
Malam semakin larut, namun baik Dinar maupun Al masih enggan untuk memejamkan matanya.
malam ini Al memilih untuk tidur di depan tv sembari menggelar kasur lantai sedangkan Dinar menempati kamarnya sendiri. sebenarnya pak Beni sudah mengizinkan keduanya untuk menempati kamar yang sama sebab keduanya kini telah menikah, namun baik Al maupun Dinar menolak hal tersebut dan pada akhirnya Al memilih untuk tidur di depan tv.
Al melirik jam yang tergantung di dinding, saat ini jam menunjukkan pukul 01.00 wib namun dirinya masih tetap belum bisa untuk memejamkan matanya. tak berselang lama kemudian per utnya pun terasa keroncongan sebab tadi sewaktu makan malam dirinya hanya makan sedikit sebab tak naf su.
Al segera bangun kemudian berjalan ke arah dapur untuk melihat sesuatu yang dapat di makan. ia membuka lemari dapur, disana ia mendapati mie instan yang berjejer rapi, dengan segera ia mulai mengambil panci dan air kemudian merebusnya.
sebenarnya ia merasa sungkan sebab ini bukan rumahnya dan dia dengan lancang mengambil makanan disana, namun karena per ut nya yang terasa sangat lapar, mau tak mau ia segera memasaknya.
sembari menunggu air nya mendidih, Al mmemilih untuk menum air terlebih dahulu untuk mengganjal perutnya.
"belum tidur mas? " tanya Dinar yang tiba tiba sudsh berdiri di pintu dapur.
byyuurr
*uhhuukk
uhhuukk*
karena terkejut Al menyemburkan air yang berada dalam mu lutnya kemudian menoleh ke arah Dinar.
"eh Din, ada apa? " tanya Al
"nggak ada apa apa, ini udah larut malam, tapi mas Al belum tidur malah main di dapur, ada apa mas? " tanya Dinar sembari mendekat
"iya tadi nggak bisa tidur, trus lama kelamaan jadi laper. ya udah akhirnya aku cari makanan di dapur dan ketemulah sama ini" jawab Al memperlihatkan sebungkus mie instan.
"ya ampun, kenapa nggak bangunin Dinar, ya sudah sini biar aku saja yang masak" ucap Dinar kemudian mengambil alih pekerjaan Al.
sebenarnya tadi Dinar pergi ke dapur hendak mengambil minum, namun begitu ia keluar kamar, ia tak mendapati Al di tempatnya, kemudian Dinar bergegas ke dapur dan ternyata disana ia melihat Al tengah merebus sesuatu sebab kompor dslam keadaan menyala.
"kamu sendiri kenapa belum tidur? " tanya Al kepada Dinar yang tengah sibuk memasak mie
"nggak bisa tidur aku mas, masih nggak nyangka aja sama kejadian tadi sore" jawab Dinar jujur
"ya mau gimana lagi, kan semua sudah terjadi Din. jika boleh jujur, aku pun sebenarnya juga tak mau berada di situasi sulit seperti ini, terlebih menikah dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali, itu sangatlah berat, namun karena di tuntut untuk bertanggung jawab mau tak mau aku harus melakukan hal itu. tapi kamu tenang saja, meski begitu aku tetap ikhlas menikahi kamu."
"lalu bagaimana nanti jika pacar mas Al tahu tentang hubungan kita? " tanya Dinar yang duduk di hadapan Al
Al terkekeh mendengar pertanyaan dari mu lut istrinya itu "kekasih ku meninggal tiga tahun yang lalu, jika dia tahu, mungkin dia akan bergentayangan di sekitar mu" kelakar Al
Dinar melotot sambil menutup mu lutnya terkejut "serius mas? , eh jangan bercanda begitu ah, nggak lucu tau" tanya Dinar tak percaya sebab Al menjawabnya dengan gurauan
"ya, aku serius. namanya Luna, ia meninggal karena kecelakaan" jawab Al serius
"ya Allah, aku turut berduka cita ya mas.. " ucap Dinar iba. jujur ini adalah kali pertama dirinya mendengar cerita masalalu Al, sebab pertemuan yang sebelumnya, jika dirinya bertemu dengan Al, keduanya hanya saling sapa atau sekedar basa basi membicarakan tentang warung tenda saja.
"hm.. lagipula itu sudah lama, aku sudah mencoba untuk mengikhlaskan dirinya. kamu sendiri bagaimana dengan pacar kamu? " tanya Al
"pacar ku di gondol pelakor mas" jawabnya
"loh kok bisa, kenapa? " tanya Al kini mulai penasaran dengan masalalu Dinar
"iya bisa lah mas, katanya aku terlalu baik untuk dia. eehh, nggak tahunya malah aku lihat dia nikah sama cewek lain tepat satu minggu setelah kami putus. eem, tapi ada benernya juga sih, aku terlalu baik buat dia yang tukang selingkuh, baru pacaran aja udah berani mendua, apalagi nanti kalau udah nikah. iya kan, untung nggak jadi aku kenalin ke bapak ibu, kalau udah, kan maluu...
itulah kenapa waktu di warung tenda aku ngenalin mas Al sama ibu sebagai pacar aku, karena pas itu ibu belum tahu kalau aku udah putus sama mantan aku itu" jawab Dinar menggebu gebu, sedangkan Al hanya mengangguk saja sembari memakan mie nya. setelah beberapa saat, mie di dalam mangkuk telah habis tak tersisa. Al sedikit menggeser mangkuknya kemudian menatap Dinar yang tengah memainkan kuku kuku nya.
"Dinar... " panggil Al
"ya mas, kenapa? " tanya Dinar sembari mendongakkan kepalanya
"kamu percaya nggak jika Cinta akan datang karena terbiasa? " tanya Al menatap lekat mata bening Dinar
"percaya sih mas, karena aku dulu sudah pernah merasakannya, kenapa? "
"bisakah kita memulai semuanya dari awal?"
"maksud mas? " tanya Dinar mengernyitkan dahinya bingung
"pernikahan kita. terima pernikahan ini dengan ikhlas. kita berjuang bersama sama untuk menggapai cinta itu. walaupun terdengar aneh tetapi tidak ada salahnya kita mencoba untuk saling mengenal satu sama lain" ucap Al
"tapi mas, ..."