduk di kursinya kemudian sekretaris nya memulai rapat paginya.


baru 30 menit dirinya masuk ke dalam ruang meeting, entah mengapa kepalanya begitu sangat pusing, pandangannya berkunang kunang, wajahnya terlihat begitu sangat pucat, ia juga membekap mu lutnya seakan ingin mengeluarkan sesuatu dari sana.


perutnya bergejolak dan ia tak dapat menahannya lagi. dengan tidak memperdulikan karyawannya yang tengah menjelaskan di depan, dirinya langsung keluar ruangan begitu saja menuju ruangan pribadinya.


Soni, asisten sekaligus sekretaris Aldrich segera menghentikan rapat pagi ini ketika melihat gelagat aneh dari bosnya itu.


"sepertinya tuan Aldrich sedang kurang enak badan. jadi meeting hari ini kita tunda dulu" ucap Soni kemudian melenggang pergi meninggalkan ruang meeting kemudian berlari menyusul Aldrich ke ruangannya.


"tuan, anda tidak apa apa? " teriak Soni. dirinya telah masuk ke dalam ruangan Aldrich. kemudian pendengaran nyantertuju pada suara orang mun tah mun tahdi dalam kamar mandi.


sementara Aldrich tak menjawab sama sekali, bagaimana ingin menjawab jika saat ini perutnya terasa di aduk aduk dan ia telah lemas.


karena tak menjawab panggilan Soni, pria itupun memanggil ob untuk membuatkan teh hangat untuk Aldrich agar pria itu nantinya sedikit tenang setelah meminum minuman hangat.


dengan berjalan tertatih, ia segera membuka pintu kamar mandi, disana Soni sudah berdiri dengan raut khawatir.


"ssya sudah memanggil dokter Derry, sebentar lagi beliau akan segera sampai" setelah ia menuntun Aldrich menuju sofa, ia bergegas keluar setelah mendengar ketukan dari luar.


Soni kembali menghampiri Aldrich dengan membawa secangkir teh hangat untuk di berikan pada Aldrich.


"minumlah dulu tuan" Aldrich segera menerima teh tersebut.


***


Dinar telah sampai di butiknya, ia segera turun dan meminta supirnya untuk kembali ke rumah.


"bapak pulang aja, nanti siang baru jemput saya lagi" ucap Dinar ketika hendak keluar dari mobil


"baik nyonya"


butik terlihat ramai, banyak para pengunjung yang berdatangan untuk membeli keperluan mereka.


Dinar kemudian masuk dan di sambut hangat oleh para karyawannya.


"selamat pagi bu... " sapa mereka.


"pagi, butik sangat ramai ya, padahal masih sangat pagi" ucap Dinar


"iya dong bu, kan kemarin banyak sekali barang baru yang datang, mungkin mereka melihat postingan di akun sosial media kita, jadi mereka langsung berbondong bondong kesini, Alhamdulillah ya bu, butik selalu ramai"


"iya kamu benar, ya sudah saya keruangan saya dulu ya, nanti saya kesini dulu" Dinar berjalan mrnuju ruangan pribadinya yang secara khusus Aldrich buatkan untuknya beristirahat ketika ia berada di butik.


"iya bu"


Dinar menghempaskan bo kong nya pada kursi yang berada di ruangannya. ruangan itu terlihat sangat rapi dan elegan meskipun tak terlalu luas, disana juga tak terlalu banyak aksesoris yang di pajang karena memang Dinar ingin mempunyai ruangan yang minim aksesoris.


"kenapa aku jadi pengen makan di warungnya mas Dani ya. coba deh tanya mas Al, siapa tahu mau nganterin kesana, lagipula sudah lama juga aku nggak berkunjung kesana" Dinar merogoh ponselnya yang masih berada di dalam tas kemudian mengirim pesan kepada sang suami.


lama menunggu namun tak kunjung mendapatkan balasan. Dinar kemudian keluar untuk membantu karyawannya yang tengah kerepotan melayani pembeli.


***


Aldrich telah tertidur pulas setelah selesai mengeluarkan isi perutnya, ia terlihat ssngat pucat padahal menurut dokter mengatakan bahwa dirinya baik baik saja.


setelah beberapa jam tertidur di ruangannya, Aldrich pun terbangun dan menatap jam pada ponselnya.


"astaga" ia langsung terduduk begitu saja setelah melihat jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul 14.30 wib.


ia tidur sangat lama bahkan rencananya yang akan pulang di jam makan siang pun tertunda. ia kemudian membaca beberapa pesan yang dikirim sang istri. ia tersenyum kemudian teringat perkatasn dokter jika bisa saja sang istri tengah mengandung dan dirinya mengalami kehamilan simpatik.


"apa istri ku benar benar tengah mengandung? apa dia sekarang sedang ngidam hingga tiba tiba meminta untuk menemaninya ke warung Dani" seulas senyum terbit dari bibirnya. ia segera beranjak dari tempat tidur untuk segera menjemput sang istri.