OH MY WIFE

OH MY WIFE
24



Di dalam ka mar Dinar kembali menitikan air matanya setelah mendengar kata SAHH dari mulut para saksi, bahkan ia langsung memeluk sang ibu yang berada di sampingnya


"sudah nak, ibu percaya sama kamu. sekarang hapus air mata mu dan temui suami mu" ucap bu Rahayu menenangkan putrinya


perlahan Dinar melepas pe lukannya kemudian menghapus sisa air matanya dengan kasar. ia menatap lekat mata sang ibu


"temani Dinar bu" ucapnya lirih


"pasti. Ibu akan menemani kamu, ayo sekarang kita keluar, tidak enak membiarkan para tamu menunggu terlalu lama di luar" ujar sang ibu kemudian menuntun putrinya keluar, namun sebelum itu bu Rahayu merapikan jilbab putrinya yang sedikit berantakan.


Dinar keluar kamar di gandeng bu Rahayu menuju ke ruang tamu kemudian di duduk kan di samping Al


"nah ini pengantin wanitanya sudah datang" ucap pak ustadz lalu meminta Dinar untuk menci um punggung tangan suaminya, kemudian beliau memimpin doa.


setelah itu pak ustadz memberikan beberapa nasehat perni kahan untuk Dinar dan juga Al yang kini sudah resmi menjadi suami istri agar mampu saling bertahan, saling melengkapi dan saling menerima satu sama lain.


"setelah ini saya harap nak Al segera mengurus surat surat di KUA agar perni kahan ini tercatat dan di akui ne gara" pesan pak ustadz di akhir kalimat


"insyaallah pak ustadz, setelah ini saya akan segera mengurusnya" jawab Al mengangguk sembari menoleh ke arah Dinar


"nak Al, mulai sekarang Dinar adalah tanggung jawab mu, bapak harap baik buruk sifat putri bapak, nak Al dapat menerimanya. belajarlah saling mencintai dan menerima satu sama lain, meskipun kalian menikah dengan cara seperti ini bapak berharap kalian bisa ikhlas menjalani rumah tangga baru kalian ini" tutur lembut pak Beni kepada sang menantu, kemudian pak Beni mengarahkan pandangannya kepada putri semata wayangnya


"Dinar, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, patuhi dan hormati suami mu, karena kini tanggung jawab atas diri mu sudah di pikul oleh nak Al, bapak sudah ikhlas dan menerima ini semua, dan bapak juga percaya kepada mu nak. maka dari itu, jangan merusak atau mempermainkan sebuah pernikahan" pesan pak Beni kepada putrinya


"insyaallah Al akan menjaga Dinar dengan baik pak" jawab Al


sedangkan Dinar nampak terisak Mendengar perkataan Al yang terdengar begitu tulus, ia bahkan merasa bersalah telah menyeret Al dalam situasi seperti ini, jika sedari awal ia berkata jujur, tidak meminta Al untuk menjadi pacar pura puranya dan tidak meminta Al untuk ikut pulang bersamanya, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, ia pikir mungkin saja ini kar ma untuk dirinya karena telah membohongi kedua orang tua nya, yang pada akhirnya menyeret dirinya masuk ke dalam situasi sulit ini.


"maafkan Dinar pak.." hanya itu yang mampu Dinar ucapkan untuk bapaknya.


setelah akad nikah dadakan selesai, para tetangga satu persatu mulai meninggalkan kediaman pak Beni begitu juga Mila. namun sebelum ia meninggalkan rumah Dinar, Mila menghampiri Dinar dan berbisik di telinga kiri Dinar


pak RT dan pak ustadz pun juga turut berpamitan untuk pulang sebab acara telah selesai. kini kediaman pak Beni kembali sepi hanya tinggal pak Beni sekeluarga.


"ibu akan mengha ngatkan makanan tadi siang karena jika memasak akan memakan waktu terlalu lama" ucap bu Rahayu kemudian berlalu ke dapur di ikuti oleh pak Beni


kini tinggal lah Dinar dan Al yang masih duduk di ruang tamu, keduanya sama sama diam karena bingung hendak kengatakan apa.


"maafkan Dinar mas..." akhirnya setelah lama berdiam diri, Dinar mulai membuka suara


"tak perlu minta maaf, semua sudah terjadi" ucap Al datar.


ia bingung hendak menyikapi seperti apa hubungannya saat ini sebab ia tidak terlalu dekat dengan Dinar, dulu ketika di warung tenda saja, mereka bertemu hanya sebatas pen jual dan pembeli, jadi sekarang dengan status yang sah sebagai suami istri keduanya sama sama bingung.


"andai saja aku tidak meminta mas Al untuk menemui bapak, semua ini tak mungkin terjadi" sesal Dinar


"jangan terlalu banyak berandai, semua yang sudah terjadi tidak bisa di ulang kembali, ini kehidupan manusia, bukan dora emon" ketus Al


"baiklah, nanti kalau kita kembali ke kota, mas Al bisa mence rai kan Dinar" mendengar hal tersebut Al langsung menoleh ke arah Dinar sambil melotot.


"apa yang kau katakan, jangan menambah dosa dengan mempermainkan pernikahan, apa kau lupa pesan dari bapak tadi hmm? " tanya Al


"mas Al juga tak ingin pernikahan ini kan, jadi untuk apa kita lanjutkan, yang ada malah rasa tak nyaman. aku bicara begitu sebab aku tak ingin menjadi penghalang masa depanmu mas" ujar Dinar


"tahu apa kamu dengan masa depan ku, sudah lah lebih baik kita segera hentikan pembicaraan yang semakin ngelantur ini. ingat, jangan mempermainkan pernikahan!" seru Al kemudian beranjak menuju ke belakang meninggalkan Dinar yang tengah gusar.


bukan tanpa sebab Al berbicara seperti itu, dulu ketika ingin menjalin hu bungan serius dengan sang kekasih, ia selalu di ingatkan oleh sang mommy untuk tidak mempermainkan sebuah pernikahan. sebab pernikahan adalah janji suci antara dirinya dengan Allah. oleh sebab itulah Al dengan tegas menolak untuk bercerai meskipun keduanya bisa dengan mudah berpisah.


Sedangkan di dapur, bapak dan ibu Dinar yang mendengarkan penuturan dari menantunya itu pun tersenyum lega, sebab meskipun perni kahan pak sa dan dadakan, Al tidak akan mempermainkan pernikahan, kini keduanya telah benar benar ikhlas melepas putri semata wayangnya untuk berbakti kepada suaminya.