
Aldrich telah berangkat ke kantor bersama dengan Soni yang ia minta untuk menjemputnya tadi pagi.
wajahnya sudah tak lagi pucat seperti kemarin, bahkan mual dan pusing yang ia rasakan kemarin seolah sembuh setelah ia bertemu dengan sang istri.
"anda sudah baikan tuan? " tanya Soni memecah keheningan.
"sudah Son, mungkin kemarin aku memang kelelahan sama seperti apa kata dokter"
Soni mengangguk "lalu dengan nyonya Dinar? " ia teringat kemungkinan kedua menurut prediksi dokter yang mengatakan barangkali istrinya itu tengah mengandung sebab hal yang di rasakan Aldrich mirip sekali dengan gejala kehamilan simpatik.
"aku belum tahu, kamu doakan saja semoga istri ku segera mengan dung" jawab Aldrich.
bahkan lelaki itupun lupa ingin menanyakan perihal jadwal tamu bulanan sang istri yang akan datang, sebab kemarin ia sempat kalang kabut mencari keberadaannya.
"aamiin tuan" tak banyak bertanya, Soni kembali fokus menyetir sesekali ia melirik ke arah bos nya yang tampak sedang menekuni ponselnya.
***
Dinar telah sampai di rumah sakit, ia langsung menuju ruangan dokter kandungan setelah sebelumnya ia melakukan reservasi dan kebetulan disana juga masih sepi mengingat hari masih sangat pagi.
hatinya kian berdebar kala langkah kakinya berhenti di depan ruangan dokter kandungan. ia menarik nafasnya kemudian menghembuskannya dengan pelan untuk menghilangkan kegugupannya.
ini adalah kali pertama dirinya datang sendiri ke dokter kandungan, tidak ada suami atau ibu mertua yang menemani karena memang dirinya hanya ingin memastikan tentang kebenaran hasil tesnya tadi pagi.
hampir 5 menit ia berdiri di depan pintu ruangan dokter, kemudian dengan keberanian penuh ia mulai mengetuk pintu di hadapannya itu.
tok
tok
"masuk... " terdengar balasan dari dalam, Dinar dengan mantap kemudian mulai memutar handle pintu dan membukanya dengan pelan.
Dinar masuk di sambut senyuman hangat oleh dokter kandungan yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"bu Dinar... " sapanya ketika melihat daftar pasien.
"iya dok... " Setelah itu Dinar menceritakan semua yang ia rasakan, mulai dari ia terlambat datang bulan, sampai pagi tadi ia melakukan pegecekan dan hasilnya garis dua.
"baik bu Dinar, untuk lebih jelasnya kita lakukan usg terlebih dahulu ya, mari tidur disini" ucap dokter Sela mempersilahkan Dinar untuk tiduran.
hampir 15 menit berada di ruangan dokter, Dinar keluar dengan senyum mengembang di bibirnya, ia kembali melihat foto usg miliknya lalu mengusapnya dengan pelan.
"alhamdulillah ya Allah... " tak sabar rasanya Dinar ingin segera memberi tahu sang suami.
***
Saat ini di kediaman utama, yaitu rumah kedua orang tua Aldrich, disana tampak heboh sekali sebab secara tiba tiba putra kedua mereka yaitu Azzam, tengah meminta kedua orang tuanya untuk melamarkan gadis pujaan hatinya, padahal baik mommy Citra maupun daddy Marcello tak pernah tahu jika putra keduanya tengah dekat dengan seorang gadis.
"ayolah mom, plis, aku nggak mau kalau dia di ambil lelaki lain" Azzam mengiba pada mommynya, berharap untuk mau meminangkan pujaan hatinya.
"kamu nggak sedang kesambet kan bang, kamu aja nggak pernah bilang kalau sedang dekat dengan seoranh gadis loh , kenapa sekarang tiba tiba minta di lamarin? " tanya mommy Citra
"ceritanya panjang banget mom, lama kalau di ceritain satu satu" ujar Azzam
"sepanjang apa sih, coba deh jelasin dulu ke mommy sama daddy biar kami nggak bingung, masak mau ngelamar anak orang tapi kita nggak tahu orangnya yang mana, siapa namanya dan lain sebagainya. kamu itu minta di lamarin kayak ngajak beli bakso di depan gang aja bang" setu mommy Citra
Azzam tampak salah tingkah, ia menggaruk keningnya yang tak gatal.
"intinya, Azzam sama dia itu nggak pacaran mom, kami deket, lebih tepatnya aku yang deketin dia karena jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi dia seperti menjaga jarak dari Azzam, dia selalu bilang nggak sebanding sama Azzam karena perbedaan kasta, padahal aku sudah berulang kali memberikan dia pengertian jika keluarga kita tak pandang bulu, tapi dia tetap tak berani melangkah jauh, hingga kemarin, ketika aku menemui dia, dia bilang jika dirinya hendak di jodohkan kedua orang tuanya dengan pria yang ada di kampungnya, itu membuat Azzam tertantang dan berkeyakinan jika dirinya meminta Azzam buat segera melamar dia sebelum keduluan pria kampung itu" Azzam dengan suara yang sedikit belepotan ia menjelaskan semua yang terjadi hingga tiba tiba ia meminta kedua orang tuanya untuk melamarkan gadis pujaan hatinya.
"berarti dia bukan asli orang sini? " tanya Daddy Marcello yang sedari tadi hanya diam kini ikut menimpali.
"dia seperti kakak ipar, gadis perantauan" Azzam juga menjelaskan tentang pekerjaan wanita itu secara jujur kepada kedua orang tuanya. dan benar saja, respon kedua orang tuanya tampak biasa saja sebab mereka memang tak pernah memandang kasta dalam kehidupan mereka.
setelah mendengarkan penjelasan dari Azzam, kini baik mommy Citra maupun daddy Marcello pun mengangguk paham. mereka memahami kekhawatiran putra keduanya yang tak ingin di tikung lebih dulu, maka dari itu, ia rela merendahkan harga dirinya untuk meminta di pinangkan oleh gadis pujaan hatinya.
"kamu yakin jika wanita itu juga mau sama kamu bang? " bukan apa apa, daddy Marcello menanyakan hal ini sebab dari awal gadis itu menjaga jarak dari Azzam.
"jika tidak mau, ia tak akan memberi tahu aku akan hal ini dad! "
"baiklah, jelaskan dulu pada gadis itu, bilang jika kami akan berkunjung ke rumahnya guna untuk melamarnya untuk mu"
"baik baik, Azzam akan segera memberitahunya" Azzam tampak sumringah. ia bergegas mengambil ponselnya yang berada di dalam saku kemudian mulai mengirim pesan kepada pujaan hatinya.