
Karena masih menunggu daddy Marcello yang belum kunjung datang ke ruang keluarga, Aldrich pun berinisiatif untuk memberikan kabar bahagianya terlebih dahulu sebelum nanti mereka akan menghadapi ketegangan karena pembicaraan yang akan di bahas oleh sang ayah.
Aldrich menoleh ke arah sang istri yang sudah duduk manis di sampingnya "aku akan mengatakannya sekarang" bisik Aldrich pada telinga sang istri.
"tunggu lah daddy dulu mas. yang ngajakin kita kumpul disini kan juga mommy sama daddy, nggak enak kalau kita ambil alih duluan" ujar Dinar.
Aldrich mendengus kesal sebab keinginanya untuk. memberitahu keluarganya gagal total karena larangan sang istri, padahal bi birnya sudah gatal untuk segera mengatakan jika istrinya kini tengah mengandung.
beberapa saat kemudian daddy Marcello datang dari arah ruang kerja pribadinya.
"sudah kumpul semua? " tanya nya sesaat setelah sampai di ruang keluarga.
"sudah semua minus keisya dad" jawab Azura.
Daddy Marcello pun mengangguk "baik, daddy tak ingin mengulur banyak waktu, besok hari minggu, Azzam akan melamar seorang gadis. daddy harap kalian berkenan untuk ikut datang ke kediaman gadis itu"
"what... " pekik Bella, kakak tertua Azzam itupun melotot ke arah sang adik.
"jangan bilang lu kecelakaan" tuduh Bella, ia tak percaya jika adik lelakinya akan meminang anak orang, sebab yang ia tahu, Azzam adalah pria dingin dan tak tersentuh jika di hadapkan dengan wanita asing selain keluarganya.
"emang aku lagi ngebut kak, tapi ya nggak kecelakaan juga, hanya saja takut ketikung jadi lebih baik aku duluin aja" jawab Azzam
sontak semua mata tertuju ke arahnya.
"semua kakak ku emang bener bener keren, DIAM DIAM MENGHANYUTKAN" Timpal Azura.
"jadi om sama dia nggak pacaran? tapi kok bisa tiba tiba mau ngelamar, emang si ceweknya beneran mau sama om? " lanjut Cia
"beneran lah Ci, kalau nggak mau mana mungkin aku melamarnya"
"mommy awalnya juga terkejut, tapi setelah abang ngasih penjelasan ke mommy, ya mommy bisa apa selain menerima. nanti mommy minta anak anak dan mantu mommy yang perempuan buat nyiapin seserahannya ya, karena waktunya mepet, takut nggak keburu" ucap mommy Citra
"big no untuk istri ku mom, biar dia istirahat di rumah saja" tolak Aldrich dengan cepat.
Dinar langsung menyenggol lengan sang suami karena dirasa kurang sopan menolak membantu mertuanya.
"apasih sayang, kamu diem aja udah" lanjut Aldrich berbisik
"biarin aja sih mas. kan nggak berat juga, lagipula aku nggak sedang sakit, kenapa harus istirahat" lirih Dinar.
"kenapa Al, Din? " tanya mommy Citra, pasalnya pasutri itu terlihat engah memperdebatkan sesuatu.
"begini mom, dad. bukan aku tak mengizinkan istri ku untuk membantu menyiapkan keperluannya, tetapi untuk saat ini Dinar harus banyak istirahat"
"kamu sakit Din? " tanya Bella
"bukan, bukan sakit. istri ku sedang hamil muda dan aku nggak mau dia sampai kecapekan dan drop kak Bell"
"tentu mom... "
semua orang tampak terkejut, lalu tersenyum bahagia, mereka tak menyangka jika generasi penerus Aldrich telah tumbuh dengan cepat.
Malam ini acara perundingan mengenai lamaran Azzam pun telah selesai, meskipun Azzam masih merahasiakan siapa gadis itu, akan tetapi mereka yakin jika gadis pilihan putra kedua Marcello itu tak mungkin salah.
karena hari sudah larut, mommy Citra meminta anak cucu mantunya untuk menginap di kediaman utama.
kini semua orang telah masuk ke dalam kamar masing masing begitu juga dengan Aldrich dan Dinar.
keduanya telah selesai mengganti pakaian santainya dengan pakaian tidur.
Aldrich yang sudah lebih dulu selesai meminta sang istri yang masih mengenakan skincare untuk segera mendekat ke arahnya.
"sayang kemarilah... " pinta Aldrich. pria itu menyenderkan punggung nya pada sandaran kasur kemudian menepuk sisi sebelahnya yang masih kosong.
"sebentar mas, tinggal sedikit lagi" ucap Dinar.
setelah menyelesaikan semuanya dan mencuci tangan, Dinar lantas menyusul sang suami, dan masuk dalam pelukan hangatnya.
terasa hangat dan menenangkan.
***
3 hari berlalu.
kini Di kediaman utama seluruh anggota keluarga telah berkumpul di depan teras karena hari ini adalah hari lamaran Azzam dengan gadis pilihannya.
setelah memastikan semuanya siap, mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Di tengah perjalanan yang panjang, karena bosan Dinar lantas membuka ponselnya berniat untuk berselancar di sosial medianya.
rupanya ada beberapa pesan masuk yang dikirim oleh sang Sahabat yang mengatakan jika dirinya segera di lamar oleh seorang lelaki yang selama ini selalu mengejar dirinya.
"Din doain aku ya, hari ini dia beneran akan dateng ke rumah buat ngelamar aku, jujur aku bingung campur aduk, aku takut keluarganya nggak mau nerima aku" salah satu pesan yang dikirim Mia membuat Dinar merasa bersalah sebab sebagai seoang sahabat ia tak bisa menemaninya karena ia juga mempunyai acara sendiri.
"kamu tenang saja Mia, mungkin saja dia benar benar jodoh kamu, ingat, sejauh kamu berlari, kalau yang namanya jodoh pasti ketemu" balas Dinar.
ia jadi teringat 2 hari yang lalu Mia bercerita jika dirinya akan di jodohkan dengan pria pilihan kedua orang tuanya, tentu Mia menolak dan mengatakan akan mengenalkan kekasihnya. lalu Mia pun memberitahu pria yang selama ini mengejarnya jika dirinya hendak di jodohkan, dan langsung saja, pria itu pun meminta Mia untuk menolak perjodohan itu sebab dirinyalah yang akan meminang dirinya.
Dinar tersenyum, ia merasa lucu akan kisah sahabatnya itu, bagaimana tidak, mereka yang selalu bertengkar dan seperti tom dan jerry kini akhirnya akan bersatu.
sekitar satu setengah jam perjalanan, kini rombongan keluarga Azzam pun telah sampai di depan sebuah rumah yang terlihat begitu asri meskipun sangat sederhana.