
Siang ini mas Al tiba tiba menjagak ku untuk. kembali. ke kota, padahal rencana awal kami berdua akan kembali ke kota esok hari sebab aku telah mengajukan cuti di hari seninnya. tetapi mas Al memberikan kabar pada ku jika opa nya sedang sakit dan saat ini di rawat di rumah sakit. dapat ku lihat raut kecemasan dari wajah tampannya. tanpa menunggu di ajak dua kali aku bergegas merapikan barang barang ku ke dalam ransel sementara mas Al meminta izin kepada bapak dan ibu.
singkat cerita kami tiba di Jakarta pukul empat sore. aku bergegas turun dari taksi karena memang sudah sampai di depan kosan ku. ku kira setelah aku turun, mas Al akan langsung pergi menuju rumah sakit, sebab sedari tadi ia begitu nampak sangat kawatir. tapi ternyata mas Al meminta supir taksi untuk menunggu dirinya sebab ia ikut turun bersama ku.
ia mengeluarkan dompetnya kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kertas seratus ribuan, mungkin ada sekitar dua jutaan kemudian di berikan kepada ku. tentu aku menolak sebab merasa tak enak karena kemarin ia juga sudah memberikan aku mahar dua juta.
yang aku tahu mas Al bekerja di warung tenda karena ia sedang mempertanggung jawabkan perbuatannya yang kala itu tidak sengaja menabrak warung serta pemiliknya hingga mengalami cidera. selain itu kata mas Dani, anak dari pemilik warung, ia berkata jika mungkin mas Al seorang supir keluarga kaya. sebab mobil yang di kemudian oleh mas Al adalah mobil yang sangat mewah.
aku yang tak enak pun menolak karena takut jika uang mas Al tak akan cukup untuk menghidupi dirinya, lagipula aku juga bekerja sehingga masih mampu jika hanya mencukupi kebutuhan ku saja.
namun ia memaksa ku untuk menerimanya, ia meraih tangan ku kemudian di letakkan uang itu di telapak tangan ku, akhirnya mau tak mau aku pun menerima uang pemberiannya, ia bilang jika ini adalah bentuk tanggung jawabnya, memberikan nafkah untuk pertama kalinya untukku. tentu aku sebagai seorang wanita sangat terharu mendapat perlakuan manis dari nya. tetapi aku juga sadar jika aku tak boleh terlalu berharap sebab di antara kami berdua memang tidak ada hubungan apa apa selain pernikahan paksa ini.
setelah memberikan ku uang, ia pamit untuk pergi ke rumah sakit terlebih hari sudah semakin sore. aku mengiyakan kemudian melepas kepergiannya dengan hati yang tak menentu.
aku berjalan ke arah kamar kos ku, ternyata disana ada Mia yang sedang duduk di kursi depan kamar kosnya sembari memainkan ponselnya.
"serius amat Mi" sapa ku kepada Mia yang tengah fokus ke ponselnya.
"loh, eh.. kok udah balik, katanya hari senin cuti, kenapa udah balik aja hari ini? " tanya Mia
"iya, ada sedikit perlu makanya balik cepat" jawab ku tanpa memberi tahu masalahnya. Aku yakin jika Mia tak melihat kedatanganku di antar oleh Al sebab pertanyaan pertama yang di lontarkan oleh Mia hanya rasa keterkejutannya karena aku kembali lebih awal.
"oh begitu, ya sudah kamu masuk kamar gih, pasti capek"
"oke, aku masuk kamar dulu ya " aku segera masuk ke kamar kemudian merebahkan tu buh ku di kasur. nyaman sekali rasanya setelah beberapa jam duduk di dalam bis kemudian bisa mere bahkan diri di kasur.
setelah setengah jam aku berbaring, kemudian ku ambil ponsel ku yang tadi ku letakkan di samping ku, kemudian mencoba mengirim pesan kepada mas Al.
[bagaimana sekarang keadaaan opa mu mas? ] ku kirim satu pesan kepada mas Al untuk menanyakan keadaan opa nya.
semenit dua menit aku menunggu balasan darinya, namun tak kunjung di balas. mungkin ia masih berbincang bincang dengan keluarganya. ku putuskan untuk mandi kemudian mencari makan sebab hari sudah sangat sore dan perut ku terasa lapar.
setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku bergegas keluar untuk mancari makan malam. tujuan utama ku yaitu warung tenda mas Dani, ku langkah kan kaki ku keluar dari area kosan menuju warung tenda.
tring
[maaf baru membalas. alhamdulillah keadaan opa sudah membaik, ternyata beliau hanya kelelahan dan sekarang opa sedang istirahat]
[syukurlah kalau sudah membaik, semoga opa mas Al segera sembuh dan di perbolehkan untuk pulang, aamiin]
[aamiin, makasih Din]
setelah itu aku tak membalas lagi pesan mas Al sebab aku bingung hendak mengirim pesan apalagi karena aku merasa aneh jika harus mengirim pesan basa basi kepada Al.
"huufftt... "
"baru sehari tapi hati dan pikiran sudah tak menentu seperti ini, apa bisa aku bertahan dalam hubungan yang membingungkan ini? "
mas Dani kembali menghampiri ku, ternyata pesanan ku telah siap. "ini sudah jadi, seperti biasa dua puluh ribu saja" ucap mas Dani kala menyerahkan pesanan ku
"ini, terima kasih ya mas Dan" kemudian aku segera membayar pesanan ku.
"kok udah balik Din, katanya sampai senin di rumah, ini hari minggu sudah balik aja. atau nggak jadi pulang kampungnya? "
"iya mas, tadi ada suatu hal yang mendesak jadi buru buru balik kesini"
"lah mas Al mana kok nggak ikut kesini? "
"mas Al langsung pulang lah mas, kan udah dari jam empat tadi kami sampai di Jakarta nya. ya sudah aku balik dulu mas, udah laper banget ini" aku segera pamit pada mas Dani sebelum ia kembali bertanya.
Aku bergegas pulang ke kosan sebab hari juga mulai gelap, sepertinya nanti malam akan turun hujan. melihat langit yang nampak mendung, aku jadi teringat kembali tragedi kemarin hingga rasanya aku sangat membenci hujan.
sesampainya di kosan aku segera mencuci tangan kemudian menyantap makanan yang tadi ku beli. setelah selesai makan aku segera menunaikan ibadah sholat maghrib.
aku menengadahkan tangan ku meminta kepada Allah agar dapat membantu ku menyelesaikan masalah rumit yang menimpaku.
'Ya Allah, jika memang engkau mengirim kan mas Al untuk ku, untuk menjadi imam serta pelengkap hidup ku, maka permudahkanlah jalan kami untuk bersatu dalam menyempurnakan pernikahan kami ini. Namun jika kami tak bisa bersama, maka hamba mohon untuk tidak membukakan pintu hati untuknya, hamba tak ingin kecewa Ya Allah"
aku menumpahkan segalanya di atas sajadah ku. aku bersimpuh dan memohon atas pernikahan ku ini kepada Rabb ku agar di berikan kemudahan dan jalan untuk menjalaninya.