OH MY WIFE

OH MY WIFE
36



"selamat sore tuan" sapa seorang pria berpakaian satpam menyapa Al sembari tersenyum.


"sore pak Hari" jawab Al kemudian melanjutkan langkahnya


"sepertinya orang itu sudah sangat akrab dengan mas Al, apa mas Al sering ke apartemen bos nya mas Al ini? " tanya Dinar. yang masih beranggapan jika apartemen yang akan ia kunjungi adalah apartemen milik bosnya Al. kini mereka sudah berada di dalam lift menuju apartemen Al


"iya.. " jawab Al singkat.


tring


pintu lift terbuka, Al berjalan kearah salah satu pintu kemudian menekan beberapa angka password yang tertempel di daun pintu.


ceklek


pintu pun terbuka, Al segera mengajak Dinar untuk masuk ke dalam kemudian menutup pintunya kembali.


"kardusmu bisa kamu taruh di dapur dulu, setelah itu aku tunjukkan kamar kita" seru Al yang membuat Dinar seketika menatap Al


"kamar kita, nggak salah mas? " tanya Dinar.


"tidak, bukankah kita sudah sepakat untuk memulainya dari awal? "


"iya juga sih, tapi... "


"nggak ada tapi tapi an. sekarang taruh kardus kamu ke dapur dulu, setelah itu susul aku ke dalam" ujar Al kemudian berjalan meninggalkan Dinar yang masih mematung.


tak ingin membuat Al marah, akhirnya Dinar menuruti perkataan Al untuk meletakkan kardusnya di dapur setelah itu menyusul Al menuju ruang tengah.


"mas... " panggil Dinar ketika sudah sampai di ruang tengah namun dirinya tak mendapati Al ada disana.


"masuk aja, aku ada di kamar" seru Al dari dalam kamar. Dinar buru buru menghampiri Al yang berada di dalam kamar setelah mendengar seruan dari suaminya.


ceklek


"kamarnya besar banget mas" puji Dinar dengan mata berbinar dengan senyum mengembang terlihat begitu cantik.


"kamu suka? " tanya Al, refleks Dinar mengangguk sembari tersenyum.


"kamu nanti bisa taruh baju baju mu di lemari sebelah kiri, karena yang sebelahnya lagi baju baju milik ku yang aku tinggal disini" ucap Al sembari menunjuk lemari yang terletak di sudut.


"jadi mas Al dulu tinggal disini? ". "waahh.. baik banget bosnya mas Al sampai ngebolehin mas Al tinggal disini"


Al menggaruk ujung pelipisnya yang tidak gatal, ia tak percaya jika dinar yang ia lihat seperti gadis tomboy dan sok akrab kini menjadi gadis yang polos, padahal dari semua yang sudah ia perlihatkan seharusnya Dinar paham akan posisi Al saat ini, namun sepertinya Dinar tak memikirkan hingga sejauh itu. Al mendudukkan dirinya di pinggiran kasur sembari mengamati Dinar yang masih nampak terkagum kagum dengan kamarnya.


"sudahi kagumnya dan duduk sini" ujar Al menepuk kasur di sebelahnya.


"a ahh.. maaf mas, " ujar Dinar tak enak hati kemudian segera duduk di samping Al


"ada apa mas, sepertinya ingin mengatakan sesuatu?" tanya Dinar ketika melihat Al yang sedang memperhatikan dirinya tanpa berkedip


Al meraih dompet yang ada di saku celananya kemudian mengambil sebuah kartu nama kemudian di berikan kepada Dinar.


"Aldrich Cadee Smith, CEO Smith Group.... " Dinar membaca kartu nama tersebut dengan teliti, setelah itu pandangannya langsung tertuju ke arah Al.


Al pun mengangguk kemudian tersenyum "ya aku CEO Smith Group sekaligus salah satu pewaris pabrik tempat kamu bekerja" jawab Al datar


"hahahaa.... mas Al yang bener aja, kalau mau ngeprank aku jangan berlebihan gini mas, lagi pula aku nggak lagi ulang tahun loh" seloroh Dinar yang merasa lucu oleh sandiwara Al, ya, Dinar masih berpikir jika Al tengah mengerjai dirinya.


"kamu nggak percaya sama aku Din? " tanya Al, jujur ia sangat kesal pada istrinya itu, sebab sudah di tunjukkan bukti pun Dinar masih tidak percaya dengan bukti yang di berikan Al.


"enggak lah... " jawab Dinar cepat.


"setelah apa yang kamu lihat hari ini kamu masih belum percaya? " Al kemudian membuka dompet yang masih ada di tangannya kemudian mengeluarkan kartu identitas nya.


"lihat sendiri kalau tidak percaya" seru Al menyerahkan kertu identitasnya kepada Dinar.


"loh, jadi beneran mas, ini bukan prank? " seru Dinar terkejut. ia baru saja mencocokan kartu identitas Al dengan kartu nama yang di m tadi di berikan oleh Al.


"ya iyalah, ngapain juga aku ngeprank kamu, kurang kerjaan saja. " dengus Al


"jadi mas Al bukan supir atau karyawan warung tenda? "


"bukan lah Din. lagian kata siapa aku seorang supir hm? "


"bukan kata siapa siapa sih, hanya perkiraan ku dan mas Dani saja waktu itu, kita nyangkanya mas Al itu supir karena pas mas Al nabrak warung tendanya, mas Al tidak dalam keadaan mabuk dan mas Al nyetir sendiri. jadi kita berdua nyangkanya mas Al seorang supir yang baru saja nganter majikannya. lagian kan biasanya orang kaya kalau kemana mana selalu pakai supir, nggak kayak mas Al yang nyetir sendirian gitu" jelas Dinar.


"aku memang nggak terbiasa pakai supir, jadi kemana mana selalu sendiri" terang Al


"ooh begitu.. lalu apartemen ini, apa juga milik mas Al? "


Al pun mengangguk "iya ini apartemen pribadi ku, biasanya kalau aku sedang berkunjung ke pabrik, aku akan beristirahat disini"


"sudah kita lanjutkan ceritanya nanti saja, sekarang sudah jam enam, kita siap siap sholat maghrib dulu setelah itu baru kita cerita lagi" ajak Al, ia juga langsung beranjak keluar kamar


"oh iya, nanti kita jama'ah ya, di kamar sebelah, aku tunggu disana" ujarnya lagi sebelum keluar kamar


"baik mas" jawab Dinar cangung.


hari ini Dinar banyak sekali mendapati kejutan dari Al, mulai tadi siang yang tiba tiba mengirim pesan, menjemputnya kemudian di bawa pindah ke apartemen, dan sekarang ia mengetahui kenyataan bahwa Al adalah orang kaya, bahkan anak dari pemilik pabrik tempat ia bekerja, sungguh kenyataan yang jauh dari pikiran Dinar selama ini.


dan saat ini Dinar semakin cangung jika harus berhadapan dengan Al yang notabenenya adalah suaminya sendiri.


perbedaan kasta hingga pendidikan membuat Dinar merasa rendah diri dan merasa tak pantas bersanding dengan Al.


setelah berperang dengan perasaannya, Dinar kini mulai tersadar, ia harus segera berwudlu kemudian menyusul Al yang sedang menunggunya di kamar sebelah untuk sholat berjamaah. setelah selesai wudlu di kamar mandi, Dinar langsung membongkar kopernya kemudian mengambil mukenanya kemudian langsung memakainya di dalam kamar, setelah terpasang barulah ia keluar kamar menghampiri Al yang tengah menunggu dirinya.


"kok lama, ada masalah di kamar?" tanya Al


"tidak ada kok mas, ya sudah kita mulai saja sholat nya, keburu habis waktu maghribnya" ajak Dinar kemudian menempatkan diri di posisi makmum,setelah itu keduanya mulai beribadah dengan khusyuk.


kebahagiaan Dinar saat ini seolah membuncah berbunga bunga sebab ini adalah kali pertama Dinar sholat bersama sang suami setelah mereka bedua sah menjadi pasangan suami istri.


begitu juga dengan Al, entah ada apa dengan perasaannya, hatinya seolah ada yang menggelitik sehingga ada gelenyar aneh ketika ia sedang menunggu kedatangan Dinar untuk melakukan sholat berjamaah.