
Ponsel Aldrich berdering, ia yang tengah memeluk sang istri pun akhirnya mulai melepas pelukannya kemudian meraih ponselnya yang ada di meja.
"sebentar sayang, mommy telpon! " ucap Aldrich memberitahu sang istri.
Dinar hanya mengangguk, ia menunggu sang suami selesai berbicara dengan mertuanya setelah itu barulah ia akan bertanya
hanya sebentar saja, Aldrich sudah selesai berbicara dengan mommy nya.
"mommy minta kita ke rumah nanti malam"
"tumben mas, jarang banget loh mommy minta kita kesananya dadakan begini, biasanya kan satu hari sebelumnya, ada apa ya? "
"aku juga kurang tahu sayang, mommy nggak ada bilang apa apa, ya sudah biarkan saja, nanti sekalian kita kasih kejutan juga buat orang rumah, pasti mereka akan seneng banget denger berita bahagia dari kita"
"ide bagus... "
siang ini Aldrich bekerja dengan di temani sang istri, rasa mual dan pusingnya pun sudah sembuh, mungkin benar adanya jika ia tengah mengalami morning sickness layaknya ibu hamil.
Dinar juga dengan senang hati menemani sang suami sebab disana ia di suguhi banyak sekali camilan sehingga ia tak akan mungkin merasa bosan.
tak terasa waktu sudah sore, Aldrich membereskan pekerjaannya sebelum pulang, ia menoleh ke arah sang istri, rupanya Dinar tengah tidur disofa dengan bungkus camilan yang masih ada di tangannya.
Aldrich tersenyum melihat hal itu, ia yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya sampai sampai tak menyadari jika istrinya belum tidur siang.
pria itu mendekati sang istri kemudian mengambil bungkus camilan yang ada di tangan Dinar dengan snsgat hati hati hingga bungkusan itu beralih ke tangannya.
namun, Dinar yang merasakan ada pergerakan dari tangannya pun terkejut, ia langsung membuka matanya.
"maaf sayang, aku mengagetkan kamu" Aldrich merasa bersalah telah mengganggu tidur sang istri
"enggak kok mas. maaf ya aku sampai ketiduran disini, udah jam berapa memangnya? " tanya Dinar menggeliat sambil menguap.
"kenapa nggak bilang kalau ngantuk, kan bisa tidur di kamar ku" Aldrich melirik jam yang melingkar di lengannya "sudah jam empat, ayo kita ke rumah mommy" Aldrich menarik tangan sang istri agar segera berdiri.
"kita nggak pulang ke rumah dulu mas? "
"nggak usah, nanti kamu kecapekan di jalan kalau harus bolak balik "
"ya sudah kalau begitu" Dinar tak membantah sebab tanpa pulang mengambil pakaian pun, di rumah mertuanya masih ada baju bajunya yang sengaja di tinggal.
Dinar lantas berdiri, ia hendak merapikan meja yang berantakan karena camilannya, namun Aldrich melarangnya. ia tak ingin istrinya kelelahan.
kini Aldrich dan Dinar telah keluar dari lift, mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar. para karyawan yang melihat Aldrich berjalan dengan istrinya itupun langsung menunduk ada juga yang menyapanya, dan hal itu membuat Dinar tampak segan.
"kan memang suami mu ini presdir sayang" jaeab Aldrich.
"iya juga ya... " Dinar seakan lupa jika suaminya adalah pemilik perusahaan besar di hadapannya itu.
***
Di kediaman utama, seluruh anak anak mommy Citra di minta untuk datang ke sana malam ini, selain untuk acara makan malam bersama, mommy Citra juga hendak membicarakan suatu hal yang mengharuskan mereka berkumpul semua.
Bella, Azura dan juga Cia yang memang tidak bekerja di kantoran pun siang itu langsung ke rumah utama sesaat setelah mendapat panggilan dari mommy Citra, berbeda dengan Dinar yang sore ini datang bersama sang suami.
Aldrich dan Dinar telah sampai di kediaman utama, keduanya bergegas masuk setelah Aldrich memarkirkan mobilnya.
"ramai sekali mas, kayaknya kita yang dateng paling akhir" ucap Dinar ketika ia masuk ia mendengar suara ipar iparnya.
"palingan juga kak Bella dan Zura yang duluan datang"
"assalamu'alaikum mom" salam keduanya krtika mrlihat mommy Citra tengah mrnggendong cucunya.
"wa'alaikumsalam, mantu mommy, tumben barengan? " tanya mommy Citra
"iya, tadi Dinar kebetulan lagi ke kantor mas Al, trus bareng deh kesininya" jawab Dinar, ia kemudian menghampiri ipar iparnya
"kak Bell, Zura, Cia... " mereka cipika cipiki kemudian duduk bersebelahan.
sementara Aldrich duduk di samping sang ibu.
"tumben mommy minta kami kumpul dadakan, ada apa, bukan masalah serius kan? " tanya Aldrich.
"bukan, hanya pembicaraan biasa, nanti saja kita bahas sekalian nunggu daddy sama ipar ipar kamu, mereka belum datang" jawab mommy Citra
"oh begitu, ya sudah aku ke kamar dulu masu bersih bersih". " hei keponakannya om, om ke kamar dulu ya" Aldrich mengecup keisya yang berada di pangkuan sang ibu.
"sayang, ayo kita mandi dulu baru lanjut lagi ngobrolnya" Aldrich berdiri, ia juga mengajak Dinar untuk bersih diri terlebih dahulu.
Dinar yang asik dengan iparnya pun mengangguk, ia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri sang suami.
Malam pun tiba, kini semuanya tengah duduk di kursi makan menikmati masakan mommy Citra yang sangat enak, bahkan hampir semuanya nambah sebab memang masakan mommy Citra adalah yang berbaik.
setelah selesai makan, daddy Marcello meminta semuanya untuk ke ruang keluarga sebab ada yang hendak ia sampaikan.
semuanya telah berkumpul di ruang keluarga dengan banyak pertanyaan di kepalanya, mereka mencoba menerka nerka, hal apa yang membuat daddy Marcello sampai mengumpulkan semua anggota keluarganya, namun berbeda dengan Azzam, pria itu justru senyum senyum sendiri seolah tahu akan hal apa yang hendak di sampaikan oleh daddy Marcello.