
Lima hari sudah Dinar di rawat di rumah sakit. hari ini ia di perbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah benar benar pulih, dan hanya perlu menunggu pemulihan dari kakinya saja.
Al tengah membereskan barang bawaannya, tak banyak memang, hanya beberapa potong baju yang kebetulan belum sempat di pakai Dinar, sedangkan yang lainnya sudah dari kemarin dibawa Al pulang.
selama Dinar di rawat di rumah sakit, Azzam beberapa kali menyambangi kakak iparnya dengan membawa banyak sekali makanan. tentu Dinar sangat senang, itu berarti setidaknya ada salah satu keluarga Al yang mengetahui pernikahan mereka.
Mia dan teman teman pabriknya juga sama, awalnya mereka terkejut mendengar musi bah yang menimpa Dinar dan mereka memutuskan untuk membesuk Dinar bersama sama sepulang kerja. atasan Dinar pun turut ikut membesuk Dinar dan meminta Dinar untuk selalu mengabari pihak pabrik dan juga menyertakan surat sakit agar dirinya tidak dipecat dari pabrik. karena sangat di sayangkan saja jika Dinar harus kehilangan pekerjaan, sebab saat ini mencari pekerjaan sangatlah susah, ia yang tahu Dinar berasal dari kampung pun tak tega jika Dinar harus kehilangan pekerjaannya.
"sudah siap untuk pulang? " tanya Al kepada Dinar yang tengah duduk di sisi brangkar
Dinar mengangguk lantas tersenyum "aku sudah bosan berada disini, pengen cepat pulang" keluh Dinar.
Al terkekeh kemudian mendekat ke arah Dinar. "ayo kita pulang" Al mengulurkan tangannya bermaksud agar Dinar meraih uluran tangannya.
20 menit kemudian Dinar dan Al sudah sampai di apartemennya, bibi yang kebetulan masih berada disana pun segera membantu Al membongkar barang bawaannya setelah Al memberi perintah.
"bibi tolong ini barang barangnya di beresin ya, saya mau nganter Dinar ke kamar dulu"
"non Dinar sudah pulang, syukurlah. baik den, akan bibi bereskan semuanya" ucap bibi kemudian mulai membereskan barang bawaan Al yang tak seberapa itu.
"iya bi, saya ke kamar dulu ya" ucap Dinar kemudian berjalan menuju kamarnya di temani sang suami.
keduanya masuk ke dalam kamar, dengan hati hati Al menuntun Dinar menuju kasurnya kemudian mendudukannya disana.
"mau tiduran atau duduk saja? " tanya Al
"duduk aja lah mas, udah sore ini. nanggung kalau mau tidur soalnya belum mandi juga" jawab Dinar
"ya sudah kamu duduk disini sebentar aku siapkan air mandi dan pa kaian ganti untuk mu " lalu Al segera bergegas menuju ke arah lemari kemudian menyiapkan pa kaian ganti untuk sang istri kemudian setelah itu baru ia pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
"makasih mas" ucap Dinar tulus ketika sang suami tengah sibuk menyiapkan peralatan mandinya.
setelah semua telah di siapkan, Al segera meng gendong Dinar menuju kamar mandi. di dudukkannya Dinar di sebuah kursi yang memang sudah di persiapkan oleh Al kemudian membantu sang istri mele pas pakai annya. tentu bukan hal yang mudah untuk Al lakukan sebab ia harus menahan diri untuk tak melihat tub buh po los sang istri. ia selalu di minta Dinar untuk memejamkan mata ketika beberapa kali membantu Dinar untuk mandi.
sambil menunggu Dinar yang tengah man di, Al memilih keluar kemudian menghampiri bibi yang tengah menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Dinar.
"ada yang bisa bibi bantu den? " tanya bibi yang melihat Al mendekat ke arahnya
"bibi. ada yang ingin Al sampaikan. duduk dulu bi" ucap Al meminta bibi untuk duduk di depannya
kini wanita berusia 40 tahun itupun duduk di kursi makan di depan Al, ia duduk dengan tenang menunggu Al berbicara.
"bibi tenang saja, nanti untuk masalah gaji, saya akan menaikkan dua kali lipat. bibi hanya perlu menemani serta membantu Dinar kalau ia membutuhkan bantuan" sambungnya.
"baik den, bibi setuju saja yang terpenting saya tidak sampai menginap, karena anak saya yang paling bungsu pasti mencari saya jika saya tidak pulang ke rumah" ucap bibi kemudian
"tentu tidak bi, bibi hanya perlu disini sampai sore saja, setelah itu bibi boleh pulang. ya sudah itu saja bi, bibi bisa lanjut kerjanya" ucap Al kemudian beranjak, ia ingin menengok Dinar untuk memastikan sang istri telah selesai man di atau belum.
sedangkan bibi nampak bahagia karena bisa bekerja fulltime dengan gaji dua kali lipat dari sebelumnya. ia segera melanjutkan acara masaknya yang tertunda agar majikannya tidak menunggu terlalu lama.
***
malam harinya di kediaman Marcello, daddy Al. semua orang tengah di sibukkan oleh acara kejutan ulang tahun Al yang akan di lakukan di apartemen Al.
mommy Citra menghampiri Bella dan Cia yang tengah menghias kue yang mereka buat sendiri untuk Al. "dia tidak bisa ikut" ucap mommy Citra kepada keduanya.
Bella lantas mendongak menatap sang mommy sembari mengernyitkan dahinya "dia? " tanya Bella. "gadis minggu lalu?" tanyanya lagi
"ya, katanya ia sedang sangat sibuk jadi tidak bisa datang ke rumah. terpaksa rencana mommy akan mommy tunda dulu" seru mommy Citra kemudian mendudukkan dirinya di kursi.
"mommy tenang saja, masih ada banyak waktu untuk memperkenalkan mereka berdua" ucap Bella menenangkan.
"dia siapa oma? calon istrinya om Al? " tanya Cia, wanita itu tak tahu rencana omanya yang sebenarnya, ia hanya tahu jika malam ini mereka sekeluarga akan memberikan kejutan untuk Al.
"masih calon kenalan, belum jadi calon istri. tapi oma sudah sangat tertarik dengan gadis itu" sahut Citra
"semoga kali ini om Al mau menerima dia ya oma"
"aamiin... " sahut ketiganya.
tengah malam seluruh keluarga besar Al tengah menuju ke apartemen Al, sebelumnya Azzam berulang kali menelepon Al, tapi lelaki itu tak mengangkat panggilannya, bahkan pesan yang Azzam kirim pun tak ada yang di buka. Azzam mende sah pelan. ia merutuki sang kakak yang susah sekali di hubungi.
sebelumnya ia sudah berulang kali meminta sang kakak untuk memberi tahu keluarga mengenai pernikahannya dengan Dinar, tapi sepertinya sang kakak tak menghiraukan ucapannya.
Azzam pasrah, ia sudah kehabisan kata kata kepada sang kakak. biarlah sang kakak menanggung konsekuensinya karena berani menyembunyikan status pernikahannya kepada keluarga besarnya.
Azzam sebenarnya ingin sekali memberitahu mommy serta daddynya, tapi ia tak memiliki kuasa untuk mengatakan semua itu, alhasil Azzam memilih bungkam. bungkam terhadap status Al yang telah menikah, pun, bungkam mengenai keluarga besarnya yang akan mengunjungi apartemen nya untuk memberikan ia kejutan.
Azzam yakin jika hari ini bukan hanya kejutan untuk Al saja, melainkan kejutan untuk keluarga besarnya juga.