
Tak ingin semakin penasaran, Dinar memutuskan untuk menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar sebelum ia pergi menuju ke hotel.
kini Aldrich dan Dinar telah siap, keduanya berjalan beriringan menuju lantai pertama untuk bertemu dengan keluarga besarnya.
"wah, ini nih biang kerok nya udah dateng! " seru Bella ketika melihat Aldrich turun bersama Dinar tengan tangan yang saling bertautan.
Aldrich menoleh ke kanan dan ke kiri melihat siapa gerangan yang di. maksud oleh sang kakak, padahal jelas sekali ia menyadari jika dirinya lah yang sedang di sindir oleh sang kakak.
"aku? " tunjuk Aldrich pada dirinya sendiri
Bella mencebik tindakan bodoh sang adik "kalau bukan kamu siapa lagi, yang berulah tadi malam kan kamu Al"
"perasaan aku nggak ngapa ngapain deh, kenapa kalian seakan mengibarkan bendera perang dengan ku? " Aldrich menelisik wajah saudari saudarinya yang menatapnya dengan masam.
"ya ya ya, penculik mana mau mengaku, kak Al, kali ini aku kecewa sama kakak! " ucap Azura mendramatisir keadaan.
"apaan sih kalian, pagi pagi udah nggak jelas begini, udah sayang, ayo kita ke ruang makan sekarang"
"nah tuh tuh lihat, dasar bucin akut" seru Azura
pagi ini semua anggota keluarga besar Aldrich dan juga Dinar sudah berkumpul di ruang makan, hanya tinggal menunggu kedatangan para anak anak yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"maaf menunggu" ucap Dinar tak enak hati.
ia dan Aldrich mengambil kursi yang masih kosong kemudian duduk disana disusul oleh Bella dan juga Azura yang juga baru datang.
"tidak apa apa, wajar pengantin baru kalau suka telat keluar kamarnya! " seru mommy Citra
sarapan pagi ini terasa sangat nikmat karena semua anggota keluarga tengah berkumpul bersama, daddy Marcello yang biasanya diam ketika berada di ruang makan pun kini mulai ikut berbicara, tapi, tentu setelah mereka selesai makan dan waktunya mereka saling mengobrol.
Dinar dan Aldrich berpamitan untuk pergi ke hotel terlebih dahulu sebelum keluarga yang lainnya kesana.
rencananya pagi ini Dinar akan langsung di rias karena mengingat acara akan di mulai pukul 10.00 pagi.
"mom, dad, bapak, ibu dan semuanya, Al dan Dinar pamit pergi dulu ya, nanti segeralah kesana agar Dinar ada yang menemani" ucap Aldrich berpamitan
"tenanglah son, setelah ini kami semua juga akan segera berangkat, nanti biar adik adik mu kesana lebih dulu agar bisa menemani kalian"
"baiklah, kami berangkat sekarang, assalamu'alaikum" Aldrich dan Dinar mencium punggung tangan para orang tua yang ada disana kemudian setelah itu barulah mereka berangkat dengan di antar oleh supir.
"pak, nanti nggak usah ngebut ya, kami nggak buru buru kok" ucap Dinar kepada supirnya setelah keduanya masuk ke dalam mobil
"baik mbak Dinar"
kini mobil yang di tumpangi Dinar dan Aldrich telah meninggalkan pelataran rumah utama di barengi dengan lambaian tangan saudari saudari Aldrich.
meskipun mereka tadi pagi sempat berdebat, namun hal itu tak membuat mereka menjadi bermusuhan atau tak saling menghargai.
setelah menempuh perjalanan yang sedikit lebih lama, kini Dinar dan juga Aldrich telah sampai di lobi hotel.
rupanya kedatangan mereka telah di sambut oleh beberapa staf hotel dengan membawakan satu bucket mawar merah untuk di berikan kepada Dinar.
"selamat pagi, tuan, nona" sapa manager hotel dengan ramah.
Dinar merasa tersanjung akan sambutan hangat dari mereka semua, ia lantas mengangguk dan tersenyum hangat "terima kasih" ucapnya.
kemudian keduanya di antarkan oleh manager hotel menuju kamar sementara mereka. ya, tentu kamar sementara karena kamar yang sesungguhnya akan mereka gunakan untuk nanti malam
"silahkan masuk tuan, nona" ucap manager hotel setelah membukakan pintu untuk mereka.
"terima kasih, anda bisa meninggalkan kami sendiri pak Gio" ucap Aldrich
"baik tuan, jika anda butuh bantuan, segera hubungi kami" ucapnya lagi.
"baik pak Gio" setelah itu Aldrich dan Dinar masuk ke dalam kamar hotel.
keduanya istirahat sejenak sembari menunggu MUA datang dan merias Dinar.
"ternyata gaunnya sangat mewah ya mas, perasaan kemarin waktu aku coba, terlihat sederhana, kenapa sekarang terlihat sangat mewah" seru Dinar seraya menyentuh gaun yang sudah di pasang pada manekin.
Aldrich mendekat kemudian menyentuh pundak sang istri "karena hati ini hari bahagia kita sayang, jadi semuanya akan terasa sangat berbeda dari biasanya"
"hm, apa iya ya mas? "
"bisa jadi.. "
tak berselang lama kemudian MUA yang di sewa mommy Citra telah datang. mereka segera menggiring Dinar menuju sofa untuk segera mereka dandani. sementara Aldrich memilih untuk membaringkan tu buhnya di kasur sembari menunggu sang istri selesai di rias.
kebetulan kamar hotel milik Aldrich memiliki ruangan yang berbeda antara kamar dan juga ruang tv, sehingga dirinya tak akan malu jika harus tiduran di kasur sementara sang istri tengah di rias.
***
Azzam bersama dengan Azura dan juga Cia mendatangi kamar Aldrich. mereka datang karena perintah dari mommy Citra yang meminta mereka untuk dstang lebih dahulu slagar dapat menemani Dinar dan juga Aldrich yang sudah lebih dulu berangkat ke hotel.
namun hal mengejutkan mereka dapati ketika melihat Aldrich yang tengah tertidur pulas di kasur sementara Dinar tengah di serbu oleh MUA dan para asistennya.
"astaga kakak ku, bagaimana bisa dia tidur ketika sedang ada acara besar" gumam Azzam menggaruk pelipisnya.
"lah iya, bisa bisanya dia tidur sementara kakak ipar sedang di make up in"
"mungkin om Al masih ngantuk karena semalem tan, kan semalem kita nyulik istrinya, ya walaupun di culik balik sih! " seru Cia ikut menimpali ucapan om dan tantenya itu
ketiga orang itupun lantas meninggalkan Al kemudian menghampiri Dinar.
"kak Al sudah lama masuk kamarnya kakak ipar? " tanya Azzam
"em, sepertinya setelah aku mulai make up, kakak mu masuk ke kamar mungkin satu jam yang lalu, memangnya kenapa? " tanya Dinar yang belum mengetahui jika sang suami tengah tidur.
"astaga, kakak ipar tahu nggak, kalau kak Al sedang molor di kamar, dia tidur pules banget tau nggak" adu Azura
"astaga, masak iya. padahal dia juga nggak begadang loh semalem"
"tau tuh, ya sudah aku bangunin aja lah, kan acaranya juga sebentar lagi akan di mulai, biar nanti nggak kelamaan nunggu kak Al nya"
Dinar mengedipkan matanya tanda setuju, ia juga tak ingin nanti acara menjadi mundur karena sang suami masih tidur, ia yakin jika tak di bangunkan mulai sekarang, suaminya akan melanjutkan tidurnya sebab jika sudah tidur, suaminya itu sangat sulit untuk di bangunkan.