OH MY WIFE

OH MY WIFE
127



Selesai dari restoran Dinar memilih untuk langsung kembali ke hotel sebab besok pagi ia berencana akan jalan jalan mulai pagi hingga sore hari, hal itu sudah ia bicarakan dengan sang suami, dan Aldrich hanya mengangguk tanda setuju.


sesampainya di kamar hotel, setelah menunaikan ibadah sholat isya, Aldrich dan Dinar naik ke atas pembaringan, keduanya saling memeluk seoalah tak ingin kehilangan satu sama lain.


"mas... " panggil Dinar yang masih berada dalam pelukan sang suami


"ya sayang, "


"apa kabar mbak Luna sama Leo ya mas, sudah lama sejak mereka kecelakaan aku belum tahu kabarnya sama sekali"


"kenapa tiba tiba tanya seperti itu? " Aldrich mengernyitkan keningnya


"penasaran aja, waktu itu kan Leo sempet kritis, aku nggak tega aja sama mbak Luna"


bukan tanpa alasan Dinar menanyakan hal itu, melainkan tadi sebelum berangkat ke restoran ia sempat melihat Luna berada di meja resepsionis tanpa ada Leo di sampingnya, ia jadi menduga duga hal apa yang mendasari Luna ke hotel ini tanpa Leo, pikirannya sedikit terganggu mengingat Leo sempat kritis setelah kecelakaan waktu itu.


"mungkin sudah baikan, aku juga nggak tahu gimana sekarang keadaan mereka, sudahlah, jangan memikirkan orang lain, lebih baik kamu pikirkam dia saja, sejak tadi menunggu kamu" jawab Aldrich dengan tangan kirinya meraih tangan kiri sang istri untuk ia tuntun menuju bawah pusarnya.


"astaga mas! " pekik Dinar kaget. ia yang ingin mengatakan jika dirinya tadi melihat Luna pun akhirnya urung.


"ayolah... " rengkek Aldrich dengan gemas.


"satu kali aja ya, babis itu bobok"


"mana bisa, tambah satu kali lagi baru deal" tolak Aldrich


"ya sudah, baiklah... "


Akhirnya dengan segala rasa yang mereka miliki, malam ini keduanya kembali melebur menjadi satu dalam ikatan yang suci.


***


keesokan paginya


sesuai dengan rencana kemarin, Dinar yang ingin berjalan jalan sembari berbelanja pun telah siap dengan pakaian tertutupnya begitu juga dengan Aldrich.


sebelum mulai, keduanya memilih untuk sarapan di hotel sehingga nanti mereka tak kelaparan ketika berjalan jalan.


"makan yang banyak sayang" ucap Aldrich ketika melihat sang istri hanya mengambil sedikit makanan.


"ini sudah cukup mas, nanti aku mau nyicipin makanan khas Bali yang belum pernah aku coba, nanti takutnya malah kekenyangan kalau sarapan banyak banyak"


"baiklah... "


Setelah sarapan barulah keduanya mulai melanjutkan sesuai rencana awal.


Aldrich memilih pusat perbelanjaan terdekat agar sang istri tak kelelahan ketika berjalan jalan.


Dinar tampak antusias bisa mengelilingi pusat perbelanjaan ini walaupun ia harus sesekali berhenti untuk beristirahat mengingat kandungannya yang sudah membesar.


"mas, kemarin di hotel aku kayak lihat mbak Luna deh, tapi dia cuma sendirian aja, nggak sama Leo" ucap Dinar tiba tiba.


"apa itu yang buat kamu semalam menanyakan mengensi mereka berdua? tanya Aldrich memastikan


"iya, hehehe.. "


"mungkin dia sedang ada urusan, dulu setahu ku, memang Luna memiliki kerabat disini, mungkin mau kerumah kerabatnya tapi mampir istirahat di hotel dulu sebelum kesana"


"begitu ya" Dinar tak cemburu ketika sang suami mengatakan suatu halmengenai Luna karena bagi Dinar, itu hanyalah masalalu sang suami.


"mungkin, yaudah yuk jalan lagi, nanti kita mampir ke restoran langganan ku ketika di Bali"


***


Siang ini Dinar tengah mengemasi pakaiannya dengan sang suami tadi setelah suaminya mendapat telepon dari kantor jika ada klien dari Luar negeri yang mendadak datang ke Indonesia untuk bertemu dengan dirinya, Dinar yang paham langsung meminta untuk pulang karena ia tak ingin membuat tamu suaminya menunggu meskipun Aldrich sudah mengatakan jika mereka bisa sedikit lebih lama di sana.


"ayo mas, kok malah diem aja" ucap Dinar menyadarkan sang suami yang tengah menatap kearahnya.


"kamu sih, aku bilang nggak apa apa di tunda sebentar, mereka juga paham kok kita sedang keluar kota, lagipula salah mereka sendiri kesini nggak kasih kanar dulu, jadi biarin ajalah mereka menunggu" sungut Aldrich sebal.


"kamu sih nggak apa apa, bagaimana dengan Soni dan yang lainnya mereka pasti segan sama tamu tamu mas. udah yuk, aku udah selesai. kita langsung ke bandara aja, aku udah beli tiketnya" Dinar segera beranjak dan menarik sang suami untuk segera beranjak juga.


dengan setengah hati Aldrich mengikuti sang istri untuk segera check out, padahal selama di Bali ia sangat menikmati kebersamaan bersama sang istri, apalagi ketika mereka dapat melakukan hubungan intim berkali kali dan di segala penjuru ruangan, itu ssngat membuat Aldrich di mabuk kepayang.


lain lagi jika di rumah, ia akan kembali di sibukkan dengan berkas berkas yang akhirnya membuat waktunya bersama sang istri jadi terpotong.


"sayang, satu hari lagi aja ya" pinta Aldrich


"nggak usah mas, lagipula kita liburan di Bali cuma dua hari keliling kelilingnya, tiga harinya cuma di kamar terus, sama aja kan sama dirumah" ujar Dinar menimpali.


"tapi, "


"sudahlah mas, kasihan bawahan mu harus pontang panting sendirian nggak ada atasannya!" benar apa yang di katakan Dinar, Aldrich sebagai pimpinan memang sudah sepatutnya mengayomi dan memberikan contoh yang baik untuk karyawannya.


"baiklah Ratu ku! " seru Aldrich.


***


sore hari, Aldrich dan Dinar telah sampai Jakarta, keduanya langsung menuju rumah mereka sendiri tanpa mampir ke kediaman utama terlebih dahulu.


Aldrich memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sedangkan Dinar merebahkan diri di atas kasur sembari menunggu sang suami selesai mandi.


tok


tok


tok


"iya mbak, sebentar" teriak Dinar. ia lantas dengan hati hati beranjak dari tidurannya kemudian menghampiri mbak Wati yang tengah menunggu nya di depan pintu kamarnya.


ceklek


"ada apa mbak? " tanya Dinar


"itu Nya, di depan ada tamu nyari nyonya" jawabnya


"tamu, siapa? mommy? "


"bukan, katanya namanya Luna"


"oh baiklah, suruh dia masuk, aku akan segera datang mbak"


Dinar tak langsung keluar kamar, ia kembali masuk ke dalam untuk memberi tahu sang suami akan kedatangan Luna di kediaman mereka.


tangannya sudah terangkat hendak mengetuk pintu kamar mandi, namun Aldrich lebih dulu membukanya dari dalam.


"ada apa? " tanya nya sedikit tersentak, sebab kepalan tangan sang istri masih di udara.


"eh mas" Dinar segera menurunkan tangannya "ada mbak Luna di bawah"


"Luna, mau apa dia kesini? " tanya Aldrich


"aku nggak tahu, tapi katanya dia nyariin aku. aku ke bawah dulu ya, nanti kalau kamu sudah selesai langsung susul aku ke bawah" pamit Dinar, wanita itu langsung memutar tu buhnya dan berjalan meninggalkan sang suami yang masih terbengong


"bisa bisanya ninggalin suaminya dalam keadaan begini" gerutu Aldrich sembari menunduk melihat tanda tanda kehidupan di bawah disana.