
Kini mommy Citra, daddy Marcello dan yang lainnya memilih mendudukkan diri di sofa ruang tengah sembari menunggu Al dan gadis itu keluar menghampiri mereka.
mommy Citra tak sampai hati jika harus marah kepada sang putra, namun kali ini tindakannya bukan hanya membuat dirinya kecewa namun juga merasa tak berguna sebagai seorang ibu karena tak dapat menuntun sang putra ke jalan yang benar. ia ingin sekali langsung mengha jar sang putra saat ini juga namun ia belum mendengar alasan yang sebenarnya yang membuat putra pertamanya itu membawa seorang gadis di apartemennya.
apapun tindakan Al, jika ia sampai ti dur dengan seorang gadis yang bukan harhamnya, hal itu tidak bisa di benarkan oleh mommy Citra.
tak berselang lama setelah daddy Marcello keluar kamar, Al juga turut keluar kamar bersama Dinar dengan memapahnya meskipun Dinar sudah memakai kruk.
perlahan Al mendekat ke arah keluarganya yang sama tengah memandang ke arahnya dan Dinar. begitu ia sampai di ruang tengah, dengan cepat mommy Citra meminta keduanya untuk duduk di hadapannya.
"duduklah... " ucapnya singkat.
mommy Citra yang tadi belum sempat mengamati wajah Dinar pun kini mulai menatap wajahnya, ia terkejut karena gadis yang bersama sang putra ialah gadis yang hendak ia kenalkan pada putra pertamanya itu.
"Dinar" serunya lirih menatap Dinar, sedangkan Dinar yang sedari tadi menunduk pun langsung mendongak menatap Mommy Citra yang tengah menatapnya.
"ta-tante.. " lirihnya terkejut
"apa kamu kenal dengan gadis itu sayang? " tanya daddy Marcello kepada sang istri.
"ya, aku kenal. kau tahu mas, dialah gadis itu" ucapnya menjawab pertanyaan sang suami.
daddy Marcello mengangguk, ia paham yang di maksud sang istri adalah 'gadis itu' adalah gadis yang hendak di jodohkan dengan Al, ia tak ingin gegabah dan lepas kendali sebelum mendengar penjelasan dari putranya.
suasana malam itu nampak mencekam padahal lampu di ruangan itu sudah di nyalakan, Al dan Dinar menunduk, Dinar mengeratkan pegangannya pada kruk yang ada di tangannya, Dinar bingung mengatasi hal ini sebab hanya Al lah yang bisa menjelaskan kepada keluarganya karena dia yang paham sifat keluarganya, sementara Dinar, ia sama sekali belum pernah menjumpai keluarga Al selain Azzam dan juga mommy Citra
mommy Citra terus menelisik gelagat Dinar yang terlihat cemas, pun, ia sampai melihat ke bawah, ia melihat kaki Dinar yang masih di perban. mungkin itu alasan Dinar tak ingin berkunjung ke kediamannya, namun yang jadi masalah, bagaimana bisa gadis sebaik Dinar bisa berada dalam satu kamar bersama pria lajang yang belum menikah.
Al menghembuskan nafasnya pelan, ia menoleh sebentar ke arah sang adik, Azzam, kemudian memandang mommy dan daddy nya bergantian.
"dad, mom... " panggil Al, namun keduanya bergeming, masih terus menatap kecewa ke arah putranya.
"bisa jelaskan kepada kita semua apa yang sebenarnya terjadi son? " tanya momny Citra. ia ingin semua segera di selesaikan malam itu juga.
"mom, dad.. kenalkan gadis di samping Al ini namanya Dinar" ucap Al seraya menggenggam erat jari jemari Dinar
"mom, dad. Al harap mommy dan daddy tidak lebih dulu berpikir buruk mengenai Dinar, karena memang kenyataannya tidak seperti yang kalian pikirkan " ucap Al, ia merogoh saku cela na pendeknya kemudian mengeluarkan sesuatu dan di sodorkan kepada mommy dan daddynya.
Sementara mommy Citra menerima pemberian Al dengan ragu, ia bingung sebab putranya memberikan dirinya buku nikah, ia bertanya tanya dalam hati, buku ni kah milik siapa yang di berikan oleh Al untuknya.
"ini, bagaimana bisa?" tanya mommy tercekat ketika membuka dan membaca nama pengantin yang tertulis disana
"ya mom, kami baru saja menikah, Dinar adalah istri Al" ucap Al
duuaarr
seolah ada sesuatu yang keras tengah menghantam dirinya hingga membuat mommy Citra merasa sesak. ia tak menyangka, untuk yang ke sekian kalinya, sang putra menyimpan rahasia yang begitu besar dari keluarganya seolah keluarganya itu tidak ada artinya apa apa di matanya.
bahkan saudara saudari Al pun tercengang mendengar pernyataan yang di lontarkan Al, pasalnya mereka tahu jika Al adalah seorang pria yang susah move on, atau bisa di bilang gagal move on. tapi tak di sangka jika ternyata kini dirinya bahkan sudah menikah.
"sudah berapa lama kalian menikah? " tanya daddy Marcello. meski terkejut akan pernyataan sang putra, setidaknya kini ia bisa sedikit lega sebab putranya tidak seperti yang ia pikirkan beberapa saat yang lalu
"baru dua minggu ini dad" jawab Al.
"dua minggu? dua minggu itu waktu yang lama Al, kenapa kamu tak kunjung memberi tahu mommy, dan justru menyembunyikan istri kamu disini, kamu tahu, mommy sampai pusing mikirin cara agar kamu bisa kenalan dengan Dinar, tapi kini ternyata kalian malah sudah menikah" mommy Citra memijit pelipisnya yang berdenyut, sungguh, semarah apapun dia kepada anak anaknya, ia tetap saja tak bisa bersikap kasar, tapi kini ia ingin sekali ia melempar putranya itu di kandang buaya karena telah menyembunyikan hal besar darinya.
"jelaskan kepada kami, kenapa kalian sampai menikah diam diam seperti ini, bahkan sampai dua minggu pernikahan kalian tetap diam saja" seru daddy Marcello
Al mengangguk kemudian mulai menceritakan awal mula ia bertemu dengan Dinar, negosiasi alot mengenai pacar pura pura, kemudian ikut pulang kampung, hingga saat mereka di gerebek warga hingga di paksa menikah. semuanya Al jelaskan panjang lebar agar semua keluarganya tahu cerita yang sebenarnya seperti apa.
"jadi begitulah cerita awalnya dad, tapi daddy tenang saja karena kami menikah sah secara agama dan negara. kami juga mulai belajar saling mencintai satu sama lain. kalau tidak percaya, bisa tanyakan langsung ke Azzam, ia yang sudah membantu aku buat ngurus buku nikah kami"
semua yang di dalam ruangan itu melongo tak percaya mendengar cerita yang baru saja di ucapkan oleh Al, kemudian pandangannya beralih ke Arah Azzam yang seperti kucing yang kepergok tengah mencuri ikan di dapur.
"Azzam juga tahu tentang pernikahan Al? " tanya Bella, ia ingin diam saja, akan tetapi bi birnya sangat sulit sekali di kontrol
"y-ya kak Bell. t-tapi sebelumnya aku udah bolak balik ngasih tahu kak Al buat ngomong ke mommy dan daddy kalau ia sudah menikah, tapi sepertinya ia belum berani bilang ke mommy, daddy. kalaupun aku bilang, pasti nggak akan ada yang percaya karena mengingat kak Al yang sulit di dekati wanita, makanya aku bantuin kak Al buat bikin buku nikah, setidaknya jika mereka ketahuan kalian seperti ini, mereka bisa menunjukkan bukti jika mereka sudah menikah" jawab Azzam tergagap. karena ketika ia menjawab pertanyaan kaka perempuannya itu, ia justru mendapatkan pelototan mata dari Al.