
Tak terasa kini sudah satu bulan semenjak keduanya kembali mesra. kini Aldrich dan Dinar telah menempati rumah barunya setelah sebelumnya mrlakukan syukuran disana.
pagi ini setelah menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami, Dinar bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
apakah mereka tak memiliki asisten rumah tangga? jawabannya adalah, punya. akan tetapi Dinar meminta kepada sang suami agar dirinya lah yang menyiapkan makanan untuknya, sedangkan bibi membantu Dinar untuk membersihkan rumah dan lainnya.
"mas... " sapa Dinar ketika melihat sang suami menghampirinya.
"sayang tolong pasangkan dasinya" Aldrich segera menyerahkan dasi berwarna abu kepada sang istri.
Dinar menerimanya dengan senang hati, karena itulah kebiasaan mereka ketika di pagi hari, Aldrich akan merengek untuk di pakaikan dasinya, padahal pria itu bisa memakainya sendiri.
"kamu nanti ke butik lagi? " tanya Aldrich kemudian duduk di kursi makan, ia menunggu dang istri menyiapkan sarapan paginya.
"iya mas, lagipula di butik lagi ramai pelanggan, itung itung bantuin mereka daripada di rumah terus, bosen" Dinar segera duduk setelah ia menghidangkan masakannya.
Setelah memberikan rumah mewah waktu itu, Aldrich kembali memberikan satu kejutan untuk sang istri, yaitu sebuah butik untuk Dinar kelola. hal itu bermula ketika dahulu Aldrich tanpa sengaja melihat story Dinar ketika dirinya mengiklankan jualannya itu membuat Aldrich ingin memberikan hal lebih untuk sang istri.
saat ini butik yang di kelola Dinar sangat ramai sebab memang target pasarnya adalah menengah kebawah. ia bisa memberikan pakaian yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. itulah sebabnya butik yang di kelola Dinar sangatlah ramai.
sebenarnya butik yang di kelola Dinar dulunya adalah butik mewah yang hanya orang orang kelas ataslah yang bisa membeli pakaian disana. akan tetapi Dinar yang dulu sempat mengalami masa sulit pun meminta izin sang suami untuk merombak semuanya agar butik itu dapat di kunjungi oleh semua orang, dengan harga yang terjangkau pastinya.
"kamu suka? " tanya Aldrich. ia memperhatikan sang istri yang tengah menyendokkan nasi goreng ke dalam piringnya
"suka lah mas, dulu jualan kan kerja sampingan aku, dan dari situlah dulu aku bisa makan pecel ayam di kedai mas Dani, kalau nggak gitu kan mana mungkin aku bisa sering kesana. jadi pasti aku suka, bahkan sangat suka karena memang ini adalah salah satu impian ku, bisa memiliki toko atau butik sendiri" jelas Dinar.
Aldrich mengangguk, ia begitu sangat bahagia bisa menyenangkan hati sang istri, terlebih kini semua permasalahan dalam rumah tangganya telah selesai. ia, Luna, daddy dan Abian telah menerima semua takdir mereka dengan ikhlas.
sekarang fokus Aldrich hanya pada kebahagiaan sang istri, ia ingin hubungan rumah tangganya selalu harmonis seperti mommy dan daddy nya.
setelah selesai sarapan Aldrich berpamitan untuk segera ke kantor sebab dirinya ada meeting penting pagi ini dengan klien, sedangkan Dinar, setelah selesai mengantarkan sang suami ke teras untuk berangkat bekerja dirinya bergegas kembali ke kamar untuk membersihkan diri kemudian melanjutkan aktivitas nya di butik.
"mbak Wati" panggil Dinar, ia telah selesai bersiap dan menghampiri art nya di halaman belakang
"iya nyonya" mbak Wati, wanita berusia 40 tahunan itu berjalan sedikit cepat menghampiri majikannya.
Dinar tersenyum "saya mau berangkat ke butik dulu, kalau ada apa apa segera hubungi saya atau bapak ya. Dan itu tadi saya sisihin sepiring nasi goreng buat sarapan mbak Wati nanti di makan ya" ucap Dinar.
"wah terima kasih Nya, saya jadi nggak enak setiap mau makan, tapi makanan sudah di sediain, padahal kan saya disini bekerja" mbak Wati terlihat tak enak, sebab sedari awal dirinya bekerja, majikannya itulah yang selalu menyiapkan makanan untuknya. bahkan Dinar tak membedakan makanan yang ia makan dan untuk mbak Wati makan, semua sama.
"nggak apa apa mbak, cuma masak doang biar sekalian. pasti mbak Wati juga capek kan bersihin rumah ini sendirian, jadi setelah selesai bersih bersih tinggal sarapan aja. lagipula kan saya masaknya banyak mbak, biar sekalian gitu"
mbak Wati merasa terharu, Dinar adalah wanita yang ia jumpai sebulan yang lalu ketika dirinya baru saja terusir dari rumah kontrakannya karena tak sanggup membayar uang kontrakan. dulu ia mengontrak bersama sang suami, namun karena sang suami meninggal dunia karena sakit, hidupnya jadi terlunta lunta, ia mengemis dan memulung sampah di jalanan.
dan saat itu Dinar lah orang yang pertama kali tangannya untuk membantu dirinya. mengubah semua hal buruk yang ia lalui menjadi lebih berwarna. maka dari itu ia sangat berterima kasih dengan Dinar dan akan selalu. menjaga Dinar semampu dirinya.
"terima kasih Nya. dan hati hati di jalan" ucapnya tulus