OH MY WIFE

OH MY WIFE
95



Kini Aldrich pulang ke rumah dalam penyesalan terdalam, ia gagal meminta maaf dan membawa sang istri untuk pulang ke rumah mereka. ya, rumah yang secara pribadi di beli oleh Aldrich untuk sang istri satu bulan setelah mereka menikah. rumah yang akan ia jadikan sebagai tempat berteduh untuk keluarga kecilnya.


baik Dinar maupun keluarga besarnya tidak ada yang mengetahui jika Aldrich telah membeli rumah mewah yang letaknya tak jauh dari kediaman utama. yang mereka tahu hanyalah Aldrich akan menyiapkan rumah untuk keluarga kecilnya, jadi mereka pikir Aldrich akan tinggal lagi di kediaman utama setelah acara resepsi.


Dan hari ini rencananya, setelah menjemput sang istri ia akan langsung mengajak sang istri untuk pindah ke rumah barunya, bukan ke apartemen yang pernah mereka tinggali, namun harapan hanya tinggal kenangan, dirinya bahkan harus hidup terpisah sementara dengan sang istri karena kesalahannya.


Aldrich kembali mengendarai mobilnya menuju ke kota, kali ini ia tak sendiri sebab Azzam memilih untuk menemani sang kakak sedangkan Edo bersama dengan mommy dan daddy


meskipun Azzam juga kecewa dengan sang kakak, tapi melihat sang kakak tampak banyak pikiran, ia jadi khawatir. ia juga teringat jika sang kakak semalam tengah mabuk berat, ia tak ingin terjadi sesuatu hal dengan kakaknya itu.


"bagaimana rasanya kak? " tanya Azzam, namun pertanyaannya terdengar seperti sebuah ejekan


"bagaimana apanya, sulit untuk di jelaskan, kamu tak akan paham sebelum kamu mengalaminya sendiri"


"ck, buat apa aku mengalaminya, aku bahkan tak memiliki kisah rumit seperti dirimu kak"


"kau bilang kau mencintai kakak ipar, tapi di lihat dari kelakuan kakak kemarin, tak memperlihatkan jika kakak mencintai kakak ipar, atau jangan jangan kakak hanya menjadikan kakak ipar sebagai pelampiasan saja agar bisa melupakan kak Luna? " tuduh Azzam


"kamu tahu Luna masih hidup? " tanya Aldrich penuh selidik


Azzam mengangguk "apa yang tidak aku ketahui, aku tahu dua hari yang lalu karena tak sengaja melihat kak Luna berjalan bersama dengan tante Tia, aku tak ingin gegabah, hanya saja aku membuntuti mereka dan ternyata memang benar itu kak Luna, tapi ada yang aneh... " Azzam menggantungkan ucapannya seolah ragu untuk mengatakan kepada sang kakak


"kenapa? "


"a aah bukan apa apa! " seru Azzam gelagapan.


"katakan saja, jangan ada yang di tutupi" sahut Aldrich


"baiklah, mereka tak hanya berdua, melainkan bertiga, aku melihat anak laki laki berusia sekitar dua tahunan berjalan bersama mereka, dia bahkan memanggil kak Luna dengan sebutan 'mama' "


Aldrich terdiam, ia mencerna kata kata ssng adik, ia sebenarnya tak percaya, namun ia kembali teringat kejadian di supermarket waktu dirinya seperti mengenali sosok wanita yang perawakannya mirip dengan mantan tunangannya itu tengah menggendong balita. ia jadi meragukan keyakinan nya sendiri.


"mungkin keponakannya" sanggah Aldrich, memang ketika pertemuannya dengan Luna, wanita itu tak terlalu menjelaskan banyak hal kepada Aldrich apalagi membahas anak kecil.


"kan kak Luna anak tunggal, mana mungkin punya keponakan"


"ah sudahlah lupakan, lagipula ia hanya masalalu kakak saja"


"masa lalu? kalau masa lalu kenapa kemarin seperti itu? "


"aku khilaf. sudah jangan di bahas lagi, aku mau fokus nyetir dulu" jawab Aldrich menyudahi percakapan nya. ia tak ingin masalah nya di ungkit terus menerus oleh sang adik.


setelah itu keduanya hanyut dengan pikiran masing masing.


***


setelah kepulangan suami dengan keluarga nya, Dinar kembali masuk ke dalam rumah, tujuannya saat ini yaitu ke kamar, sejak semalam ia bahkan belum membongkar isi kopernya yang ia bawa. ia juga penasaran dengan kado dari keponakannya itu setelah sesaat Edo berpamitan untuk pulang


"meskipun gagal tapi tak ada salahnya membuka kado dari ku tan, siapa tahu nanti berguna" pesan Edo sebelum berangkat yang pada akhirnya membuat Dinar semakin penasaran.


"sebenarnya apasih kado dari Edo, kenapa aku jadi takut ya" kini Dinar telah memegang bingkisan yang di berikan oleh Edo, tapi ia agak ragu untuk membukanya. namun, karena ia juga penasaran akhirnya Dinar memutuskan untuk membukanya.


Setelah terbuka, ia mengernyitkan dahinya, menatap aneh kado dari sang ponakan, ia mrngangkat tinggi tinggi kado itu sembari begidik ngeri.


"nggak salah nih Edo, masak beliin baju tantenya kayak gini, ini mah buat saringan tahu, bukan buat di pake badan, mana ngasihnya banyak banget lagi" seru Dinar ngedumel.


ia menatap sepuluh buah lingerie bermacam macam warna dan gaya itu, ia sedikit paham pakaian itu untuk apa, tentu saja untuk tugas Dinar bersama sang suami di atas ranjang.


"nggak bener tuh anak, masak ngasih beginian, bisa malu aku kalau pakai baju kayak begini"


Tapi meski begitu Dinar tetap dengan senang hati menerimanya, ia bahkan mencoba berkaca membayangkan dirinya memakai pakaian itu di hadapan sang suami.


tapi lucu juga sih" gumamnya.


"Dinar... " panggil ibu dengan langsung masuk ke dalam kamar putrinya.


Dinar terlonjak kaget kemudian segera menyembunyikan lingerie itu di belakang punggungnya, sementara ibu menatap penuh selidik kearah putrinya. kemudian pandangannya tertuju pada tumpukan lingerie yang tergeletak di lantai membuat bu Rahayu mengulum senyum.


"eh ibu, ada apa? " tanya Dinar.


"enggak, ibu cuma mau ngasih tahu kalau tadi ibu bikin gorengan dan udah mateng, kalau kamu mau nanti ibu ambilkan"


"oh itu, nggak usah bu, nanti biar Dinar yang keluar, mending ibu keluar dulu habis ini Dinar nyusul"


bu Rahayu mengangguk, ia paham jika sang anak tengah gugup dan malu karena kedapatan mempunyai banyak baju dinas.


"huuhh, syukurlah ibu nggak kepo sama apa yang aku bawa" Dinar lantas menunduk, matanya kembali melotot ketika melihat lingerie nya banyak yang berserakan di lantai


"bo doh, bagaimana aku bisa lupa, pantas saja ibu tadi senyum senyum sendiri, la ini, satu di sembunyikan yang sembilannya nongol dengan bebas" Dinar segera mengamankan baju dinasnya dan menyembunyikan di dalam lemari, setelah itu barulah ia menyusul sang ibu keluar.