
Malam pun menyapa, pernikahan dadakan antara Al dan juga Dinar akan segera di langsungkan. tadi, selepas pak RT pamit dari kediaman pak Beni, beliau mendatangi seorang ustadz untuk meminta bantuan agar bersedia menikahkan Dinar dan Al selepas sholat maghrib.
kini semuanya telah berkumpul di ruang tamu dengan mengelar karpet, disana juga ada beberapa tetangga yang juga turut hadir menyaksikan pernikahan dadakan Dinar malam ini.
Sedangkan Dinar saat ini tengah berada di dalam kamarnya di temani sang ibu, ia telah siap dengan mengenakan gamis polos beserta pashmina yang senada. sang ibu memang meminta Dinar untuk mengenakan Hijab, meskipun pernikahan mereka dadakan, akan tetapi pernikahan mereka sah di mata Allah, sebagai bentuk menghormati maka bu Rahayu meminta putri nya untuk mengenakan hijab saat ini. mata yang sembab karena terlalu lama menangis adalah sebuah bukti jika dirinya sedang tidak baik baik saja. beberapa kali Dinar menyeka air yang terus saja berdesakan keluar dari matanya, ia kini hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi.
sekarang tidak ada Dinar yang ceria dan banyak bicara, yang da saat ini hanyalah Dinar yang cengeng dan pendiam.
*tok
tok
tok*
terdengar dari luar, pintu kamar Dinar tengah di ketuk seseorang, bu Rahayu segera beranjak dari duduknya kemudian membukanya.
ceklek
"ada apa pak? " tanya bu Rahayu kepada sang suami yang berdiri di depan pintu kamar putrinya, tadi memang bu Rahayu meminta sang suami untuk mengetuk pintu terlebih dahulu jika ingin bertemu dirinya ataupun Dinar yang sedang berada di dalam kamar, sebab tadi Dinar hendak mengganti pakaiannya.
"pak ustadz sudah datang, akad akan segera di mulai bu" ucap pak Beni memberi tahu
Dinar yang samar samar mendengar ucapan sang bapak pun semakin gelisah, karena sebentar lagi statusnya akn berubah menjadi seorang istri.
"iya pak, nanti kalau sudah selesai akad, ibu akan bawa Dinar keluar, sekarang bapak nikahkan dulu mereka" ucap bu Rahayu
"ya sudah bapak ke depan dulu bu" pamit pak Beni kemudian berbalik.
bohong apabila beliau tidak sedih, beliau sangat sedih dan kecewa, namun mau bagaimana pun dirinya harus bersikap tenang dan tak memperlihatkan kesedihannya.
pak Beni segera menghampiri pak ustadz dan yang lainnya yang sudah berkumpul di ruang tamu kemudian duduk di hadapan Al.
Al pun mengangguk "iya pak ustadz" jawabnya
"untuk mas kawinnya, apa sudah di siapkan? " tanya pak ustadz lagi.
Al pun menoleh ke arah pak Beni "eemmm...., " Al pun bahkan terlupa akan mahar apa yang hendak di berikan untuk Dinar, pak ustadz yang melihat Al nampak kebingungan pun menimpali
"nak Al bawa dompet? coba di lihat dulu barangkali ada yang bisa di jadikan mas kawin" ucapnya memberi saran.
Pak Ustadz pun sudah tahu jika mereka berdua di paksa menikah oleh warga karena kepergok tengah berduaan di dalam warung, maka dari itu pak Ustadz dapat memberikan saran seperti itu sebab ia tahu pasti Al tidak mempersiapkan apa apa karena memang acaranya sangat mendadak.
Mendengar saran pak ustadz Al segera membuka dompetnya, dilihatnya disana ada beberapa lrmbar uang seratus ribuan, ia segera mengeluarkan semuanya dan memperlihatkan kepada pak ustadz
"saya hanya ada uang satu setelah juta pak ustadz, saya berikan semuanya untuk mas kawinnya" ucapnya menyodorkan uang tersebut kepada pak ustadz
"baiklah, nak Al ikhlas memberikan ini untuk mas kawin? " tanya pak ustadz memastikan akan keikhlasan dari Al
"saya ikhlas pak ustad..." jawab Al mengangguk mantap
kemudian acara ijab qobul pun di mulai, sebagai wali nikah, pak Beni pun menjabat tangan Al.
"saudara Aldrich Cadee Smith bin Marcello Steven Smith saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Dinara Saputri binti Beni Hartono dengan mas kawin uang sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah di bayar tunai"
"saya terima nikah dan kawinnya Dinara Saputri binti Beni Hartono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" dalam satu tarikan nafas Al dengan lancarnya mengucapkan qobul untuk Dinar
"bagaimana para saksi, sah? "tanya pak Usradz
"SAH... " jawab para saksi.
Mila yang mendengar kata SAH dari mulut para saksi pun tersenyum puas, ia bahkan mengabadikan momen tersebut di dalam ponselnya. kini hatinya sedikit lega sebab Dinar kini telah terikat dengan lelaki miskin yang hanya seorang karyawan warung, itulah yang ada di pikiran Mila tanpa tahu yang sebenarnya.