
semua anggota keluarga telah masuk dan duduk lesehan di dalam rumah. Dinar yang hendak ikut duduk lesehan di tikar pun segera di tahan oleh sang suami. Al menuntun Dinar ke sebuah kursi yang berada di sudut kemudian mendudukkannya disana.
"aku nggak apa apa duduk di bawah mas" ucap Dinar protes kepada sang suami. ia merasa tak enak dengan paea tetua yang duduk di bawah sementara dirinya duduk di kursi.
"nggak apa apa bagaimana, kaki mu aja belum sembuh begini mau coba coba duduk di bawah, nanti kalau tambah parah kamu juga yang tersiksa. sudah kamu duduk disini saja aku ada di dekatmu" seru Al kemudian duduk di bawah.
bu Rahayu mendekati sang anak yang terlihat tengah berdebat dengan sang suami.
"nak Al, apa yang terjadi dengan Dinar, kenapa kakinya sampai harus di gips seperti ini? " tanya bu Rahayu yang baru menyadari jika sang putri berjalan dengan menggunakan alat bantu
"Dinar baru saja mengalami kecelakaan pas mau berangkat kerja bu, kakinya patah, tapi untung saja tidak terlalu parah" jawab Al
"ya ampun, bagaimana bisa. bukannya kamu kalau kerja jalan kaki ya nak, kok bisa sampai kecelakaan, pasti kamu jalannya meleng dan buru buru pasti ya, jadinya sampai kecelakaan begini? " tanya bu Rahayu yang seolah tahu kebiasaan buruk sang anak.
sementara Dinar hanya nyengir sebab bukan sesuatu yang aneh jika dirinya sering kali mendapat musibah atas kecerobohannya sendiri.
"hehee.. habisnya waktu itu Dinar telat bu, jadi ngebut bawa motornya. eeh, bukannya sampai pabrik, Dinar malah sampai rumah sakit karena terlalu kenceng nyetir motornya. jadi sekarang Dinar nggak bisa pakai lagi tuh motor gara gara ringsek di tabrak mobil" jawab Dinar malu malu.
"sudah ibu bilang berulang kali, kalau melakukan suatu hal itu jangan terburu buru, begini kan jadinya. ya sudah kamu duduk disini saja sama suami kamu. ibu mau nemenin ibu dan yang lainnya dulu disana" ucapnya sambil menunjuk ke arah bu Fatma dan besannya.
Siang ini kediaman Dinar yang biasanya sepi kini berubah menjadi ramai sebab kedatangan keluarga Al yang sekaligus menjadi tempat untuk reuni anggota keluarga panti.
bu Rahayu masih saja tak menyangka jika pernikahan putrinya dengan Al membawa dirinya bertemu dengan keluarga lamanya.
kini bu Rahayu duduk lesehan bersama bu Fatma dan para wanita lainnya yang turut ikut serta berbincang bincang dengannya
"iya Bell, yang aku tahu nak Al itu namanya Aldrich, tapi nggak tahu juga nama lengkapnya karena pas waktu akad mbak lagi nemenin Dinar di kamar. mbak juga nggak terlalu pusingin nama Al waktu itu karena kami semua sangat kalut. mm, lagipula mbak tahunya Al ini hanya karyawan warung tenda, karena dulu pas pertama kali bertemu dia tengah melayani kami disana jadi mbak nggak ada pikiran sampai kesana meskipun mbak agak kaget ketika mendengar nama nak Al" jawab bu Rahayu.
"oh pantas saja tadi waktu kita pertama kali ketemu, mbak Ayu kayak syok gitu, rupanya mbak juga nggak tahu kalau dapat besan adiknya sendiri. hehe" seru Bella tergelak.
"iya mbak bersyukur sekali, setidaknya putri mbak berada di keluarga yang tepat dan mbak sendiri juga mengenal baik. mbak titip Dinar ya Bella, Citra.. kalau dia salah tegur saja, perlakukan dia seperti anak sendiri, jadi kalian tidak akan segan jika harus menghukum dia" ucap bu Rahayu.
"mbak tenang aja, menantu kesayangan mommy pasti kami jaga dengan baik, mbak tahu, kalau sebelum mengetahui mereka telah menikah, mommy justru punya niatan buat jodohin Al sama Dinar loh. tapi nggak tahunya malah mereka sudah kenal sendiri dan malahan sudah menikah" seru Bella sedikit berbisik
"yang benar kamu Bell? " tanya bu Rahayu tak percaya. bagaimana bisa percaya, jika mommy Citra saja berada di kalangan atas sementara putrinya hanya orang biasa, jadi mana mungkin Mereka bisa saling mengenal
"iya mbak. seriusan deh... " seru Bella meyakinkan.
acara pertemuan dua keluarga hari ini sangat menyenangkan dan membahagiakan untuk bu Rahayu dan pak Beni. mereka berdua sangat bahagia karena selain bertemu dengan besan, mereka juga bisa bertemu dengan keluarga lamanya yang berada di Jakarta. setelah sedikit berbincang bincang mereka kemudian di ajak untuk makan siang bersama sebelum nantinya mereka kembali ke kota asalnya.
jika keluarga Dinar tengah merasakan kebahagiaan yang berlipat ganda, berbeda dengan Mila yang sedari tadi menahan amarah hingga ia meluapkan pada barang barang yang ada di rumahnya.
ia begitu teramat kesal dengan Dinar dan kebencian pada gadis itu semakin menggunung. ia tak bisa terima jika ia kalah lagi dari Dinar, padahal dulu waktu ia menggerebek Dinar dan mempro vokasi warga untuk menikah kan paksa mereka, ia merasa sudah satu langkah berada di depan Dinar karena Dinar mendapati kehidupan yang buruk karena menikah dengan karyawan warung tenda. tetapi kini, ia kembali merasakan kekecewaannya yang bertambah ketika melihat barang barang mewah yang di bawa keluarga Al untuk Dinar.
tadi sebelum memutuskan untuk pulang, Mila memang berniat melihat barang bawaan besan bu Rahayu lebih dahulu, namun begitu ia sampai di pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah, ia begitu sangat kesal ketika melihat banyak sekali barang mewah yang di bawakan keluarga suami Dinar. disana juga ada satu set perhiasan, juga tas dan sepatu dengan merk terkenal. ia yakin jika barang barang yang di bawa itu harganya sangat malah sekalipun itu barang tiruannya.
akhirnya Mila memutuskan untuk pulang dan meluapkan kekesalan nya dengan membanting barng barang yang ada di dalam kamarnya.