
"kok lama mas? " tanya Dinar ketika Aldrich masuk ke dalam kamar dengan membawa satu nampan berisikan makanan di tangannya.
"biasalah, mereka semua pada kepo sama kita, jadinya ke pending dulu ngambilin kamu makanan. ya sudah ayo kita makan, aku ambil banyak makanan tadi, supaya tenaga mu kembali pulih" Aldrich meletakkan nampan di atas meja kemudian menghampiri Dinar yang masih duduk di atas kasur, ia kemudian menggendong Dinar dan membawanya ke sofa.
"mas aku bisa jalan sendiri" pekik Dinar terkaget ketika Aldrich mendekat dan langsung menggendongnya tanpa mengatakan apapun.
"kalau bisa sendiri kenapa dari tadi nggak langsung turun hm, bilang saja kamu ingin selalu ku gendong, iya kan? " goda Aldrich
"ish pede sekali anda... " malu tapi mau, itulah Dinar.
keduanya duduk di sofa, Aldrich mulai menyuapi sang istri kemudian dirinya, bergantian hingga makanan di atas nampan habis tak tersisa.
sebenarnya Dinar ingin memakannya sendiri, namun melihat sang suami yang bersemangat untuk menyuapi dirinya, akhirnya ia urung, biarlah ia menjadi bayi besar malam ini karena Dinar yakin jika besok besok pasti akan gantian suaminya yang menjadi bayi besar.
"alhamdulillah... " keduanya kini telah kenyang, nampan pun sudah di letakkan di luar oleh Aldrich tak lupa ia menghubungi bibi untuk mengambilnya di depan kamar.
"oh iya mas, tadi ponsel mu berdering, ada pesan masuk disana" ucap Dinar
"dari siapa? " Aldrich tak marah meskipun sang istri mengobrak abrik ponselnya sebab ia tak ingin ada yang di tutup tutupi lagi dari sang istri.
"nggak tahu juga, aku nggak buka ponsel mu, cuma ngelirik aja, tapi kayaknya nomor baru, soalnya nggak ada namanya, coba mas lihat sendiri"
Aldrich lantas beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel di atas nakas setelah itu ia kembali lagi duduk di sebelah sang istri dsn membukanya disana.
"dari Luna" ucap Aldrich
"Luna? ada apa? " tanya Dinar penasaran.
Aldrich lantas menyodorkan ponselnya kepada sang istri untuk memperlihatkan isi pesan dari Luna.
Luna : Al izinkan aku bertemu dengan kamu dan juga istri mu, ada yang ingin aku katakan pada kalian, aku menghubungi mu bukan karena aku menginginkan mu, hanya saja ada sesuatu hal penting yang harus aku sampaikan secara langsung pada mu dan istri mu. ku harap kalian bersedia datang
isi pesan yang di kirim Luna, tak lupa ia juga menyertakan hari waktu dan tempat untuk mereka bertemu.
Dinar menoleh ke arah sang suami, ia bingung akan hal apa yang hendak di sampaikan oleh Luna hingga menginginkan untuk bertemu secara langsung, tapi ia bersyukur setidaknya dirinya juga di ikut serta kan dalam pertemuan itu.
"gimana apanya, itu kan si mbak Luna ngajakin ketemu, katanya ada hal penting yang mau di sampaikan, dateng aja sih, siapa tahu beneran penting. justru kalau mas nolak itu berarti mas belum bisa move on darinya" seru Dinar.
"ya sudah besok kita temui dia, nih kamu aja yang balas" Al menyodorkan krmbali ponsel nya ke arah Dinar. tentu Dinar dengan senang hati menerimanya. tak lupa ia juga memberikan senyum manisnya kepada sang suami.
setelah makan dan sholat isya, Aldrich mengajak sang istri menuju perpaduan, membimbing nya untuk duduk di atas kasur, setelah itu Aldrich lantas menge cup pelan bibi r sang istri hingga keduanya kembali mereguk manisnya madu malam ini.
***
"jadi kapan kamu akan memberi tahu Aldrich dan istrinya? " mama Tia dan papa Irfan kini duduk berhadapan dengan Luna.
setelah Luna menceritakan semua masalalu antara dirinya, keluarga Aldrich dan Abian kepada kedua orang tuanya. Luna pun berkeinginan untuk memberitahu Aldrich akan hal ini, meskipun awalnya ini sebuah kesalahpahaman dan di awali akan dendam pada keluarga Aldrich namun hal itu tak sepenuhnya salah mereka sebab Luna pun pernah menoreh luka di hati Abian. karena itulah Luna ingin memberi tahu mereka agar lebih berhati hati dengan Abian meski pria itu telah mengaku salah dan tak akan mengulangi nya lagi, namun bagi Luna, hal itu tetap saja harus di waspadai sebab kebahagiaan mantan tunangannya jauh lebih penting dari pada dirinya.
"aku sudah menghubungi Al dan meminta untuk bertemu besok, dan mereka setuju. aku juga akan membawa Leo saat menemui mereka" jawab Luna.
"kenapa harus membawa Leo? "
"aku hanya tak ingin membuat istri Al salah paham lagi, dengan aku membawa Leo, bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa aku tak lagi menginginkan Aldrich karena buktinya aku lebih mempertahankan Leo daripada pertunangan ku dengan Aldrich kala itu"
"ya sudah apapun keputusan mu mama dan papa akan selalu mendukung mu. lalu apa langkah mu selanjutnya? "
"mungkin Luna akan kembali pergi dari kota ini pa, Luna ingin menikmati hidup hanya dengan Leo, jika papa dan mama berkenan, ikutlah bersama ku"
"tidak ada keinginan untuk menetap lagi di rumah ini, lalu bagaimana toko bunga mu? "
"untuk saat ini aku hanya ingin menjauh dari masalah yang pernah singgah pa, dan untuk masalah toko, mungkin aku akan menjualnya kemudian membuka lagi di tempat baru"
mama dan papa Luna hanya mengangguk, mau bagaimana pun putrinya kini telah tumbuh dewasa dan memiliki keinginan sendiri, dan mereka sebagai orang tua hanya mampu memberikan dukungan serta semangat tanpa membebani apapun kepada putrinya
terlebih saat ini sudah ada Leo di antara mereka, jadi mereka tak boleh egois hanya karena menginginkan putrinya bersama mereka, mereka jadi menghambat kebahagiaan putri dan cucunya.
"ya sudah apapun itu mama dan papa akan selalu mendukung mu" ucap mama Tia
"makasih ma, pa... "