
Setelah menikmati nasi goreng lezat buatan sang istri, Aldrich segera beranjak untuk pergi ke kantor karena kebetulan Soni juga telah menunggunya di teras.
"aku berangkat sekarang ya, kasihan Soni sudah nunggu dari tadi" pamit Aldrich seraya mengecup kening sang istri.
"iya mas... " Dinar ikut beranjak setelah sang suami beranjak dari tempat duduknya.
Dinar mengekori sang suami menuju teras, setelah berpamitan dan mengecup punggung tangannya, Dinar pun melambaikan tangannya kala mobil sang suami perlahan meninggal kan pelataran rumah.
sepi sudah keadaan rumah hari ini sebab mbak Wati setelah menemani Dinar memasak, ia meminta izin untuk pergi ke pasar karena stok makanan di dalam kulkas telah menipis.
"ah, sepi sekali sih" gumam Dinar seraya berjalan menuju kamarnya.
hari ini ia berencana ingin mengunjungi kediaman utama, selain untuk memberikan oleh oleh, ia juga ingin meminta maaf sebab sempat pergi keluar kota tanpa berpamitanm
selesai mandi dan berganti pakaian, Dinar pun menyambar ponselnya kemudian ia masukkan ke dalam tas yang ia bawa dari ruang ganti.
tiba di lantai dasar rumahnya, ia di kejutkan oleh suara bel pintu depan berbunyi nyaring berkali kali.
"iya sebentar" teriaknya dari dalam, meski berteriak, tamunya tetap menekan bel sebab tak mendengar seruan dari Dinar.
'siapa sih, kok nggak sabaran banget, kalau mbak Wati nggak mungkin deh kayaknya' gumam Dinar terus melangkah menuju pintu utama.
klek
perlahan Dinar membuka pintu, ia sedikit terkejut melihat banyaknya tamu yang datang.
"loh, mommy" Dinar sedikit tersentak sebab mertuanya pagi pagi sudah berkunjung ke kediamannya, padahal dirinya yang masih muda, akan tetapi bisa kalah start dengan yang lebih tua.
"mbak Wati lagi belanja ya, tumben kamu yang buka pintu? " tanya mommy Citra
"iya mom, tadi selesai bikinin sarapan mas Al, mbak Wati izin belanja ke pasar, maaf ya jadi bikin lama menunggu, ayo mom dan yang lainnya masuk" ajak Dinar, wanita itu bahkan menggandeng lengan mertuanya menuju ke dalam rumah.
Hari ini rumah Dinar yang awalnya sepi pun sekarang menjadi ramai, apalagi bukan hanya mommy Citra dan ka Bella yang datang, ada Azura serta si kecil Keisya , Cia dan juga Mia yang turut serta berkunjung ke rumahnya.
"padahal ini tadi aku mau kerumah mommy loh, nggak tahunya mommy udah kesini duluan" ucap Dinar.
"kemarin kita nginep di rumah mommy Din, terus semalem si Al ngabarin kalau udah pulang dari Bali. mommy yang tahu itu langsung ngasih tahu kita terus ngajak kita kesini pagi pagi sebelum kamu ke butik" ucap Bella.
"ah begitu, ya sudah aku siapin minum sama camilan dulu ka kak, mom, tunggu sebentar" Dinar segera beranjak dari tempat duduknya.
kemudian Mia menyusulnya ke dapur untuk membantu Dinar.
"aku ikut Dinar ke dapur dulu mom" pamitnya
Mommy mengangguk, ia senang sekali akhirnya anak menantu perempuannya bisa berkumpul dengan lengkap seperti ini
setelah selesai, Dinar segera membawa nampan minuman sedangkan Mia membawa nampan camilan yang ia ambil dari kulkas.
"ini di minum dulu" ucap Dinar menghidangkan minumannya.
hampir satu jam mereka bercanda gurai di kediaman Dinar. setelah mbak Wati pulang, mommy Citra mengajak anak menantunya untuk jalan jalan ke Mall untuk menikmati hari bahagianya berkumpul dengan mereka.
***
Hari ini adalah hari pernikahan Luna dan Abian.
Aldrich dan Dinar kini tampak serasi mengenakan pakaian terbaiknya. dengan di bantu MUA Dinar memoles wajahnya terlihat begitu cantik.
gaun maroon panjang serta hijab berwarna senada membuat aura kecantikannya kian keluar.
Aldrich yang sudah rapi dengan setelan tuxedonya tengah menunggunya di ruang tengah begitu terpukau kala Dinar mendekat kearahnya.
serasa seperti ketika pesta pernikahan mereka, Dinar begitu tampak sangat cantik dan cocok mengenakan gaun serta riasan yang ia pakai saat ini.
Aldrich menyunggingkan senyumnya kemudian mengulurkan tangannya untuk membelai lembut pipi chubby sang istri.
"cantik" pujinya.
Dinar tersipu malu, meski telah lama menikah dengan Aldrich namun ada kalanya ia masih malu malu jika harus di puji seperti itu oleh sang suami
"makasih mas"
Aldrich mengangguk, setelah memberikan satu kecupan pada kening sang istri, ia kemudian menuntunnya menuju teras untuk segera berangkat.
hanya menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit untuk mencapai tempat dimana acara itu dimulai.
sesampainya disana, Aldrich dan Dinar masuk ke ballrom hotel setelah di arahkan menuju salah satu ruangan dimana digelarnya pesta pernikahan Luna dan Abian.
Aldrich tak melepas gandengan tangannya pada sang istri hingga keduanya sampai di depan pelaminan.
"mbak, selamat atas pernikahannya ya, maaf kami datang terlambat" ucap Dinar begitu sampai di atas pelaminan.
"nggak masalah Din, yang penting kamu sudah datang, makasih ya"
kini giliran Aldrich berhadapan dengan Luna.
ia menatap mantan tunangannya itu dengan perasaan haru, rasa cinta yang dulu pernah ada kini telah hilang menguap bersama kenangan kenangan mereka yang telah hilang.
saat ini pandangan Aldrich kepada Luna tak ubahnya hanya lah pandangan seorang kakak kepada adiknya.
"selamat ya Lun, semoga kamu selalu bahagia dengan pernikahan mu" ucap Aldrich tulus, ia menoleh ke arah Abian.
"pak Abian, jaga Luna dengan baik, dia wanita baik dan tulus, jangan sakiti dia, jaga putra kalian dengan baik, limpahkan kasih sayang untuk Leo sebanyai banyaknya" entah mengapa setelah Aldrich mengatakan hal itu, hatinya menjadi lega.
Aldrich mengangguk, setelah keduanya berfoto dengan kedua mempelai, Mereka pun turun dari pelaminan.
acara malam ini begitu meriah, Abian benar benar memperlakukan Luna dengan baik, bahkan ia menyiapkan pesta mewah hanya dalam hitungan minggu, pun dengan tamu undangan, ia mengundang seluruh kenalannya dan juga teman teman Luna untuk hadir di acara mereka.
hampir satu jam Aldrich dan Dinar berada di pesta pernikahan Luna dan Abian, setelah berpamitan kepada kedua mempelai, kini Aldrich kembali menggandeng tangan sang istri untuk keluar dari ballroom.
tepat di depan Hotel, Aldrich menghentikan langkah kakinya kemudian menghadap ke arah sang istri.
di raihnya kedua tangan Dinar, dan menatap mata penuh keteduhan otu dengan penuh kasih sayang.
"terima kasih sudah sangat sabar menghadapi sikap ku yang kerap kali kekanak-kanakan dan juga membantu ku keluar dari jeratan masa lalu yang hanya menimbulkan luka, terima kasih sudah mengobati luka hatiku hingga kini hanya ada namamu disana. terima kasih sayang" ucap tulus Aldrich
Selama ini meski keduanya saling melengkapi dan menyayangi, namun Aldrich tak pernah berterima kasih hingga seperti ini, bahkan air matanya telah menggenang di pelupuk matanya, hanya dengan sekali kedipan air matanya akan menetes.
"mas... " lirih Dinar, ini sebuah kebahagiaan untuknya, suaminya benar benar telah jatuh kedalam pelukannya, tak ada lagi rasa khawatir atau takut kehilangan sebab perasaan keduanya kini telah sama.
"kamu suami ku dan aku sangat mencintaimu terlepas dari masalalu yang sempat membelenggu mu, karena aku yakin lambat laun cinta mu akan seutuhnya untuk ku, mari kita jalani rumah tangga kita dengan rukun, merawat buah hati kita dengan penuh kasih sayang hingga akhir nanti" ucap Dinar dengan berderaian air mata.
"iya, kita akan selalu bersama sama hingga maut memisahkan kita, terima kasih telah bertahan bersama ku selama ini, istri ku" ucap Aldrich kemudian menarik Dinar dalam pelukannya.
Malam ini keduanya telah benar benar ikhlas menerima semua cobaan yang dulu sempat menerpa rumah tangganya, Aldrich yang dulu masih memiliki sedikit rasa untuk Luna, kini rasa itu telah sirna dan telah tergantikan oleh rasa cintanya untuk sang istri.
Dinar begitu teramat bahagia, di bawah cahaya rembulan dan dinginnya angin malam, ia menjatuhkan perasaannya seutuhnya untuk sang suami.
***
4 bulan kemudian
oek oek oeekk
terdengar suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan.
di luar ruangan, seluruh keluarga Aldrich tengah berkumpul menunggu kelahiran buah hati nya dengan cemas, namun kala mendengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin, semuanya tampak mengucapkan syukur, bahkan mommy Citra menangis di dalam pelukan daddy Marcello.
"alhamdulillah.... " ucap semuanya.
Sedangkan di dalam ruangan
Aldrich yang tengah menemani sang istri berjuang melahirkan anak pertamanya pun menangis terisak, ia tak menyangka pengorbanan sang istri begitu besar. Aldrich bahkan tak melepas pegangan tangannya pada sang istri, kala suara tangis bayinya terdengar begitu nyaring.
ia berulang kali mengecup kening sang istri tanda terima kasihnya atas perjuangannya selama ini.
"selamat bapak, ibu, putra anda lahir dengan selamat dan sehat" kata dokter yang menangani persalinan sang istri.
Aldrich dsn Dinar begitu terharu, setelah beberapa kali melakukan USG namun hasilnya selalu berubah ubah, kini mereka telah mendapatkan jawaban yang sebenarnya.
bayi mungil mereka adalah laki laki.
setelah selesai melakukan perawatan untuk ibu dan bayi, Aldrich segera mengadzani putra pertama mereka.
setelah selesai barulah Dinar di pindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya.
Dua orang perawat mendorong brangkar Dinar menuju ruangannya, sedangkan satu perawat lainnya mendorong tempat tidur bayi.
pintu ruang bersalin di buka, Aldrich keluar terlebih dahulu di susul ssng istri.
rupanya keluarga besarnya masih menunggu mereka di luar ruangan.
Aldrich yang melihat mommy Citra langsung menghampiri dan memeluknya dengan terisak.
"mom, anak Al sudah lahir, dia pria yang tampan, istri ku benar benar wanita hebat mom" lirihnya. namun suaranya terdengar bergetar.
"Alhamdulillah, mommy sangat bersyukur Dinar dan cucu mommy selamat, sehat semuanya. sudah jangan menangis, jika kamu terlihat bersedih, istri mu akan ikut bersedih dan itu akan mengganggu produksi asinya. sudah ya, Dinar dan cucu mommy sudah melewati semuanya dengan baik" hibur mommy Citra, ia bahkan menepuk pundak sang putra agar lebih tenang.
setelah menghampiri mommy Citra, Aldrich menghampiri ibu mertuanya, ia memeluk dan mengucapkan hal yang sama seperti yang ia ucapkan pada mommynya.
"sudah Al, ayo temui istri mu, dia pasti kesepian karena kita masih berkumpul disini sementara Dinar sudah di antar ke ruangannya" ucap daddy Marcello.
Aldrich mengangguk kemudian mereka semua beriring iringan menuju ruang perawatan Dinar.
***
"jadi siapa nih nama keponakan tampan ku ini kak? " tanya Azura, ia yang memiliki seorang putri, saat ini begitu gemas melihat putra tampan kakaknya.
Aldrich dan Dinar saling berpandangan, keduanya memang telah memutuskan satu nama terbaik pilihan keduanya sebelum kelahiran putra pertamanya.
Dinar mengangguk, tanda setuju Aldrich memberitahu nama putra pertamanya.
sebelum mengumumkan nama putra pertamanya, Aldrich terlebih dahulu menghembuskan nafasnya pelan seraya mengamati satu persatu anggota keluarganya.
"ARSENIO DALE SMITH"
"yang berarti Gagah berani dan rendah hati"
Ucap Aldrich tegas dengan seulas senyum di bi birnya.
seluruh keluarga besar bertepuk tangan tanda setuju dan mengaminkan nama putra pertama dari Aldrich dan Dinar.
di ruangan serba putih ini seluruh keluarga besar Aldrich mengulas senyum bahagia menyambut kehadiran anggota baru di tengah tengah mereka.
selesai