
Aldrich langsung meraih pakaian diatas kasur yang telah disiapkan oleh Dinar.
Kaos polos putih serta celana pendek berwarma krem yang membuat auranya kian bertambah.
setelah siap ia segera menyusul sang istri ke bawah, ia sangat khawatir jika Luna ada maksud tertentu kepada istri serta anaknya yang mmebuat keduanya terancam.
sementara itu, Dinar telah sampai di lantai bawah, melangkah pelan menghampiri Luna yang menunggunya di ruang tamu.
"mbak Luna" sapa Dinar ramah.
Luna yang masih setia menjnggi Dinar sembari memainkan ponselnya pun segera menoleh, di letakkan nya ponselnya di atas meja kemudian beranjak "hei Din, apa kabar? " tanya nya ramah, keduanya saling cipika cipiki ringan.
"baik mbak, alhamdulillah. mbak sendiri gimana kabarnya, udah lama ya kita nggak ketemu" tanya Dinar, ia kembali mempersilahkan Luna untuk duduk kembali.
"baik, bahkan sangat baik Din" Luna masih setia dengan senyum manisnya. "sudah berapa bulan? " tanya Luna sembari mengelus perut Dinar yang sedikit membuncit
"jalan 5 bulan mbak" jawab Dinar diikuti elusan pada perutnya
"oh iya, maaf ya aku datang nggak ngasih kabar. tadi aku nyariin kamu ke rumah tante Citra, tapi katanya kamu sama suami kamu sudah nggak tinggal disana, terus tante Citra ngasih alamat kamu disini, katanya kamu lagi babymoon di Bali, ku pikir belum pulang, aku coba coba mampir eh nggak tahunya kamu udah pulang" jelas Luna.
"oh begitu, iya mbak, gagal honeymoon jadinya babymoon hehehe.."
"untung mbak Luna kesininya sore, kalau siang mungkin nggak ketemu soalnya aku baru saja sampai"
"Leo apa kabar mbak? " lanjutnya
"alhamdulillah setelah beberapa hari kritis, Allah kasih dia kesempatan untuk hidup Din, dia sudah sehat tapi ya gitu, mama masih belum izinin Leo buat keluar rumah dulu makanya ini aku keluar sendiri.
oh iya, aku mau ngucapin banyak terima kasih sama kamu, kalau nggak ada kamu, mungkin mama dan papa akan terlambat tahu dan Leo pasti tidak tertolong, sekali lagi terima kasih ya Din, aku berhutang banyak sama kamu"
Dinar mengangguk "alhamdulillah ya mbak"
"waktu itu setelah mbak Luna keluar, aku juga langsung pulang, pas sampai di depan restoran ada orang yang berkerumun, katanya ibu dan anak kecelakaan.
aku langsung menyibak kerumunan buat melihat siapa yang kecelakaan, aku takutnya mbak Luna sama Leo, karena kan memang kalian baru saja keluar restoran. dan saat itu setelah tahu siapa yang kecelakaan, aku langsung histeris karena melihat Leo berlumuran da rah.
Setelah ambulan datang, aku langsung mengajak mas Al buat ikut masuk ke mobil buat nemenin mbak Luna sama Leo"
Luna meneteskan air matanya, ia tak menyangka, jika dulu tak ada Dinar dan Aldrich akan seperti apa nasibnya, sebab waktu itu ponselnya dalam keadaan di password, jadi besar kemungkinan sulit untuk menghubungi kedua orang tuanya, dan meskipun bisa, akan memakan banyak waktu, sementara waktu itu Leo membutuhkan transfusi da rah.
"eh maaf ya, aku jadi nangis disini" ucapnya sembari menyeka air matanya kemudian tersenyum.
"nggak apa apa mbak"
Aldrich menuruni satu persatu anak tangga untuk menemani sang istri yang sedang kedatangan tamu.
sebelum ke ruang tamu, ia lebih dulu meminta mbak Wati untuk membuatkan susu untuk sang istri.
"sayang... " panggil Aldrich yang berjalan mendekati sang istri.
"mas, sudah? "
"sudah" Aldrich ikut duduk di samping sang istri.
"hei Lun, apa kabar? " sapanya basa basi
"baik Al, kebetulan kalian ada dirumah semua, sebenarnya aku kesini bukan hanya ingin mampir saja, melainkan ingin ngasih ini juga" ucapnya seraya menyodorkan sebuah undangan pernikahan.
"kalian datang ya, acaranya minggu depan"
"ini beneran mbak Lun? " tanya Dinar, wanita itu membaca nama mempelai pria yang sangat tidak asing baginya ABIAN ARDIANTO tertulis sebagai mempelai prianya.
"beneran lah Din, masak iya cuma prank" jawab Luna terkekeh.
"kamu pasti terheran heran kan, kenapa aku bisa nikah sama dia? " Dinar lantas mengangguk "bukannya mbak benci sama pak Abian ya? " tanya Dinar sedikit sungkan
"iya sih, tapi beberapa bulan ini aku melihat kedekatan Leo dengan Bian, aku jadi nggak tega sama Leo yang harus kehilangan figur ayahnya.
sejak kecelakaan hari itu, Abian setiap hari selalu menyempatkan waktu untuk menengok kita Din.
wanita mana yang tak akan luluh melihat prianya memberikan perhatian lebih, apalagi di antara kita sudah ada Leo.
sebelum memutuskan untuk menerima dia, entah sudah berapa kali aku menolak lamarannya, hingga suatu ketika, Leo benar benar tak ingin pisah dengan Bian karena sudah terlalu nyaman, akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamaran dari Bian"
"alhamdulillah, syukurlah mbak, kini Leo mempunyai orang tua yang lengkap. semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk masa depan mbak dan Leo. semoga berkah, sakinah, Mawaddah warahmah ya mbak, aamiin"
"aamiin"
setelah mengatakan maksud dan tujuannya, Luna pun pamit pulang sebab hari sudah mulai gelap.
Dinar menggandeng tangan sang suami untuk kembali ke kamar, ia yang tadinya ingin mandi pun akhirnya memilih untuk mencuci wajahnya saja serta mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
"aku sampai lupa mau tanya sama mbak Luna perihal di hotel waktu itu" Dinar menepuk keningnya, sebab dari awal ia keluar kamar tadi, ia hendak menanyakan tentang apa yang ia lihat di hotel Bali waktu itu, akan tetapi saking larutnya dengan cerita masing masing, ia sampai lupa ingin menanyakannya.
namun kembali, ia tak ingin terlalu ikut campur, mungkin benar apa kata sang suami, jika Luna tengah berkunjung ke rumah saudaranya
"mungkin dia kesana buat ngasih kabar ini juga sayang" ucap Aldrich akhirnya membuat Dinar langsung menoleh ke arahnya.
"iya juga ya mas. semoga mbak Luna dan Leo bahagia selalu ya mas"
"aamiin... "
***
Pagi sekali Dinar telah berkutat di dapur bersama mbak Wati, setelah beberapa hari di Bali ia tak dapat memasak, kini tibalah saatnya ia kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami.
pagi ini Aldrich meminta untuk di buatkan nasi goreng seafood buatan sang istri.
Dinar dengan senang hati membuatkan pesanan untuk sang suami dengan di bantu mbak Wati. setelah semua siap, ia segera memanggil Aldrich untuk segera sarapan.
sementara di dalam kamar, Aldrich masih sibuk merapikan pakaian kantornya.
"mas" panggil Dinar sembari membuka pintu
"eh sayang, sudah selesai? " tanya Aldrich, ia tengah memasang dasinya.
Dinar lantas mendekat, mengambil alih dasi sang suami. "sudah mas, makanya aku kesini mau panggil kamu buat segera turun untuk sarapan"
selesai, dasi telah di pasang dengan sangat rapi, tak lupa, Dinar juga memakaikan jas milik Aldrich.
"terima kasih sayang" Satu kecupan mendarat di kening sang istri.
"iya, yuk turun... "