
Abian membawa tu buh Luna yang tak sadarkan diri menuju ke sebuah hotel yang memang sudah ia pesan terlebih dahulu.
setelah sampai di hotel dengan segera Abian membawa Luna menuju kamar yang telah ia pesan. ia merebahkan tu buh Luna ke atas kasur dengan sangat hati hati, di perhatikannya wajah ayu seorang gadis yang telah menutup matanya itu, ia begitu mengagumi kecantikan mantan kekasihnya sampai sampai ia berbuat senekat ini.
tak menuju waktu lama, Abian segera melu cuti pakai annya juga pakai an yang di kenakan oleh Luna.
setengah jam kemudian, Abian hampir mencapai puncaknya, begitu juga dengan Luna yang tiba tiba terbangun dari pingsannya setelah beberapa saat merasakan tu buhnya terasa tergoncang.
Luna perlahan membuka matanya, ia terkejut dan langsung berteriak histeris ketika mendapati Abian tengah berada di atasnya dan yang lebih menyakitkan ialah ketika dirinya mendapati tu buhnya yang sudah tak tertutup sehelai benang pun dan ia masih menyatu dengan Abian.
sementara Abian yang mengetahui Luna telah sadar segera menuntaskan has ratnya hingga tanpa sadar ia menyemburkan benihnya tepat ke dalam ra him Luna.
"aaaaaaa..... " teriak Luna histeris.
"Bi-bian... "
"Bian, apa yang kamu lakukan pada ku, kenapa kau begitu kejam hingga berbuat seperti ini pada ku, apa salah ku pada mu, bahkan kita sama sekali tak pernah bertemu, kenapa bisa kamu lakukan hal ini pada ku" Luna tergugu dalam tangisnya, ia beranjak dari tidurnya kemudian duduk dan langsung memundurkan tu buhnya dari hadapan Abian.
Abian hanya terdiam setelah penyatuan itu selesai.
ia juga tanpa sadar telah melecehkan mantan kekasihnya itu, niatnya ingin membuat Aldrich hancur karena mendapati tunangannya yang sudah ia rusak, tapi entah kenapa setelah melihat wajah Luna yang berderai air mata ia menjadi lemah bahkan menyesali semua yang ia lakukan kepada wanita itu.
"maaf Lun. aku khilaf"
"dasar laki - laki brengs*k. kau tahu aku akan segera menikah, dan kau dengan gampanganya meminta maaf setelah apa yang aku jaga selama ini kau renggut hah" teriak Luna bak kesetanan, ia begitu terpukul mendapatkan musibah sebesar ini.
Luna memukul da da Abian, menyalurkan amarah dalam dirinya, karena Abian telah merusak diri dsn hidupnya.
Abian terdiam, ia menerima semua konsekuensi nya bahkan ia tak mencegah wanita itu yang terus memukuli dirinya.
setelah tenang, Luna bergegas memakai kembali pakaiannya, dapat di lihat oleh Abian, jika mantan kekasihnya itu sesekali meringis memegangi area ke wanita annya, namun ketika Abian hendak membantu, dengan cepat Luna menepis tangan Abian.
#flashback off
Abian menyugar rambutnya dengan kasar, mengingat kejadian itu, ia merasa sangat berdosa, karena ia bukan hanya merenggut kehormatan wanita itu, tetapi ia juga menebar benih pada rahim wanita itu hingga ia melahirkan sesosok anak laki laki yang ia yakini adalah darah dagingnya sendiri.
'maafkan aku Lun, hanya karena ingin membalaskan dendam ku, kau yang harus jadi korbannya. kamu wanita baik, tak seharusnya aku merusakmu dulu' penyesalan yang di rasakan Abian yang seberapa dalam di bandingkan dengan rasa sakit yang sempat di rasakan oleh Luna, meskipun wanita itu telah berdamai dengan masalalunya.
***
setelah dirasa lebih tenang barulah ia membuka pintu rumahnya yang kebetulan belum di kunci.
tujuan pertamanya yaitu kamar sang putra, ia ingin menengok sebentar sang putra yang ia yakini sudah tidur karena memang hari sudah sangat malam.
"maafkan mama yang belum bisa mempertemukan kamu dengan papa kamu nak, mama hanya tak ingin jika papa kamu mengambil kamu dari mama" lirihnya sembari mengusap usap kepala Leo.
"jadi kebanggaan mama ya sayang, mama janji, suatu saat nanti mama pasti akan mempertemukan kamu dengan papa kamu"
setelah beberapa saat ia berada di kamar Leo, ia segera keluar dari sana untuk menuju ke kamarnya yang kebetulan ada di sebelah kamar sang putra.
"kamu baru pulang Lun? " tiba tiba mama Tia datang menghampiri putrinya yang hendak masuk ke dalam kamar.
Luna menghentikan tangannya yang hendak memutar handle pintu, ia kemudian menoleh ke arah sang mama "baru saja sampai ma, ini habis nengok Leo"
mama Tia mengangguk "sebelum tidur tadi, Leo sempat mencari keberadaan kamu. tapi untung saja ia tak sempat rewel karena kebetulan tadi papa juga sudah pulang"
"syukurlah ma, makasih ya ma, meskipun hal buruk terjadi pada ku, mama selalu ada mendukung ku" Luna memeluk sang mama, ia kembali menangis di pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.
"apa terjadi sesuatu ketika kamu bertemu dengan dia? "
Luna melerai pelukannya "dia menanyakan tentang Leo ma"
"lalu kamu memberitahu dia? "
Luna lantas menggeleng "aku masih belum sanggup ma, aku takut Abian akan memisahkan aku dengan Leo kalau dia tahu bahwa Leo adalah anaknya"
"bukankah kamu ingin segera menyelesaikan masalah ini hmm, kenapa sekarang kamu jadi ragu lagi, apa dia berkata sesuatu yang menyinggung perasaan mu? "
"tidak ada ma, sebenarnya dia juga meminta maaf dan ingin bertanggung jawab atas perlakuan nya di masalalu, tapi Luna masih ragu ma"
"ya sudah, kamu mau bertemu dengannya saja sudah lebih dari cukup. nanti jika kamu benar benar sudah siap memberitahu dia, segera beritahu dia tentang Leo. mama juga kasihan dengan Leo yang sepertinya membutuhkan figur ayahnya" ucap mama Tia.
"baiklah ma, akan aku pikirkan lagi nanti, kalau begitu aku ke kamar dulu ma, mama istirahat lah, hari sudah malam"
"baik, mama kembali ke kamar, kamu jangan begadang, setelah ini segeralah tidur"
"baiklah mama ku sayang" ucap Luna kemudian mengecup pipi mama Tia.