
Dinar membuka pintu kamarnya setelah merasa hatinya sedikit lebih tenang, ia kemudian masuk ke dalam kamar dan mendapati sang suami tengah berada di dalam kamar mandi, sebab pintu kamar mandi terlihat tertutup. mungkin Al sedang mandi, pikirnya.
Dinar lantas membuka lemari Al kemudian mengambilkan satu setel pakaian santai berupa kaos lengan pendek dan juga celana pendek untuk di kenakan sang suami.
tak berselang lama kemudian Al keluar dari kamar mandi, ia sedikit terkejut melihat ada Dinar di dalam kamar, terlebih saat ini dirinya tengah tak berpa kaian, namun ia mencoba untuk tetap tenang.
"ada apa Din, bukannya tadi katanya mau lanjutin masak masaknya? " tanya Aldrich mendekat ke arah sang istri.
"eemm.. itu, apa itu mas, emm, makan siang sudah siap semua. aku kesini mau panggil mas buat makan siang bersama. ayo mas, kita segera ke bawah, mommy dan kak Bella sudah menunggu di sana" Dinar sampai belepotan berbicara dengan sang suami karena fokusnya terpecah setelah melihat sang suami keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk sebatas ping gang ke bawah.
Al terkekeh melihat sang istri yang nampak gugup dan malu malu, ia lantas mendekat, bermaksud untuk mengambil pakaian yang masih berada di tangah sang istri, namun Dinar yang berpikir negatif segera menghidar dengan cara mundur selangkah demi selangkah.
"m-mas mau ngapain? " tanya Dinar tergagap setelah ia berhenti mundur karena sudah tak ada jalan lagi untuknya mundur.
Al menyeringai menatap Dinar dengan tatapan lapar, ia perlahan mengulurkan tangannya ke arah Dinar yang semakin gemeteran, kemudian
"aku hanya ingin mengambil baju ku yang ada di tangan mu, bukankah kamu memang menyiapkannya untuk ku? " tanya Al menyerobot baju di tangan Dinar
"jangan mikir yang macem macem, satu macem saja sudah akan bikin kepala mu pusing" Al mengelus puncak kepala Dinar dengan lembut.
Aldrich memang sengaja melakukan hal itu, ia ingin melihat tingkah konyol yang di perlihatkan sang istri ketika menghadapi dirinya yang terlihat sangat me sum itu. ah, tak sabar rasanya ingin segera menerkamnya.
sementara Dinar nampak kembali memerah karena sempat salah paham dengan Al yang tiba tiba mendekat ke arahnya, ia mencoba menetralkan rasa gugupnya. ia berdehem sebentar kemudian tersenyum
"siapa juga yang mikir macem macem, aku mundur karena mau duduk di sini" ucap Dinar menepuk kasur yang ada di belakangnya kemudian segera duduk disana.
"ya, baiklah kalau tidak mau mengaku" Al segera berbalik menuju kamar mandi untuk mengenakan pakaian nya.
***
kini semua telah berkumpul di ruang makan, disana hanya ada Aldrich, Dinar, mommy Citra dan juga Bella. sementara Azzam masih berada di kantor sedangkan daddy Marcello tengah bertemu dengan teman lamanya dan memutuskan untuk makan siang di luar bersama sang sahabat.
setelah mommy Citra mengawali makannya, barulah Dinar kembali bergerak menyiapkan makanan di atas piring sang suami setelah itu barulah piringnya sendiri.
"terima kasih" ucap Al tulus setelah Dinar selesai menyiapkan makan untuknya.
"sama sama mas.. " Dinar menjawab dengan senyum yang sangat manis kearah sang suami.
mereka semua telah selesai makan siang, rencananya setelah sholat dhuhur mereka bertiga akan berangkat menuju ke panti asuhan tempat bu Fatma.
"kita sholat dhuhur dulu baru kita berangkat, mommy akan minta pak Agus buat nyiapin mobilnya dulu sekalian masuk masukin kuenya ke dalam mobil" ujar mommy Citra setelah selesai menenggak air putihnya.
"nggak usah di antar pak Agus mom, biar Al saja yang mengantar kalian ke panti, sudah lama juga Al nggak berkunjung ke rumah nenek" ucap Al
"memangnya kamu nggak ke kantor lagi kak? " tanya mommy Citra
"nggak mom, pekerjaan Al semua sudah selesai Al kerjakan" jawab Al lugas.
"baiklah" mommy Citra mengangguk kemudian beranjak untuk segera mengambil wudhu di ikuti yang lainnya.
***
"Al nanti kita mampir sebentar ke supermarket ya, sekalian belajain buat panti" ucap mommy Citra.
"oke mom.. "
singkat cerita mereka telah sampai di supermarket, mommy Citra, Bella dan juga Dinar keluar dari mobil untuk berbelanja, sedangkan Aldrich memilih menunggu ketiga wanita itu berbelanja.
"kamu nggak ikut turun Al? " tanya Bella krpada sang adik
"enggak ah males, aku tunggu disini aja nggak apa apa kan, nanti kalau sudah selesai baru telpon aku, nanti aku bantu bawain belanjaannya" jawab Al.
jika berbelanja dengan sang istri mungkin ia tak akan menolak tetapi jika dengan mommy serta kakaknya, ia merasa sangat malas karena pasti kedua wanita itu akan banyak berdebat sebelum berbelanja dan Al sangat bosan melihatnya.
"ya sudah, kita turun dulu, ayo Din kita belanja dulu baru ke panti" ajak Bella kepada iparnya.
Dinar mengangguk, ia justru senang jika ia di ikut serta kan berbelanja, selain ia bisa berkeliling ia juga bisa melihat aktifitas mertua serta iparnya ketika berbelanja kebutuhan pokok.
"iya kak.. " Dinar segera turun, namun sebelum itu ia berpamitan terlebih dahulu kepada sang suami.
ketiganya kini di sibukkan memilih bahan makanan yang tahan lama, ada beras, gula minyak dan keperluan dapur serta kamar mandi lainnya.
setelah selesai ketiganya langsung menuju kasir, dan Bella langsung menghubungi sang adik untuk menyusul mereka ke dalam.
sementara Al yang masih menunggu hampir 30 menit di dalam mobil merasa jenuh, ia memutuskan untuk keluar dari mobil, namun ketika hendak membuka pintu mobil, ponselnya berdering menampilkan nama sang kakak.
"iya kak, apa sudah selesai? " tanya Al setelah mengangkat sambungan panggilannya
"..... "
"oke baiklah, aku segera kesana" Setelah itu Al langsung mematikan panggilannya kemudian bergegas turun.
Ia berjalan dengan santai menuju pintu masuk supermarket, ketika hendak masuk ia melihat anak kecil yang ia lihat di toko bunga tadi. namun kali ini bukan dengan pengasuhnya, melainkan wanita lain yang Al pikir ia adalah ibunya. karena Al sendiri tak dapat melihat dengan jelas wajahnya sebab wanita itu tangah mengenakan masker dan juga kaca mata lensa.
'parfum ini... ' gumam Al dalam hati ketika wanita dan anak kecil itu melewatinya. ia merasa sangat familiar dengan harum parfum yang ia cium itu, Al hendak berbalik ke arah wanita itu, namun panggilan dari Dinar menghentikan langkah nya untuk berbalik.
"mas Al, sini. ngapain kamu dari tadi bengong disitu" Dinar berjalan mendekat dan melambaikan tangan ke arahnya membuat Al mengurungkan niatnya untuk berbalik, mungkin hanya praduga ku saja, banyak yang memakai parfum itu. pikirnya.
Al tersenyum ia segera menghampiri sang istri yang tengah mengantre dengan mommy dan kakaknya di kasir.
"sudah selesai belanjanya? " tanya Al kepada sang istri.
"sudah, tinggal bayarnya aja" jawab Dinar menunjuk beberapa keresek belanjaan yang sudah tertata di atas troli yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"ya sudah tunggu mommy disini aja, nanti mereka pasti nyamperin kita"
"iya... " Dinar mengangguk, ia sebenarnya ingin menanyakan perihal suaminya yang terlihat aneh ketika hendak masuk, namun ia urungkan ketika melihat mommy Citra dan kakak iparnya, Bella, tengah berjalan ke arah mereka sembari mendorong 2 buah troli yang penuh dengan belanjaan mereka.
Dinar lantas mendekati mertuanya kemudian mengambil alih trolinya, ia merasa sangat sungkan ketika melihat sang mertua kerepotan mengantre di kasir sedangkan dirinya hanya menonton saja tanpa membantu apapun.
tak ingin berlama lama di supermarket, keempat orang itu kembali melanjutkan perjalanan nya menuju panti asuhan setelah selesai memasukkan barang belanjaan mereka ke dalam mobil.