OH MY WIFE

OH MY WIFE
39



Pukul 05.30 wib.


Pagi sekali Al sudah terlihat sangat rapi, dengan balutan setelan jas berwarna navy ia terlihat begitu gagah. mommy Citra yang kebetulan melihat sang putra yang sudah nampak rapi itupun lantas menghampirinya


"tumben pagi sekali sudah rapi kak?" tanya mommy Citra, ia heran dengan putra pertamanya itu karena tidak biasanya Al berangkat sepagi ini.


"eh mom, emm i iya Al ada sedikit perlu sama temen jadi sebelum ke kantor Al mau mampir ke rumahnya dulu" jawab Al sedikit gugup karena belum berani jujur dengan sang mommy


mommy Citra menatap Al dengan curiga, dari bahasa tubuh serta ucapan Al yang sedikit gugup membuat mommy Citra menautkan kedua alisnya. namun beliau tak ingin tahu lebih dalam sebab ia tahu, jika nanti Al bisa terbuka kepadanya seperti kejadian kecelakaan waktu itu.


"oh begitu, nggak sarapan dulu? "


"nanti siang opa Bagas pulang ke rumah, mommy berencana mau ngundang anak anak panti nanti sore. kalau tidak lembur, mampir ke rumah opa ya" sambung mommy Citra memberitahu.


"jadi opa sudah benar benar sembuh mom, baiklah nanti Al usahakan pulang sore dan pergi ke rumah opa


ya sudah Al berangkat dulu ya mom, nanti aku beli saja sarapannya, assalamualaikum... " Al mencium punggung tangan mommy Citra kemudian berlalu menuju teras.


"iya hati hati kak, wa'alaikumussallam.. " mommy Citra kembali ke dapur lagi setelah Al pamit untuk segera berangkat.


Kini Al sudah berada di lobi apartemen nya, ia juga membawa satu kantong keresek makanan untuk sarapan dirinya dan sang istri. ya, alasan pagi ini Al pergi pagi sekali dari rumah karena hendak melihat istrinya yang mulai dari semalam tinggal di apartemennya.


ceklek


Al membuka pintu apartemennya, ia segera masuk dan mencari keberadaan Dinar.


"Din... " panggil Al. saat ini ia tengah berada di dalam kamarnya yang terlihat kosong, kemudian pandangannya beralih ke arah pintu kamar mandi yang tertutup, ia yakin jika Dinar sedang man di saat ini. karena tak ingin mengganggu Dinar yang sedang man di, Al memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.


tak sengaja matanya melihat dompet Dinar yang tergeletak di atas meja dengan sedikit ragu, Al kemudian mengambil dompet itu dan membukanya, yang ia ingin tahu saat ini adalah Surat izin memgemudi milik Dinar, apakah gadis itu memilikinya atau tidak, ternyata setelah ia cek ternyata Dinar memilikinya. setelah memastikan hal itu, dengan buru buru Al meletakkan dompet milik Dinar di tempat semula.


ia menyalakan ponselnya untuk menghubungi seseorang. setelah tersambung ia segera membuka suara.


"ya benar, harus pagi ini.. "


"(.........)"


"oke saya tunggu"


setelah beberapa detik melakukan panggilan, ia pun mengakhiri nya kemudian kembali menyibukkan dirinya untuk mengecek beberapa email masuk yang ada di ponselnya.


sebenarnya nanti sore ia berencana untuk pergi ke luar kota untuk menyambangi restoran cabangnya dalam beberapa hari kedepan, namun sepertinya akan ia urungkan sebab nanti sore akan ada acara di rumah opa Bagas.


Ceklek


pintu kamar mandi pun terbuka, Al yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah kamar mandi, ia melihat Dinar yang sepertinya terkejut dan mene gang ketika melihat keberadaannya disana, keduanya saling berpandang pandangan sebelum akhirnya Dinar menyadari sesuatu.


aaaaakkkhhhhh....


Dinar langsung membalikkan ba dannya kemudian segera masuk kembali ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan sangat keras. Sedangkan Al kini tengah menggaruk tengkuknya sebab ia baru saja melihat tu buh polos sang istri yang hanya berba lut handuk sebatas pa ha.


'jangan me summm' gumam Al mensugesti dirinya kembali. kemudian ia segera keluar dari ka mar.


sedangkan Dinar yang kembali masuk ke dalam kamar mandi pun menge lus da danya yang bahkan saat ini tengah berdetak lebih kencang.


'ya ampun, sejak kapan mas Al ada disana, kenapa aku sampai nggak tahu. gini nih kalau ke enakan berendam, jadi lupa segalanya' gerutu Dinar pada dirinya sendiri.


"mas... "


"mas Al.. "


aman, sepertinya Al sudah keluar, ini saatnya Dinar keluar kamar mandi dan bergegas berpa kaian. Dinar merutuki dirinya yang terlalu bersemangat untuk berendam hingga lupa untuk membawa baju ganti ke kamar mandi.


perlahan lahan Dinar membuka pintu kamar mandi kemudian kepalanya melogok keluar, di lihatnya sekeliling ternyata sudah sepi, itu berarti Al sudah keluar.


Dinar segera keluar kemudian berjalan ke arah lemari kemudian mengambil setelan seragamnya, setelah beberapa menit bersiap, kini Dinar telah rapi kemudian ia memutuskan untuk keluar kamar menemui Al.


"mas Al... " panggil Dinar ketika melihat Al yang sedang duduk di kursi makan.


"eh Din, sudah selesai mandinya, maaf tadi aku nggak sengaja lihat kamu,... "


"nggak papa kok mas, aku aja yang teledor, nggak bawa baju ganti ke kamar mandi" potong Dinar cepat. malu, jelas saja. Al sudah melihat dirinya yang setengah na ked itu. maka dari itu ia tak ingin mendengar Al membahas hal tadi.


"hmm.. ya sudah sini makan, kebetulan tadi aku beli sarapan buat kita berdua" ujar Al seraya membuka bungkusan keresek yang masih tergeletak di meja.


"iya mas... " tanpa basa basi Dinar segera mendudukkan dirinya di kursi kemudian menerima bungkusan nasi pemberian Al. hingga 15 menit kemudian, keduanya telah selesai sarapan, dan segera merapikan bekas makannya tadi.


"kamu habis ini langsung ke pabrik Din? " tanya Al


"iya mas, takut terlambat, soalnya kan jaraknya agak jauh dari apartemen ke pabrik dan harus naik angkot kesananya, takut nanti terjebak macet"


"ya sudah, cepat ambil tas mu kita kebawah sama sama" ajak Al yang sudah berdiri dan merapikan pakaiannya.


"iya sebentar mas" seru Dinar kemudian langsung berlari menuju kamarnya.


ketika sedang menunggu Dinar yang tengah mengambil tasnya di dalam kamar, Al mendapatkan sebuah notifikasi pesan masuk dari ponselnya yang mengatakan jika pesanannya telah tiba.


tak ingin membuat orang tersebut menunggu lama, gegas Al meminta Dinar untuk segera berangkat. keduanya berjalan beriringan menuju lobi apartemen setelah keluar dari lift.


"ayo ikut aku... " ajak Al sembari menarik tangan Dinar menuju keluar apartemen.


tak ingin banyak bertanya, Dinar segera mengikuti langkah kaki suaminya yang membawanya keluar gedung apartemen.


"sudah lama menunggu? "tanya Al kepada pria berpakaian rapi di hadapannya itu. kini mereka tengah berada di cafe sebelah apartemen


"baru lima menit yang lalu mas, barangnya sudah saya bawa, ini surat kelengkapannya, bisa minta tanda tangan pemiliknya? " ujar pria tersebut dan langsung memberikan Pesanan Al


Al menerima surat suratnya kemudian menyodorkan kearah Dinar.


"apa mas? " tanya Dinar bingung


"tanda tangani ini, sudah ayo cepat" desak Al yang pada akhirmya membuat Dinar buru buru membubuhkan tanda tangannya di atas kertas.


setelah mendapatkan tanda tangan Dinar, pria itupun kembali menyerahkan sebuah kunci sepeda motor kepada Al.


"ini kuncinya mas, sepeda motornya ada di depan, masih di atas pick up, setelah ini akan kami turunkan" ucapnya menunjuk kearah pelataran cafe.


"ya, terima kasih sudah mau di repotkan mendadak seperti Ini" ucap Al


"sama sama mas, kami yang seharusnya berterimakasih karena mas Al sudah sering berlangganan di tempat kami, kalau begitu saya permisi dulu ke depan buat menurunkan motornya mas" pamit pria itu, di angguki oleh Al