
Kini Al dan juga Dinar sudah berada di samping sepeda motor yang baru saja di turunkan dari mobil pick up milik dealer. Dinar sedikit paham apa yang di lakukan Al pagi ini namun meski begitu ia tak ingin besar kepala karena takut nanti menjadi malu jika tak sesuai dengan perkiraannya.
setelah mobil pick up pergi meninggalkan pelataran care, barulah Al menyerahkan kunci motornya pada Dinar.
"ini pakailah, jika menurutmu naik angkutan umum akan memakan banyak waktu, tentu berbeda dengan menggunakan sepeda motorkan" seru Al menyerahkan kunci motor barunya.
"tapi ini sangat berlebihan mas"
"tidak berlebihan sama sekali, ya sudah kamu berangkat sana, sudah hampir jam tujuh, nanti terlambat"
"emm.. baiklah terima kasih mas" ujar Dinar seraya menerima kunci motor barunya.
setelah berpamitan dengan Al, Dinar langsung menyalakan mesin motornya kemudian melajukan dengan kecepatan sedang menuju pabrik tempat ia bekerja.
sementara Al langsung menuju basement untuk mengambil. mobilnya kemudian berangkat menuju kantor.
***
Dinar memarkirkan motornya di parkiran paling ujung, bukan karena parkiran di depan sudah penuh, melainkan ia menyayangkan jika motor barunya harus tergores oleh orang lain. setelah memarkirkan motornya gegas ia masuk mengisi absen kemudian menemui sahabatnya, Mia.
"hei Mia... " seru Dinar langsung duduk di sebelah Mia.
"eh, dari mana aja kamu Din, kata ibu kos kamu pindah ya, dan lagi, katanya juga kamu pindahnya sama suami kamu, emang kamu kapan nikahnya Din, kenapa nggak bilang bilang sih" cerocos Mia panjang lebar.
ia teramat kesal dengan sahabatnya itu, bagaimana bisa ia di lupakan begitu saja hingga berpamitan pun tidak. apalagi ia juga mendengar jika ternyata Dinar sudah menikah, dan semalam ia langsung di boyong sang suami untuk pindah.
Dinar menggaruk pelipisnya sembari nyengir kuda "aku juga kaget tiba tiba di jemput mendadak Mi, pasalnya sebelumnya nggak ada pembahasan mengenai kepindahan ku"
"trus kenapa nggak pernah cerita kalau kamu ternyata udah nikah? "
"emm... akuuu.. sebenarnya.. " Dinar merasa ragu ketika hendak menceritakan kisah pernikahan dadakan yang ia lakukan beberapa hari yang lalu tapi karena sang sshabat terus menerus mendesak, mau tak mau akhirnya Dinar pun mau menceritakan semuanya
"apa Din.. ayolah, masak sama sahabat sendiri main rahasia rahasiaan gitu sih"
"jangan ngambek gitu lah Mi, baiklah aku akan ceritakan semuanya sama kamu, tapi janji ya, jangan teriak kalau terkejut"
"hm, baiklah. daripada aku harus memendam rasa penasaran, ayo cepat ceritakan" seru Mia antusias.
Akhirnya pagi itu Dinar menceritakan kejadian salah paham berujung pernikahan dadakan yang di laksanakan di kediamannya beberapa hari lalu, bahkan secara gamblang ia mengatakan akan serius menjalani pernikahan dadakan ini sesuai kesepakatan yang ia lakukan bersama Al, ia juga menceritakan perihal kepindahannya yang mendadak sehingga tidak bisa berpamitan secara langsung dengan sang sahabat. ia bahkan memberitahukan tempat ia sekarang tinggal yang sontak membuat mata Mia melotot dengan mu lut menganga.
"what..... " pekik Mia terkejut, namun sedetik kemudian mu lutnya langsung di bungkam oleh Dinar.
"katanya tadi janji nggak teriak, kenapa sekarang malah teriak sih" ucap Dinar dengan tangan yang masih menutup mu lut Mia.
"eemm.. eeemm..." Mia menunjuk tangan Dinar yang masih menutup mu lutnya. Dinar yang sadar langsung melepas bekapannya.
"huuuhhh.... " kini Mia dapat bernafas lega.
"lagian cerita kamu terlalu epik Din, bagaimana bisa semua itu terjadi dalam sekejap mata, akupun nggak bisa bayangin waktu jadi kamu saat itu"
"yah begitulah Mi, mungkin kalau di jadikan novel judulnya 'gerebek maut ala tetangga'. tapi ya sudahlah sudah terjadi juga" seru Dinar.
"hahahaa... seharusnya kamu berterima kasih sama tetangga mu itu, karena berkat dia, kamu bisa langsung menikah" masih dengan gelak tawanya Mia memberikan usulan
"males banget, orangnya julid banget kok. gara gara dia aku jadi nikah muda kayak gini" gerutu Dinar.
"usia kamu udah pantes buat nikah kali Din, jadi nggak apa apa lah.. eh tapi ngomong ngomong siapa sih suami mu, kok bisa bisanya tinggal di apartemen mewah itu? pasti orangnya tajir banget ya" tanya Mia dengan segala kekepoannya.
"banget Mi, aku aja baru tahu tadi malam kalau dia tajir melintir" seru Dinar
"wahh.. mimpi apa kamu Din, sampai ketiban durian runtuh gitu, emangnya siapa sih orangnya, apa aku pernah ketemu sama dia? " tanya Mia
"ah udah udah, jangan kepo kepo, nanti kamu bakalan tahu sendiri kok. itu alarm masuk sudah bunyi. yok kita kerja lagi cari cuan" ajak Dinar sembari berdiri.
sedangkan Mia nampak mencebikkan bi birnya " alah Din, masak istrinya orang tajir melintir masih kerja di pabrik sih" Seloroh Mia
"biarin, kan aku yang mau. udah ayok kita masuk" seru Dinar kemudian menarik tangan Mia untuk di ajak masuk ke ruang produksi.
***
sore hari di kediaman opa Bagas terlihat sangat ramai, banyak anak anak berlalu lalang berlarian di rumah mewah itu. sesuai rencana mommy Citra, hari ini di kediaman opa Bagas tengah diadakan jamuan serta syukuran untuk opa Bagas yang telah pulih dan kembali ke rumah.
Al yang baru saja sampai pun langsung masuk untuk mencari opa Bagas yang katanya tadi siang sudah pulang.
"opa, gimana kabar opa? " tanya Al. kini ia duduk bersama opa Bagas dari para lelaki lainnya di ruang tengah sementara para wanita tengah berada di dapur untuk menyiapkan jamuan.
"seperti yang kamu lihat saja ini, opa sudah kembali pulih. sepertinya besok opa sudah bisa mulai jogging lagi" jawabnya terkekeh
"syukurlah, oh ya, kapan acaranya di mulai, sepertinya para wanita masih sangat sibuk di dapur? " tanya Al
"kata mommy nanti sehabis maghrib sekalian kak. jadi setelah sholat maghrib baru acara di mulai sekalian makan malam katanya" jawab Azzam.
"oohh..." seloroh Al ber oh ria. ia kemudian pamit pergi ke kamar pribadinya di lantai dua untuk segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
setelah sholat maghrib berjamaah kini semuanya telah duduk berkumpul di ruang tengah untuk memulai acara syukuran.
acara pembuka, sambutan, ceramah serta doa bersama di lakukan dengan khidmat hingga tak terasa jika acara akan segera selesai. setelah berdoa bersama kini semua tamu di persilahkan untuk mencicipi hidangan prasmanan yang telah di sediakan.
para wanita tengah sibuk membantu melayani anak anak panti yang tengah mengambil makanan, sementara para pria kini tengah berbincang bincang ringan dengan para tetangga yang kebetulan juga turut di undang oleh daddy Marcello.