OH MY WIFE

OH MY WIFE
50



Al mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping brangkar. ia menatap sang istri yang masih betah memejamkan mata sedari tadi, tangannya terangkat kemudian menyibak selimut bagian kaki Dinar untuk melihat keadaan kaki sang istri, benar kata Abian, jika istrinya mengalami patah tulang hingga saat ini kakinya tengah di gips.


"cepatlah sembuh" bisik Al di telinga Dinar.


tak bersenang lama kemudian Dinar mulai mengerjapkan matanya Dinar sadar dan itu membuat Al yang sedari tadi murung berubah menjadi senang. ia menatap Dinar dengan senyum mengembang dari bi birnya.


"kamu sudah sadar sayang? " tanya Al dengan spontan memanggil Dinar dengan sebutan sayang


Dinar hanya mengangguk sebagai jawaban "kok mas bisa ada disini? " tanya Dinar lirih


"iya, tadi pihak rumah sakit yang ngabarin aku. kamu kenapa bisa seperti ini hm? " tanya Al dengan lembut. ia bahkan menggenggam erat jari jemari Dinar.


"maaf... " ucap Dinar singkat, ia merasa bersalah dengan suaminya karena mengabaikan pesannya.


"tidak perlu, kamu nggak salah. semua ini hanya musibah, kamu tunggu sebentar aku panggilkan dokter dulu" ucap Al kemudian keluar untuk memanggil dokter


beberapa saat menunggu, dokter pun tiba kemudian mengecek kondisi Dinar dengan teliti. ia bahkan mengecek kaki Dinar yang di gips


setelah selesai mengecek kondisi Dinar, dokter pun pamit keluar. Al kemudian mendekat lagi ke arah sang istri.


"kamu nggak perlu cemas begitu, kakimu pasti akan segera sembuh, nanti aku akan meminta pihak rumah sakit untuk memberikan obat yang paling bagus buat kamu" ucap Al menenangkan Dinar yang terlihat cemas setelah mendengar penjelasan dari dokter.


"tapi bagaimana dengan pekerjaan Dinar mas, tadi pagi aku hampir telat makanya aku ngebut, tapi malah kena apes begini" seru Dinar berkaca kaca.


"bukan apes, tapi musibah" ucap Al meralat ucapan Dinar . "apa kamu lupa kalau suamimu pemilik pabrik tempat mu bekerja, kalau kamu masih mau kerja disana itu bisa di atur, tapi kalau udah nggak mau ya nggak apa apa, justru aku malah seneng. karena aku nggak perlu susah susah buat bujuk kamu agar tidak kembali bekerja" sambungnya


"Dinar masih ingin bekerja mas, Dinar masih ingin ngirim uang untuk ibu dan bapak di kampung, tapi sekarang kaki Dinar justru kayak begini" rengek Dinar.


"udah, itu bisa di atur. sekarang fokus sama kesembuhanmu dulu baru nanti mikirin kerja lagi. lagian ibu sama bapak pasti akan marah jika tahu kamu terluka seperti ini tapi malah mikirin buat kirim uang ke mereka. sekarang kamu tanggung jawab ku, jadi kamu nggak perlu lagi mikirin buat kirim uang ke mereka, biar sekarang aku yang mengirimi mereka uang bulanan" ucap Al


"tapi mas,... "


"sudah sekarang kamu istirahat lagi, aku akan krluar sebentar membeli makanan" seru Al kemudian merapikan selimut Dinar.


tak ingin sang suaminya marah, Dinar pun hanya menurut atas perlakuan Al kepadanya. "ponsel Dinar dimana ya mas? " tanya Dinar, ia baru teringat jika hari ini dia tidak kerja, dan lupa belum mengabari teman temannya di pabrik.


"itu di nakas" ucap Al kemudian meraih ponsel Dinar dan memberikan kepadanya.


"makasih mas" ucap Dinar


"iya. ya sudah aku keluar dulu ya, mau titip apa? "


"nggak ada mas, aku lagi nggak kepengen makan apa apa" jawab Dinar.


setelah itu Al benar benar meninggalkan Dinar sendiri di ruangannya. ia bergegas menuju ke salah satu minimarket terdekat untuk membeli air minum serta beberapa camilan, tak lupa ia juga memesankan makanan untuk dirinya dan juga Dinar di salah satu restorannya.


[halo Zam, ada apa?] tanya Al pada sang adik di seberang sama


[kak Al dimana, kenapa ruangannya kosong dari tadi? ] tanya Azzam.


pasalnya lelaki itu sudah dua kali mendatangi ruangan Al, namun sang kakak tidak ada di ruangannya, ia bertanya kepada sekretaris Al, yang ia dapat hanya gelengan kepala. karena Dela memang tak tahu Al pergi kemana sebab Al tadi pergi dengan teruru buru hingga tak menghiraukan pertanyaan dari Dela.


[aku di rumah sakit, Dinar habis kecelakaan, makanya aku nggak ada di kantor, ada apa memangnya? "]


[Dinar, maksudmu kakak ipar, bagaimana bisa kecelakaan?. tadi aku hanya ingin bertanya sedikit, tapi nanti sajalah nggak begitu penting juga. trus sekarang gimana keadaan kakak ipar? ] tanya Azzam


[dia sudah sadar, dan sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi sayangnya kakinya mengalami patah tulang. oh ya Zam, kakak titip kantor dulu ya, kasian Dinar kalau aku tinggal tinggal, dia nggak ada keluarga selain kita disini] ucap Al pada akhirnya


[baiklah aku akan mencoba handle kantor, kamu fokus saja dengan kesembuhan kakak ipar, nanti kalau aku nggak sibuk, aku akan membesuk, kirim saja alamat rumah sakitnya ]


[oke baiklah. makasih Zam]


panggilan pun terputus, Al menghembuskan nafas nya pelan, satu masalah selesai, jadi sekarang ia bisa lebih fokus untuk merawat Dinar tanpa harus khawatir meninggalkan kantor.


setelah selesai menerima telepon, Al bergegas mela jukan mobilnya kembali ke rumah sakit. untung saja tadi ketika ia memesan makanan di restorannya, ia langsung meminta untuk di antar ke kamar, jadi kurir yang mengantar pesanannya pun tidak perlu menunggu dirinya.


sementara Dinar yang tengah fokus dengan ponselnya di kejutkan oleh ketukan pindu dari arah luar, karena ia belum mampu untuk berdiri sendiri, ia memilih untuk berteriak dari dalam agar yang mengetuk bisa langsung masuk


"siapa, masuk aja. nggak ada yang bisa bukain pintu" teriak Dinar


"maaf benar ini ruangan mbak Dinar?" tanya orang itu ketika sudah masuk ke dalam kamar rawat inap Dinar


"iya betul apa apa mas? " tanya Dinar


"oh ini saya mengantar makanan pesanan dari pak Aldrich katanya untuk mbak Dinar di ruang VIP 2" ucap kurir tersebut


"mas Al, ya sudah tolong taruh di meja saja ya mas, soalnya saya nggak bisa turun" cicit Dinar


kurir tersebut mengangguk kemudian mulai menurunkan barang bawaannya yang lumayan banyak itu. ia letakkan beberapa menu makanan di atas meja hingga hampir memenuhi seluruh meja.


sedangkan Dinar hanya melongo karena pesanan Al yang teramat banyak, mungkin ada sekitar sepuluh macam menu yang di pesan oleh Al.


"sudah selesai mbak, kalau begitu saya pamit dulu, permisi " pamit kurir tersebut setelah menyelesaikan tugasnya.


"eh i-iya mas. makasih ya" ucap Dinar pada akhirnya.


Dinar kembali menatap makanan yang tertata rapi di meja lalu bergumam 'dasar orang kaya, kalau pesen makanan nggak tanggung tanggung dah ah, banyak Bener'