OH MY WIFE

OH MY WIFE
32



Al menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa gesa setelah mengetahui di mana letak kamar rawat inap opa Bagas. dari kejauhan Al melihat Azzam tengah duduk dengan tangan menopang kaki sembari menunduk di depan ruangan opa Bagas. perasaan bercampur aduk melihat sang adik yang nampak frustasi seperti itu, pikirannya berkenana memikirkan seauatu hal buruk yang terjadi kepada opanya. padahal yang sebenarnya menjadi pemicu sang adik frustasi bukan tentang opa, tetapi dirinya.


"bagaimana keadaan opa? " tanya Al yang kini sudah berada di depan Azzam.


"sudah lebih baik sekarang, ia hanya kelelahan karena terlalu memforsir semua kegiatannya padahal usianya kini sudah tak lagi muda. oh iya, bahkan mungkin dalam dua hari kedepan opa bisa pulang" jawab Azzam datar untuk menutupi kegugupannya karena telah membohongi sang kakak


"syukurlah, tapi aku lihat dari jauh kamu seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat sehingga terlihat frustasi. ada apa? " tanya Al


"ah, anu nggak ada apa apa kok. hanya lelah saja dari tadi mondar mandir terus" bohong Azzam


"ya udah kak Al masuk aja, semuanya lagi ada di dalam nemenin opa" sambungnya.


Al pun mengangguk kemudian segera meraih gagang pintu kemudian membuka dan masuk menghampiri opanya. sedangkan Azzam nampak menghembuskan nafasnya lega sembari mengucapkan syukur.


Setelah masuk ke ruangan opa Bagas, Al pun tercengang melihat opanya yang nampak biasa saja, bahkan tak ada raut wajah pucat layaknya orang sakit, lantas apa yang membuat opanya mencari dirinya.


karena tak ingin terlalu banyak menduga, Al segera menghampiri opanya.


"opa..." Al mendekat sembari tersenyum kemudian menyalami satu persatu keluarganya.


"kamu datang Al, kata mommy mu, kamu sedang pergi bersama teman teman mu? " tanya opa Bagas


"iya opa, memang kemarin aku pergi bersama teman ku, tapi begitu Al mendapat kabar bahwa opa sakit dan mencari Al, Al langsung kembali pulang" jawab Al


opa Bagas nampak bingung mendengar jawaban dari Al karena ia merasa tak pernah mencari Al, kemudian opa menoleh ke arah istrinya untuk mencari jawaban namun sang istri justru mengangkat bahunya sembari menggeleng.


"maksudnya?. opa nggak pernah nyariin kamu lo Al, malah tadi mommy kamu sendiri yang ngasih tahu opa lebih dulu " ujar opa Bagas


"loh, tadi siang di telepon kata Azzam opa nyariin Al. makanya Al langsung gegas pulang karena khawatir sama opa, barangkali kan mau ngasih Al warisan" celutuk Al


"oh jadi kamu nyumpahin opa mu ini cepet di kubur gitu, orang masih sehat seger gini malah mikirin warisan, mau kamu opa kutuk jadi batu" geram opa sembari menjewer teling Al


"a aa... sakit sakit. opa mana bia ngutuk Al, kan Al bukan malin kundang" seru Al. mendengar hal itu opa Bagas kembali menarik telinga Al hingga memerah


"a-ampun opa, ampun ampun, bukan gitu maksud Al, a a aa sakit sakit. " Al mencoba melepas tangan opa Bagas yang tengah menjewernya. sedangkan yang lain terkekeh geli melihat keduanya.


"lalu apa maksud dari perkataan kamu tadi. mau kamu di coret dari data ahli waris hah" cerocos opa menuntut.


"bukan gitu opa, Al nggak ada maksud apa apa. cuma tadi karena terlalu terkejut jadi Al mikirnya kejauhan, sumpah opa.. " Al mengiba meminta agar telinganya di lepas jari jeweran tangan sang opa. setelah itu opa melepaskan tangannya pada telinga Al.


"untung kamu cucu ku, kalau bukan sudah opa lempar kamu ke handang harimau" seru opa Bagas.


dalam batin Al, ia mengumpat sang adik yang setengah setengah dalam memberinya informasi sehingga dirinya harus mendapatkan jeweran maut dari opa Bagas.


Bella dan Azura yang kebetulan masih menemani opa Bagas pun masih tertawa geli melihat telinga Al yang kini nampak memerah, hingga membuat Al seketika melirik keduanya dengan tajam.


"kalian belum ngerasain di jewer opa sih, makanya bisa tertawa seperti itu, coba saja kalau di jewer opa, pasti udah nangis tujuh hari tujuh malam"


"lebay kali lah kak, masak sampai nangis tujuh hari tujuh malam, nggak masuk akal" ujar Azura.


"coba saja kalau nggak percaya. tapi kalau udah di jewer, jangan ngeluh sama kakak"


"iihh.. nggak mau nggak mau. kan aku cucu yang baik, jadi nggak mungkin opa jewer aku" ujar Azura sembari menulurkan li dah nya ke arah Al, membuat seisi ruangan kembali tertawa melihat kakak beradik yang tengah berdebat itu.


sementara di luar ruangan nampak Azzam tengah menelepon seseorang


"apa, yang benar saja kamu, nggak mungkin lah itu bisa terjadi" seru Azzam


"........."


"baiklah, aku tunggu bukti buktinya, besok kamu antar ke ruangan kerja ku di kantor" Azzam kembali menyahuti. setelah itu ia memutus sambungan teleponnya.


Al yang kebetulan baru keluar ruangan pun menghampiri Azzam berniat untuk memberi adik laki lakinya itu pelajaran.


pletak


satu jitakan mendarat ke arah kepala Azzam membuatnya langsung beringsut memegangi kepalanya.


"apaan sih kak" gerutu Azzam mendengus kesal


"kamu yang apa apaan, bilang kalau opa nyariin aku, padahal aslinya enggak. kau tahu tadi aku kena jewer opa gara gara salah bicara" seru Al


"lah, yang salah bicara kak Al, kenapa aku juga yang kena Jitakan"


"biarin, biar sama sama ngerasain rasa sakitnya. emang enak kena jitak, itu masih nggak seberapa di banding jeweran maut opa"


"gitu aja bagi bagi penderitaan, nggak kasihan apa sama adiknya"


"enggak sama sekali. oh ya dan satu lagi. perjanjian kita waktu itu batal. aku anggap tidak ada perjanjian apapun di antara kita berdua" seru Al kemudian meninggalkan Azzam tak menganga tak percaya.


'yaahh, gagal lagi manfaatin kak Al' Seru Azzam lesu. memang biasanya ketika Al membuat perjanjian dengan Azzam, maka Azzam akan meminta suatu barang yang harganya fantastis sehingga ia dapat mempunyai barang mahal tanpa mengeluarkan satu rupiah pun uang yang ia simpan, namun kini harapannya seketika musnah karena ia mengerjai sang kakak.


Al dengan perlahan melangkahkan kakinya menuju kantin karena perutnya merasa lapar. sebab tadi siang ia hanya makan sedikit sehingga sore hari ia sudah merasa lapar.


terlebih di dalam perjalanan menuju Jakarta tadi ia tak sempat membeli makanan karena uang yang ia bawa telah habis untuk mahar pernikahannya dengan Dinar. bahkan biaya transportasi menuju Jakarta tadi siang, Dinarlah yang membayarnya. baru setelah sampai Jakarta, Al bisa mengambil uang di ATM karena memang kebetulan tempatnya dekat dengan terminal.