OH MY WIFE

OH MY WIFE
67



Malam semakin larut, namun Dinar tak kunjung memejamkan matanya setelah tak sengaja memergoki sang suami yang terbangun dari tidurnya kemudian turun dari ranjang dengan cara mengendap endap layaknya seorang maling, ia ingin memanggil namun urung karena ia pikir mungkin sang suami ingin ke kamar mandi, namun ternyata dugaannya salah, sang suami tak membelokkan dirinya ke kamar mandi melainkan menuju pintu keluar, ia bahkan menutup kembali pintu kamar dengan sangat hati hati.


Dinar terduduk, menatap aneh kepergian sang suami beberapa kenit yang lalu, karena di tunggu tak kunjung kembali, akhirnya Dinar memberanikan diri menyusul sang suami yang entah pergi kemana.


Dinar perlahan turun dari kasur kemudian berjalan ke arah pintu, ia segera keluar. keadaan di luar kamarnya sudah sangat sepi karena memang semua orang sudah berada di dalam kamarnya masing masing.


Dinar berjalan pelan menuju ke arah tangga sembari sesekali ia celingukan ke beberapa tempat yang biasa di gunakan sang suami untuk istirahat.


Di lantai 2 kosong, ia tak menemukan keberadaan sang suami disana, kemudian Dinar memilih untuk turun ke bawah mencari sang suami yang barangkali berada di dapur atau ruang keluarga.


"atau jangan jangan mas Al laper terus ke dapur ambil makanan ya? " Dinar menerka nerka akan keberadaan sang suami sembari kakinya terus menuruni anak tangga.


sesampainya di lantai 1 ia segera menuju dapur, namun lagi lagi kosong, disana sangat sepi bahkan lampu dapur pun tak menyala.


"sepi banget, kemana perginya mas Al, nggak mungkin aku salah lihat pas dia keluar, wong tadi di sebelah ku beneran kosong kok" Dinar sedikit begidik ngeri takut takut jika ia salah melihat tadinya.


"apa jangan jangan mas Al ada di ruang kerjanya ya, kan tadi siang dia pulang cepat, mungkin saja pekerjaannya belum selesai terus mau di lanjutin lagi. hah, kenapa nggak kepikiran dari tadi sih" gerutu Dinar kemudian beralih menuju ruang kerja Al yang ada di sebelah ruang keluarga.


memang tadi setelah sampai di lantai satu, Dinar langsung menuju ke dapur tanpa menoleh ke arah manapun karena yakin sang suami ada disana.


akhirnya Dinar tersenyum cerah setelah melihat ke arah ruang kerja suaminya dalam keadaan terang, ia yakin jika sang suami berada disana karena kebetulan pintu ruangan itu tidak tertutup secara sempurna.


Dinar mendekat ke arah pintu, ia sudah memegang handle pintu dan hanya tinggal mendorong pintu saja, namun kembali ia urungkan setelah mendengar ucapan sang suami.


sementara di dalam ruangan itu, Al tampak memegang sebuah figura dengan satu foto gadis masalalunya disana


"oh iya sayang, tadi siang aku sempat berpapasan dengan wanita yang sangat mirip sekali dengan mu, bahkan aroma parfum nya pun sama seperti dirimu. andai itu kamu, pasti aku akan sangat senang sayang. Tapi, itu pasti tidak mungkin karena kamu sudah bahagia di surga sana. baik baik disana ya sayang" sepertinya kejadian tadi siang membuat Al kembali teringat dengan masalalunya.


tanpa Al sadari jika di balik pintu ruangannya ada sang istri yang begitu sangat syok dan terpukul mendengar ucapannya.


Dinar memegangi dadanya yang terasa sesak, ia tak percaya jika sang suami yang katanya begitu mencintai dirinya, belum sepenuhnya move on dari sang kekasih, bahkan masih memanggil kekasihnya dengan sebutan sayang.


tak terasa air mata Dinar luruh begitu saja, terlihat jika dirinya teramat sangat kecewa kepada sang suami.


Dinar menyeka air matanya kemudian berbalik, ia kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa, ternyata keraguannya selama ini ada alasannya hingga ia belum bisa menyerahkan mahkotanya kepada Al meskipun ia telah menyerahkan hatinya sepenuhnya untuk sang suami.


"siapa di luar? " teriak Al dari dalam ruangan ketika melihat bayangan melewati depan ruangannya.


sementara Dinar yang mendengar suara sang suami yang sepertinya mengetahui ada yang menguping segera mempercepat langkah kakinya menuju lantai dua.


sesampainya di dalam kamar, Dinar segera menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. setelah itu Dinar segera berba ring dan menutupi seluruh tu buhnya dari atas kepala hingga ke ujung kaki, tak lupa ia menyalakan AC agar terlihat jika ia sedang kedinginan agar tak ketahuan sang suami jika dirinya baru saja menangis.


sementara Al langsung keluar dari ruang kerjanya dan menoleh kenanan ke kiri melihat sekeliling, namun nihil, tidak ada siapa siapa disana.


"perasaan tadi ada yang lewat deh, atau jangan jangan... " ucapnya menggantung kemudian ia memutuskan kembali ke kamarnya.


"lebih baik aku ke kamar saja lah, pasti aku sudah lelah jadi berhalusinasi"


Sesampainya di dalam kamar Al bernafas lega setelah melihat sang istri masih tertidur pulas, ia mendekat ke arah sang istri kemudian duduk di sebelahnya, ia mengelus puncak kepala Dinar sembari berbisik "maaf sayang... "


tak ingin membangunkan sang istri, Al segera membaringkan tu buhnya dan menyusul sang istri yang sudah tidur.


Dinar di dalam selimut kembali meneteskan air matanya, sejak kembali ke kamar ia belum bisa memejamkan matanya kembali. Terlebih setelah sang suami kembali ke kamar dan membisikan kata maaf di telinganya, ia merasa kan hatinya kembali hancur setelah mendengar kata maaf dari sang suami.


'aku harus apa ya Allah, apakah suami hamba masih mencintai kekasihnya yang dulu sudah tiada, bagaimana aku harus bersikap setelah mengetahui faktanya ya Allah'


tak ingin berlarut larut menangisi perasaannya, Dinar memutuskan untuk tidur, ia tak ingin jika esok pagi semua orang tahu ia menangis karena meninggalkan jejak bengkak di kedua matanya.


'bissmillah'