
Luna menyeka air matanya yang entah dari kapan menetes dari pelupuk matanya, ia masih terus memandang ke arah Aldrich yang tengah tersenyum kepada para tamu undangan yang mendatanginya.
"Luna... "
Luna menoleh, ia mendapati mama Tia sudah berada di sampingnya setelah sebelumnya berpamitan untuk pergi menghampiri mommy Citra dan daddy Marcello.
"ma, ternyata Luna tak sekuat itu, hati Luna sangat sakit ma... " lirih Luna berada dalam dekapan sang ibunda.
Luna bisa hadir dalam pesta pernikahan Aldrich karena datang bersama dengan kedua orang tuanya, awalnya Luna tak berniat untuk hadir karena tak ingin melihat kemesraan Aldrich dengan istrinya, akan tetapi pagi tadi ia berubah pikiran, tak ada salahnya jika ia hadir, mungkin bisa menjadi pengingat jika Aldrich telah menjadi milik wanita lain, pikirnya.
dan keputusan yang Luna ambil kali ini justru meninggalkan luka dalam hatinya, ia tak sekuat bayangannya yang akan mengira jika dirinya tak akan cemburu ketika melihat orang terkasihnya menjadi milik wanita lain meskipun ia dan Aldrich sudah lama tak bertemu.
"kamu tenangkan diri kamu dulu, setelah itu kita pulang, jangan sampai bu Citra tahu jika mama dan papa datang kesini bersama mu" dengan lembut mama Tia mencoba menenangkan Luna yang masih terisak di dekapannya
Di sisi lain
Dinar begitu sangat bahagia ketika mendapati Mia sahabat sekaligus partner kerjanya mendekat ke arahnya bersama teman teman yang lainnya.
"kalian....! " seru Dinar terenyuh, teman temannya bersedia datang ke acara pernikahan nya.
"selamat ya Din, akhirnya sold out juga... "
"selamat menempuh hidup baru Din, langgeng langgeng sama suami.. "
"Dinar... " Mia mendekat, matanya berkaca kaca, ia langsung memeluk sang sahabat yang sudah lama tak ia jumpai itu
"Mi... "
" kamu kenapa nggak bilang kalau suami kamu pak presdir, kamu tahu nggak kalau aku sama temen temen tadi sangat syok mengetahui fakta tentang suami kamu... kenapa nggak cerita" lirik Mia, setelah selesai berkata seperti itu, ia lantas mengurai pelukannya.
"hehe... buat apa loh di ceritain, kan sama aja, dia juga manusia" jawab Dinar sekenanya.
"ish kamu itu ya..."
setelah beberapa saat berbincang dan berfoto bersama, kini teman teman Dinar kembali turun dari panggung dekorasi untuk menikmati hidangan serta hiburan yang telah di sediakan sesuai dengan perintah pemilik acara.
"hai Din... selamat ya atas pernikahan kamu, semoga langgeng dan segera dapat momongan" sapa Mila yang tiba tiba datang menghampiri Dinar
"Mila, makasih ya sudah datang... "
"harusnya aku yang berterima kasih ke kamu, karena kamu sudah mengundang ku, padahal selama ini aku sudah sangat jahat sama kamu. aku minta maaf sama kamu ya Din, maaf selama ini aku sering berlaku tidak baik terhadap kamu, sering marah, nuduh dan perilaku buruk ku yang lainnya. aku bener bener minta maaf sama kamu Din" ucap Mila panjang lebar.
Mila mengangkat wajahnya menatap Dinar "kamu serius? "
"ya, lagipula aku tak pernah mendendam sama kamu Mil, sejak awal aku sudah memaafkan kamu. sudah jangan ingat lagi tentang masalalu karena kita tidak tinggal disana, lebih baik memikirkan masa depan yang lebih baik. aku harap kita bisa berteman baik seperti dulu lagi Mil"
"makasih ya Din, aku mau, aku mau berteman baik lagi dengan mu, sekali lagi maaf dan terima kasih ya Dinar, kamu memang teman terbaik ku" ucap Mila begitu bahagia, ia seolah merasa beban di pundaknya telah terangkat sepenuhnya.
setelah meminta maaf kepada Dinar, Mila pun lantas kembali ke tempatnya bersama tetangga Dinar dan yang lainnya.
Aldrich menoleh ke arah sang istri yang terlihat sangat cantik hari ini, tak terlihat raut lelah dari wajah cantik itu meskipun ia telah lama berdiri dengan selalu menyunggingkan senyumnya kepada semua orang yang menyapanya.
"apa mas? " tanya Dinar yang mengetahui jika sang suami tengah menatap dirinya
"istri ku cantik" goda Aldrich
"dari dulu kali mas, mas aja yang nggak nyadar" seru Dinar percaya diri.
Kini tamu undangan tengah menikmati hidangan yang di sediakan, maka dari itu Aldrich dengan mudah menggoda sang istri karena memang sudah tak ada lagi yang hendak menyalami kedua mempelai itu.
"iya iya, istri ku memang cantik, sangat sangat cantik... "
keduanya terkekeh pelan, entah pembahasan apa kali ini, karena tak ada arah tujuannya, Aldrich lantas mengedarkan pandangannya setelah ia mengajak sang istri untuk duduk.
dari tempatnya saat ini, Aldrich dapat melihat begitu banyak tamu undangan yang menghadiri acaranya siang ini, mulai dari rekan bisnis daddy Marcello, rekan bisnisnya, teman temannya, tetangga serta teman teman dari sang istri membuat Aldrich mengembangkan senyum bahagianya.
namun, ketika ia menoleh ke arah dekat pintu keluar, ia melihat seseoang yang sangat ia kenal, seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya dengan cinta, seseorang yang ia pikir telah tiada, namun ia sekarang berada dalam satu ruangan yang sama.
Aldrich yakin ia tak sedang bermimpi sebab disana bukan hanya satu orang, melainkan tiga orang, dengan dua orang paruh baya serta satu wanita dewasa.
kini keyakinan Aldrich mengenai mantan tunangannya yang ternyata masih hidup telah seratus persen benar setelah dirinya melihat secara langsung wanita itu berada di dekatnya.
'jadi memang benar kamu masih hidup Luna, lalu untuk apa kamu membuat berita bohong mengenai kematian mu, apakah kamu tak ingin menikah dengan ku, sehingga kamu membuat berita bohong itu' sesal Aldrich dalam hati ia bergumam.
Dinar, yang sedari tadi mengajak Aldrich berbicara, namun pria itu tak menanggapi perkataan sang istri, Aldrich justru terdiam dengan pandangan lurus ke depan.
berulang kali Dinar menepuk pelan lengan Aldrich namun pria itu sepertinya sedang berada dalam lamunannya sehingga tepukan lembut sang istri tak menyadarkan dirinya.
tiba tiba saja Aldrich beranjak dari duduknya, tanpa menoleh ke arah sang istri, ia bergegas pergi meninggalkan pelaminan menuju ke arah pintu keluar, membuat Dinar menatap tak percaya ke arah Aldrich yang semakin menjauh dari tempatnya saat ini.