
Keesokan harinya
Siang itu keluarga besar Aldrich tengah berkumpul di kediaman utama, beberapa sudut ruangan telah berkumpul sanak saudara dari pihak mommy Citra. sedangkan di ruang keluarga tentu ada Dinar beserta kedua orang tuanya dan juga para iparnya.
hari ini mereka berkumpul untuk mengadakan pengajian menjelang pesta pernikahan Al dan Dinar, mommy Citra mengundang anak anak panti dari panti asuhan milik bu Fatma dan juga beberapa panti lainnya untuk ikut bedoa bersama untuk kedua mempelai dan juga supaya acara esok hari di lancarkan.
Al datang menghampiri Dinar yang tengah duduk bersama para iparnya dengan raut wajah lesunya.
"sayang, kok aku nggak di bangunin sih" gerutu Aldrich kepada sang istri. ia kemudian mendudukan bo kongnya di sebelah Dinar.
"acaranya belum di mulai mas, masih satu jam lagi, makanya aku belum bangunin kamu" jawab Dinar.
alasan Dinar tak ingin membangunkan sang suami karena ia tahu sendiri jika sang suami baru tertidur setelah shubuh tadi karena semalam suaminya itu benar benar menyelesaikan pekerjaannya hingga pukul 4 pagi.
Dinar yang tak tega pun memilih untuk membangunkan sang suami 30 menit sebelum acara di mulai. tapi belum sempat ia membangunkan Al, jutru Al sudah bangun terlebih dahulu.
"gimana badannya, sudah enakan dan nggak ngantuk lagi? " tanyanya.
"ya begitulah, sudah segar sekarang... lain kali bangunkan aku lebih awal, aku nggak mau nanti kamu jadi bahan pembicaraan orang orang kalau kamu nerima tamu sendiri sedangkan aku tak terlihat sama sekali, takut nanti dikiranya kita nggak bahagia sayang" jelas Al.
"hm, baiklah, padahal aku hanya ingin membuat kamu tidur nyenyak supaya besok kamu sudah fit dan tidak sampai drop. ya sudah kalau begitu" sahut Dinar datar
ia gemas sekali dengan sang suami yang masih sempat sempatnya memikirkan pandangan orang lain terhadap hubungannya dengan sang istri. andai bukan di ruang keluarga dan banyak orang, sudah barang tentu Dinar akan mencubitnya dengan keras agar lelaki itu berhenti mengomel.
acara pengajian pun dimulai dengan di pimpin seorang ustadz. mereka mengaji dengan begitu khusyuk bahkan Dinar sempat meneteskan air matanya, dan itu tertangkap oleh pandangan sang suami.
Al pun mendekatkan bibirnya ke arah telinga sang istri kemudian berbisik "sayang, jangan menangis, ini hari bahagia kita" lirih Al
tak menjawab, Dinsr hanya merespon dengan anggukan kepala kemudian menghapus jejak air matanya yang tadi terjatuh kemudian tersenyum ke arah sang suami.
setelah hampir 2 jam, acara pengajian pun selesai, kini hanya terkumpul anggota keluarga besar saja yang masih disana.
mereka semua tampak senang akan kehadiran Dinar yang mampu membuat Al kini kembali tersenyum. meskipun keluarga dari pihak mommy Citra jarang sekali bertemu, akan tetapi mereka selalu tahu akan masalah masalah yang menimpa keluarga lainnya, seperti halnya masalah Al yang dulu pernah kehilangan calon istrinya, mereka juga turut sedih, bahkan ada yang sampai mencarikan seorang gadis untuk di kenalkan kepada Al untuk membantu Al agar segera move on.
"baik baik ya kalian berdua, yang akur, segera berikan kami cucu" ucap salah satu bibi Al.
Dinar yang mendengar hal itupun bersemu merah. Ah cucu, sejak menikah Dinar sama sekali belum tersentuh oleh sang suami.
"hati hati mbak, besok kalian semua harus datang dan tidak boleh absen. terima kasih ya sudah berkenan kesini untuk ikut pengajian" ucap mommy Citra.
Setelah kepulangan keluarga dari pihak mommy Citra, kini kediaman utama kembali lenggang, hanya menyisakan keluarga besar Aldrich saja.
***
Di kampung halaman Dinar, beberapa tetangga sudah berkumpul di depan rumah Dinar, mereka sudah berpakaian rapi dengan menenteng sebuah tas yang berisikan pakaian.
Mila, yang awalnya tak percaya jika suami dari Dinar adalah orang kaya, kini justru menganga tak percaya sebab mereka para tetangga Dinar di undang secara khusus oleh Aldrich untuk turut hadir dalam pesta pernikahan mereka di Jakarta.
tak hanya itu saja, Aldrich juga menyiapkan kendaraan serta tempat tinggal ketika mereka berada di Jakarta.
"ini sudah kumpul semua apa belum ya? " suara bu RT terdengar menginterupsi beberapa warganya.
"sepertinya sudah semua bu RT, lebih baik kita berangkat sekarang saja biar tidak terlalu malam sampai disana" jawab salah satu warga.
Bu RT sebagai penanggung jawab warganya pun mulai menghitung, ia tak ingin ada warganya yang sudah di undang malah tertinggal. setelah dirasa sudah cukup hitungan, bu RT meminta warganya untuk segera memasuki bis masing masing.
"baik, sudah kumpul semua ya, coba di cek dulu barang bawaannya, nanti takutnya ada yang tertinggal, setelah yakin sudah membawa perlengkapan masing masing, segera masuk ke dalam bis nya sesuai nomor yang sudah saya bagikan kemarin ya bu ibu, bapak bapak" ucap bu RT lagi.
semua mengangguk kemudian mengecek barang bawaan mereka, setelah itu satu persatu mulai masuk ke dalam bis, berikut juga dengan Mila. teman sekaligus tetangga Dinar yang sangat julid itupun turut ikut ke Jakarta.
"semoga saja Dinar maafin aku" lirih Mila kemudian masuk ke dalam bis.
setelah dulu ia sempat tak suka kepada Dinar, kini Mila mulai sadar atas kesalahan nya pada temannya itu, apalagi ketika ia melakukan kejahatan kepada Dinar, namun Dinar tak membalasnya.
satu persatu tetangga Dinar masuk ke dalam bis. kebetulan Aldrich menyiapkan 5 buah bis untuk tetangga istrinya itu, jadi mereka tak perlu berdesak desakan ketika berada di dalam bis.
"mujur sekali ya nasib Dinar, dapet suami sultan tapi baik hati dan tidak sombong"
"iya bener banget, bahkan sampai mengajak kita kita yang hanya tetangga untuk turut hadir di acara mereka"
"Dinar gadis baik, makanya jodohnya bagus"
beberapa warga mulai bersahut sahutan membicarakan Dinar yang begitu mulia bisa masuk dalam keluarga kaya.