
Al tengah berjalan ke arah Dinar yang sedang mendorong troli belanjaannya, ia tersenyum kemudian mengangkat tangannya untuk memberi tahu Dinar jika ia sudah kembali dari toilet namun belum sempat ia memanggil Dinar, tak sengaja matanya melihat seseorang yang sangat ia kenali tengah berjalan bersama Dinar. sontak hal itu membuat Al sangat cemas hingga ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Dinar dan ia memilih untuk bersembunyi.
otaknya kini kembali bekerja, ia menerka nerka tentang kedekatan Dinar dengan mommynya yang serba kebetulan itu.
akhirnya Al memutuskan untuk langsung kembali ke mobil, dan membiarkan Dinar berbelanja sendiri, toh dia sudah memberikan dompetnya untuk Dinar nanti membayar.
setelah beberapa saat Al menunggu Dinar berbelanja, kini ia melihat Dinar sudah keluar dari supermarket dan terlihat nampak tengah celingak celinguk sembari sesekali mengecek ponselnya, mungkin Dinar tengah mencari dirinya, pikir Al.
Setelah tahu Dinar sudah keluar, Al berniat untuk menelepon Dinar, namun belum sempat ia menelepon, lagi dan lagi sang mommy mendekati Dinar yang akhirnya membuat Al kembali mengurungkan niatnya untuk menghubungi dinar.
hampir lima menit Dinar berada di luar supermarket, tiba tiba ponsel Al bergetar, ternyata Dinar tengah mengiriminya beberapa pesan
[mas masih lama di toilet, ini aku sudah selesai belanja, sekarang aku sudah di depan]
[mas, kalau kamu masih lama, aku izin ke restoran di sebelah supermarket ini ya, kebetulan aku bertemu dengan tante kenalan ku, dan dia mengajak ku untuk makan bersama]
[nanti kalau sudah selesai kabari aku ya]
Dinar mengirimkan beberapa pesan teks untuk Al yang menanyakan keberadaannya serta meminta izin menunggunya di cafe. sontak saja Al langsung membalas pesan yang di kirim Dinar dengan cepat.
[ya, boleh. pergilah ke cafe dulu, aku ada urusan sebentar nanti aku tunggu kamu di mobil ya] balas Al.
[apa karena sakit perut tadi sampai saat ini mas belum kembali? ] tanya Dinar
[bukan, aku ada urusan lain, kamu pergilah ke cafe dulu aja] balas Al
akhirnya Al dapat bernafas dengan lega setelah melihat Dinar yang berjalan menjauhi area supermarket dengan menenteng belanjaannya.
sementara itu, Dinar sendiri yang tadi membaca pesan balasan dari Al pun mengernyitkan dahinya, ia merasa heran dengan Al yang tiba tiba ada urusan, atau mungkin sakit perut yang di alami Al sangat parah hingga ia belum kembali sedari tadi. namun begitu ia menanyakan mengenai urusan Al yang mungkin ada kaitannya dengan sakit perutnya tadi, ia bilang jika tidak. akhirnya Dinar lega sebab yang ia khawatirkan tidak terjadi.
setelah itu ia menerima tawaran tante Citra yang mengajaknya untuk mengunjungi tempat langganannya yang berada di sebelah supermarket.
"baiklah tan, ayo kita makan dulu aja" jawab Dinar menerima ajakan dari Citra.
"iya, ayo ikuti tante" setelah itu keduanya berjalan menuju restoran di samping supermarket. tak butuh lama kini keduanya sudah sampai bahkan sudah memesan makanan dan minuman.
setelah selesai makan dan berbincang, kini Dinar dan juga tante Citra berpisah di depan restoran. kebetulan baru saja tante Citra mendapatkan pesan dari anak anaknya jika mereka semua sudah datang. Jadi mau tak mau tante Citra meninggalkan Dinar sendirian disana, tante Citra juga sebenarnya menawari Dinar untuk ikut dengan dirinya pulang ke rumah, tetapi Dinar dengan cepat menolaknya dan memilih untuk langsung pulang saja.
dan kini tinggalah Dinar sendirian di depan restoran, Al yang sedari tadi mengamati restoran itu pun dengan buru buru menyalakan mesin mobilnya dan menghampiri Dinar yang sudah sendiri itu.
tun tun
Al mengklakson Dinar yang sedang terbengong menatap jalanan yang ramai, hingga membuat Dinar tersentak kaget.
'astaga.. ' pekik Dinar
"Din ayo masuk" panggil Al dari dalam mobil
"sudsh semua belanjanya? " tanya Al
"sudah mas, mas gimana perutnya, apa masih sakit? " tanya Dinar, nampak dari raut wajahnya jika ia tengah khawatir
"sudah tidak, aku sudah baik baik saja sekarang. maaf tadi nggak ngabari kamu dulu, tadi setelah keluar dari toilet aku nggak sengaja ketemu temen, jadi kita ngobrol sebentar" seru Al kenjelaskan tanpa di minta
"alhamdulillah, tadi Dinar kira mas Al masih sakit perut makanya lama gitu, ya sudah kalau sudah nggak apa apa, kita pulang aja ya mas, aku kekenyangan" ucap Dinar sembari mengelus perutnya.
Al pun tersenyum melihat Dinar yang tengah mengelusnya perutnya. "kalau ada bayinya pasti lucu" gumam Al secara tiba tiba tanpa ia sadari. sedangkan Dinar langsung menoleh ke arah Al.
"apa mas? " tanya Dinar memastikan
"eh em.. enggak ada kok, kamu salah denger kali" elak Al gelagapan.
"tap tapi aku tadi dengar.... "
"nggak ada Din, beneran deh. mungkin kamu lagi halu soalnya kekenyangan"
'bisa bisanya otak ku berfikir sejauh itu, menyentuh Dinar pun belum, mana bisa ia hamil' rutuk Al dalam hati.
"ya sudah berarti kita langsung pulang aja ya" ucap Al mengalihkan pembicaraannya.
"iya mas" akhirnya Dinar pasrah dan tak ingin mengungkitnya lagi, apalagi Al selalu mengelak membuat dirinya malas untuk mencari kebenarannya.
Al pun langsung menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju menuju apartemen nya.
hari ini sepertinya hari yang menguji kekuatan jantung Al sebab dari pagi ia harus berhadapan dengan sang mommy yang penasaran dengan kepergiaannya, setelah itu ia kembali menjumpai sang mommy, lebih parahnya lagi mommy bersama dengan Dinar yang membuat Al mau tak mau harus menjauh agar tidak ketahuan. dan sekarang, ia kembali memikirkan hal yang tidak tidak hingga di dengar Dinar yang sedang duduk di sebelahnya.
setelah beberapa saat di perjalanan kini Al dan Dinar sudah sampai di apartemen, Dinar segera membongkar barang belanjaannya dengan di bantu Al.
"ternyata ribet juga ya kalau bongkar belanjaan begini" seru Al
"iya lah mas, kan harus di pilah pilah dulu baru di simpan, tapi enaknya kalau beli sekalian gini bisa di buat stok jadi nggak harus bolak balik belanja, tapi ya gitu, uangnya harus ada juga" seloroh Dinar menanggapi ucapan Al
setelah itu keduanya kembali melanjutkan beres beres barang belanjaannya kemudian di lanjut Dinar yang menyiapkan makan siang untuk Al.
Al memilih untuk beristirahat di dalam kamar sebab hari ini ia merasa sangat lelah sekali, padahal jika ia bekerja di kantor, meski seharian ia tak merasa secapek ini, mungkin saja karena ia terlalu sering kucing kucingan dengan keluarganya hingga membuat pikiran dan fisiknya menjadi lemah.
setelah beberapa saat merebahkan tu buhnya di atas kasur, ia mendengar suara nada dering ponsel berbunyi, tentu bukan dari ponselnya sebab nada deringnya pun berbeda, ia melihat ponsel Dinar yang berada di atas nakas menyala, ia yakin jika ponsel Dinarlah yang berdering.
Al segera bangkit dari ti durnya kemudian segera menyambar ponsel Dinar yang berada di atas nakas. seketika matanya melotot ketika melihat nama si penelepon.
"Dinar... " teriak Al memanggil Dinar dari dalam kamar
sedangkan Dinar yang berada di dapur pun tergopoh gopoh mendengar teriakan Al, ia langsung mematikan kompornya kemudian berlari menuju kamar.