OH MY WIFE

OH MY WIFE
119



Aldrich menepuk pelan pipi sang istri yang tengah terlelap di sampingnya, wanita itu menggeliat kemudian menguap.


"ayo kita turun... " ajak Aldrich


"sudah sampai ya mas? " tanya Dinar, ia kini telah sepenuhnya sadar, menatap sekeliling, ia merasa tidak asing dengan rumah yang ada di hadapannya.


"loh! " Dinar bergegas turun sesaat setelah mengingat sesuatu.


"hei sayang, kamu kenapa? " Aldrich turun dengan tergesa gesa kemudian menghampiri sang istri yang tampak kebingungan, ia mengira jika sang istri masih berada di antara sadar dan tidak sadar karena masih mengantuk.


"kenapa? " tanyanya lagi


"ini rumah calon istrinya Azzam mas? " tanya Dinar memastikan, ia menunjuk rumah di hadapannya.


"sepertinya begitu, tuh, si Azzam udah di depan, memangnya kenapa sayang? " tunjuk Aldrich menggunakan dagunya.


"laahhh... " Dinar menepuk keningnya, ia menatap sang suami dengan tatapan yang sulit dijelaskan


"kenapa? "


"ayo kita masuk aja mas, aku ingin memastikan sesuatu" Dinar menggeret lengan sang suami agar segera ikut masuk menyusul anggota keluarga lainnya yang sudah lebih dulu masuk.


Aldrich tak banyak bicara, pria itu dengan setia mengikuti sang istri yang membawanya menuju rumah calon istri adiknya.


Di depan pintu Dinar masih menatap sekeliling, pengelihatan nya tak salah, ia masih ingat dengan rumah ini, rumah ini milik, ...


"ayo masuk" ucap seseorang dari dalam rumah.


Dinar menatap wanita di hadapannya, ia merasa dejavu dengan apa yang ia alami saat ini. Ia kembali teringat saat saat keluarga suaminya datang ke rumahnya.


"loh, hei... Mia, ini beneran kamu, jadi calon istrinya Azzam itu kamu, kenapa nggak jujur dari awal. astaga..." pekik Dinar histeris, wanita itu mendapati sang sahabat yang kini terbalut kebaya yang sangat cantik tengah menatap dirinya dengan senyum canggungnya.


"nanti aku ceritakan, ayo masuk dulu... " Mia mempersilahkan keluarga calon suaminya untuk masuk ke dalam rumah.


Aldrich dan Dinar masih terpaku di depan pintu, keduanya benar benar syok mengetahui jika wanita pilihan adiknya adalah Mia, yang notabenenya adalah sahabat Dinar.


pantas saja Dinar merasa tak asing dengan rumah ini, rupanya benar dugaannya, jika rumah ini adalah rumah sahabatnya. meskipun sudah lama tak berkunjung kesana, namun sedikit banyak ia masih mengingat rumah ini karena memang tidak ada perubahan yang signifikan mengenai rumah sahabatnya ini.


Aldrich menepuk pelan pundak sang istri yang sedang melamun untuk di ajaknya masuk.


"ayo masuk dulu" ajaknya.


Dinar mengangguk kemudian mengikuti sang suami masuk ke dalam rumah.


meskipun kedua orang tua Mia belum mengenal dekat dengan keluarga calon menantunya, namun ketika mereka mendapati Dinar berada di dalam keluarga itu, mereka yakin jika keluarga Azzam adalah keluarga baik baik dan tidak memandang status serta kasta.


acara inti pun selesai, pernikahan mereka akan di gelar 1 bulan kedepan.


kini ibu dan ayah Mia pun menjamu calon besannya. mereka begitu sabar seperti kedua orang tua Dinar, membuat daddy Marcello dan mommy Citra menjadi nyaman berbaur dengan mereka.


Kini mereka semua tengah menikmati makan bersama. Mia yang tadi berjanji akan menjelaskan semuanya pun menarik Dinar dari kerumunan keluarga besar calon suaminya.


"Din, ayo ikut aku ke depan" ajaknya. Dinar mengangguk kemudian mengikuti sahabatnya menuju ruang tamu depan tak lupa ia juga berpamitan terlebih dahulu kepada sang suami.


kini kedua wanita itu telah duduk di kursi ruang tamu, Dinar dengan setia menunggu sahabat nya untuk menjelaskan semuanya.


Mia menghembuskan nafasnya pelan kemudian mencoba menceritakan semuanya dan alasan dirinya tak mengatakan jika Azzam lah yang selama ini mengejar dirinya.


"wajar kok kalau kamu nutupin ini dari aku, aku maklumi keputusan mu Mi, setelah aku pikir pikir, ada benernya juga ucapan kamu, kalau kamu beritahu aku siapa calon suami kamu, belum tentu aku akan diam saja, bisa saja nanti aku memberitahu mommy dan membujuknya agar menerima kamu. aku juga nggak mau kamu dapet mertua yang kasih sayangnya hanya setengah setengah. kamu tenang aja, aku nggak marah kok, lagipula ini juga privasi kamu. sekarang kamu tahu kan gimana keluarga calon suami kamu, mereka nggak pernah membedakan status Mia, mereka semua orangnya tulus dan begitu baik"


"sekali lagi maafin aku ya Din... " lirih Mia.


"iya aku udah maafin kok, lagipula aku juga nggak salah, kita hanya menghindari sesuatu yang tak di inginkan" ucap Dinar.


keduanya kini saling berpelukan, keduanya tak menyangka jika kedepannya status mereka bukan hanya sebagai sahabat, melainkan juga keluarga.


setelah mengatakan semuanya Mia mengajak Dinar untuk kembali mrnghampiri keluarganya.


"sudah? " tanya Aldrich


"sudah mas, sudah beres semua" jawab Dinar sembari tersenyum.


"bagus lah, nih ya sudah makan dulu " ucap Aldrich dengan menyodorkan satu sendok suapan untuk Dinar.


setelah acara selesai, kini keluarga Aldrich pun berpamitan untuk pulang, mereka akan mulai menyiapkan keperluan acara pernikahan Azzam dengan Mia mulai dari sekarang.


"kami pamit dulu ya mbak, nanti kalau ada waktu senggang jangan lupa ke rumah ya, atau kalau tidak, nanti biar Azzam yang jemput kalau mau ke rumah" ucap mommy Citra kepada ibunya Mia.


"tentu, terima kasih untuk undangannya mbak Citra, terima kasih juga sudah mau merestui hubungan anak anak, nanti jika kami ada waktu, kami akan main ke rumah mbak" jawabnya.


"iya, saya tunggu lo mbak" keduanya lantas berpelukan kemudian cipika cipiki.


Dinar yang sudah duduk di mobil pun tanpa menunggu waktu yang lama, wanita itu pun sudah terlelap, padahal mobil yang dia naiki baru saja melaju. entah mengapa semenjak ia mengetahui jika dirinya hamil, ia jadi gampang sekali untuk tidur.