OH MY WIFE

OH MY WIFE
54



Al mendelik ke arah Azzam, ketika mendengar jawaban Azzam yang bilang jika dirinya belum berani bilang kepada orang tuanya, meskipun hal itu memang benar adanya tapi sumpah demi apapun ia ingin sekali menyumpal mu lut lemes sang adik.


"maaf karena Al tidak langsung bilang ke mommy dan daddy, Al hanya tidak ingin kalau mommy dan daddy syok melihat Al pulang dengan membawa istri secara tiba tiba, dan rencananya memang setelah Dinar sembuh baru Al ajak dia buat ke rumah" ucap Al pada akhirnya


"tapi sekarang lihatlah. justru karena kamu yang nggak jujur dari awal malah semakin buat mommy dan daddy kecewa Al, apalagi ini masalah pernikahan loh, bagaimana bisa kamu nyembunyiin hal ini kepada kita semua, ya ampun Al, pusing mommy gara gara kamu" keluh mommy Citra.


"lalu bagaimana dengan orang tua Dinar, apa mereka nggak nanyain orang tua kamu, apa mereka nggak minta kamu buat bawa orang tua kamu kesana. meskipun kalian nikahnya dadakan seperti itu, tapi pernikahan kalian itu sah. menyatukan dua keluarga menjadi satu. bukan hanya dua kepala kalian saja"


"lalu itu kenapa kaki Dinar, kenapa bisa sampai cidera dan harus jalan pakai kruk segala? " serunya lagi


"iya mom iya, tentu mertua Al juga nanyain mommy dan daddy, tapi dasarnya Al belum bilang apa apa ke mommy, jadinya ya di pending dulu ketemuannya" jawab Al


"dan untuk masalah Dinar, ini salah Al juga Karena ngebiarin dia bawa motor sendiri buat berangkat bekerja, padahal suaminya tajir tapi dia masih tetep ingin bekerja. beberapa hari yang lalu ia habis kecelakaan dan kakinya patah tapi untungnya tidak parah mom" sambungnya sedang sedikit menyombongkan diri


mommy Citra menghembus kan nafasnya pelan, kemudian menoleh ke arah sang suami yang sedari tadi diam. di tatapnya mata sang suami seakan mengisyaratkan keputusannya mengenai sang putra.


daddy Marcello yang paham tatapan sang istri pun mulai angkat bicara.


"Dinar saya ingin bertanya. apa benar yang di katakan oleh Al itu semuanya benar, apa dia memperlakukan mu dengan baik, apa dia ada bilang jika dia serius dengan pernikahan kalian?" tanya daddy Marcello kepada Dinar.


Dinar menatap daddy Marcello yang memberikan dirinya pertanyaan, ia mengangguk "dari awal menikah, bahkan sebelum ia mengucapkan ijab qobul untuk saya, mas Al berkata jika ia tidak akan pernah mempermainkan pernikahan kami, terbukti ketika pertama kali kami kembali ke sini mas Al memberikan nafkah lahir untuk saya, padahal bisa saja ia langsung lari dari pernikahan ini setelah kami kembali ke kota, namun dia tidak, justru ia memboyong saya untuk tinggal bersamanya di apartemen nya karena bentuk tanggung jawab seorang suami kepada istrinya.


namun sekarang jika anda sekeluarga tidak merestui pernikahan kami, karena mengingat saya hanya orang biasa, tidak mempunya harta, jabatan dan pendidikan yang tinggi saya ikhlas karena benar apa yang di bilang tante Citra, bahwa menikah bukan hanya sekedar menyatukan dua kepala, melainkan juga dua keluarga. apapun itu, saya menerima keputusan anda sekeluarga, mau anda menerima saya atau tidak" Dinar ragu mengingat mereka memiliki perbedaan yang sangat kentara sekali, ingin ia berteriak jika dirinya tidak ingin berpisah dengan suaminya, tapi kembali lagi, ia tak memiliki kuasa apapun atas semua hal itu.


sedangkan Al mendelik mendengar kalimat pasrah dari sang istri hingga tak sadar ia menyentak ucapannya


"kamu bilang apa sih, jangan bilang yang aneh aneh seperti itu, kita itu semua sama saja tidak ada yang berbeda. kalaupun mommy dan daddy nggak merestui kita, kita bisa menyakinkan mereka semua jika kita tidak bisa di pisahkan, bukannya malah pasrah seperti itu. lagian suami mu ini sudah dewasa dan sudah punya keputusan sendiri jadi meskipun mereka ingin mencoret ku dari daftar ahli waris pun aku tidak peduli, yang terpenting pernikahan kita tetap utuh" sambungnya dengan menahan sesak di da danya. padahal ia yakin jika Dinar tak akan goyah meskipun berhadapan langsung dengan keluarganya, tapi sekarang, ia mendengar jika Dinar justru menyerah dengan mudahnya karena rasa tidak percaya dirinya.


"kita berbeda mas, aku tak yakin bisa masuk ke dalam keluargamu... " lirih Dinar menatap sang suami


"jika kamu tak yakin bisa masuk ke dalam keluarga ku, maka aku yang akan keluar dari sana" ucap Al tegas


mommy Citra dan daddy Marcello saling berpandangan, pun dengan yang lain. mereka tak menyangka jika Al bisa berucap seperti itu. terlebih mereka tahu jika Al sulit melupakan tunangannya, tapi kini mereka menyaksikan Al yang begitu bucinnya terhadap Dinar.


"kamu sadar apa yang sudah kamu katakan Al, kamu bersedia di coret dari daftar ahli waris? " tanya daddy Marcello. ia ingin melihat seberapa besar pengorbanan Al untuk pernikahan nya.


"aku bersedia dad, aku bisa bekerja apapun asal aku bersama istri ku. lagipula sebelum ia tahu kalau aku orang kaya, ia pun menerima ku dengan ikhlas bahkan memperlakukan aku dengan baik" jawab Al tegas.


"apa kamu yakin bisa bekerja tanpa bantuan daddy? " Daddy Marcello terus saja menguji keyakinan sang putra, ia ingin melihat seberapa besar Al mempertahankan istrinya itu.


"aku yakin, bahkan jika harus menjadi kuli bangunan pun aku tak masalah dad, yang terpenting Al selalu bersama Dinar" jawabnya yakin. sedangkan Dinar menggenggam erat tangan Al kemudian menggeleng ke arahnya "jangan mas.. " lirihnya. mmnamun Al tak menggubrisnya sama sekali.


"baiklah, kalau itu mau kamu, daddy rasa sudah cukup semua yang daddy lakukan untuk mu Al... " ucap Daddy Marcello, sontak semua pandangan tertuju ke arahnya.


mereka bertanya tanya, akankah daddy nya benar benar mencoret Al dari daftar ahli waris kemudian mengusirnya atau itu hanya lah gertakan semata untuk melihat betapa besarnya cinta Al kepada sng istri.


Bella, Azura, dan Cia saling senggol. mereka seolah tengah saling bertanya melalui tatapan matanya mengenai kata kata daddy Marcello yang terdengar ambigu di telinga mereka